Harga Sebuah Daster

Harga Sebuah Daster
Bab 69 Pesan Terakhir Apandi


__ADS_3

Hari-hari pun terus berlalu, waktu pun terus berputar. Tiga tahun pun telah dilewati dengan baik. Kini bayi-bayi menggemaskan itu sudah menjadi anak balita yang lucu-lucu. Semenjak kejadian rekayasa data keuangan oleh Reina dulu, akhirnya Amanda kembali bekerja di konveksi miliknya yang semakin hari semakin berkembang pesat.


Hari ini bertepatan dengan anniversary pernikahan Gilang dan Amanda, mereka merayakan anniversary pernikahannya sekaligus merayakan berubahnya status konveksi Amanda. Yang tadinya hanya berbentuk persekutuan komanditer (CV) kini akan berubah menjadi perusahaan terbatas (PT) dengan pemegang saham terbesar Amanda dan Gilang.


Gedung untuk tempat usaha Amanda pun kini sudah berpindah ke tempat yang lebih besar dan luas. Tidak jauh dari perusahaan Green Textile. Gilang sengaja mencari tempat yang lebih dekat dengan perusahaanKeinginannya, agar dia lebih mudah bertemu dengan istrinya. Karena semakin hari, papa lima anak itu semakin lengket pada istrinya. Apalagi sekarang Amanda sudah terbiasa memakai skin care membuat kulitnya terlihat lebih kinclong dan kenyal.


"Sayang, coba kamu makan cup cake ini. Rasanya enak sekali," ucap Gilang dengan menyuapi istrinya satu buah cup cake.


Amanda hanya menurut apa yang Gilang katakan. Lelaki yang sudah menjadi suaminya selama kurang lebih lima tahun itu, tidak pernah bosan memperlakukannya dengan istimewa. Membuat Amanda tidak henti-hentinya mengucapkan syukur karena akhirnya berjodoh dengan laki-laki yang tepat untuknya.


"Makasih Papa," ucap Amanda dengan tersenyum manis.


"Pengantin lawas masih saja mesra nih," goda Rama dengan merangkul pinggang Tania.


"Kayak kamu yang nggak aja," sanggah Gilang.


"Oh iya, tadi aku lihat ada mantan suami Amanda datang ke sini bersama dengan seorang wanita." Rama sesekali mencium pipi istrinya yang terlihat mengembang karena sekarang dia sedang hamil anak keduanya.


"Mau apa dia kemari? Bukankah aku tidak memberikan undangan padanya?" tanya Gilang heran.


"Ketemu mantan istri, mungkin," celetuk Rama dengan cueknya. Namun tidak bagi Gilang, karena kini seperti ada asap yang keluar dari kepalanya.


"Aku tidak menerima kedatangannya," ketus Gilang.


"Maaf Pak Gilang, kalau kedatangan kami membuat Anda terganggu. Saya hanya ingin mengucapkan selamat atas keberhasilan yang kalian raih. Semoga usahanya semakin maju dan pernikahan kalian langgeng. Anda tidak usah khawatir, saya tidak ada niat untuk mengambil Amanda kembali. Karena saya tahu, Andalah yang bisa membahagiakannya. Hanya saja, saya ingin menitipkan anak-anakku pada Anda. Tolong sayangi mereka, karena saya sudah tidak memiliki banyak waktu lagi." Apandi menundukkan kepalanya dengan setetes air mata yang memaksa keluar dari pelupuk matanya.

__ADS_1


"Mas Pandi kenapa? Kenapa bicara seperti itu?" tanya Amanda kaget, sedangkan Gilang hanya diam memperhatikan ekspresi mantan suami istrinya.


"Pak Apandi terkena kanker paru stadium empat. Kesempatan hidupnya sudah menipis. Tolong kepada ibu bapak di sini untuk bisa memaafkan pasien saya. Tadi dia memaksa meminta ijin kepada saya untuk bisa melihat kesuksesan mantan istrinya, sekaligus berpamitan pada anak-anaknya jika sewaktu-waktu Tuhan memanggilnya," ucap wanita cantik yang ternyata seorang dokter.


Amanda langsung menutup mulutnya tidak percaya dengan apa yang didengarnya. Dia tidak tega melihat mantan suaminya yang dulu gagah kini menjadi seorang pesakitan. Meskipun dadanya terasa sesak, tetapi Amanda tidak mungkin memperlihatkan di depan suaminya yang posesif.


"Insya Allah aku sudah memaafkan semua kesalahan Mas Pandi baik yang disengaja ataupun tidak. Tapi aku berharap, Mas Pandi tetap bertahan untuk Kia dan Azka. Mereka masih membutuhkan, Mas." Amanda langsung memeluk Gilang yang ada di sampingnya.


"Terima kasih, Manda. Boleh aku bertemu dengan Kia dan Azka?" tanya Apandi.


"Tentu saja, Mas. Tidak akan ada yang bisa memutuskan hubungan darah diantara kalian, sekalipun aku sebagai ibunya." Amanda langsung meminta Rama untuk memanggil Kia dan Azka.


Melihat kehadiran ayahnya, Kia langsung berlari dan menghambur ke pelukan Apandi. Dia begitu merindukan ayahnya yang sudah hampir satu tahun tidak datang menemuinya. Sementara Azka hanya mematung melihat kakak perempuannya sedang memeluk lelaki yang dia tahu sebagai ayahnya. Namun Azka tidak pernah merasa dekat dengan Apandi.


"Azka sini, Nak! Beri Ayah pelukan!" Apandi langsung merentangkan tangannya menyambut putra bungsunya. Azka pun akhirnya bergabung bersama kakak dan ayahnya. Mereka bertiga berpelukan membuat semua orang yang melihat menjadi terharu.


Melihat pasiennya seperti kehabisan napas, dokter yang mendampingi Apandi pun segera meminta Kia dan Azka untuk melepaskan pelukannya.


"Maaf, Dek! Ayahnya susah bernapas, saya mau membawanya kembali ke rumah sakit, permisi!" Dokter itu pun segera memanggil perawat yang datang bersamanya. Hanya saja mereka menunggu di mobil karena tidak enak memakai seragam kerja ke sebuah pesta perayaan.


Setelah kepergian Apandi, Kia yang masih tidak mengerti dengan apa yang terjadi langsung menghampiri Amanda dan bertanya, "Bunda, Ayah kenapa? Kho dibawa oleh mereka?"


"Ayah sedang menjalani perawatan jadi tidak boleh berada di sini lama-lama. Do'akan ayah agar cepat sehat kembali," ucap Amanda dengan lembut.


"Aamiin. Kia akan berdoa untuk kebaikan ayah, bunda , papa dan kita semua," ucap Kia.

__ADS_1


"Aamiin," Kompak Amanda dan yang lainnya.


...***...


Keesokan harinya, di sebuah pemakaman umum. Nampak ada gundukan tanah yang masih terlihat basah. Seonggok jasad tak bernyawa terbujur kaku di dalamnya. Setelah kemarin Apandi menemui Amanda dan anak-anaknya, malam harinya dia menghembuskan napas terakhirnya.


Amanda yang mendapat kabar tentang kematian mantan suaminya, segera mengajak Kia dan Azka untuk melayat ke rumah duka dan mengantarkan ayah mereka ke peristirahatan terakhirnya. Bagaimana pun juga Kia dan Azka harus tahu tentang keberadaan ayahnya.


"Ayah, kenapa tinggalin Kia? Padahal Kia ingin selalu bersama ayah dan Bunda. Tapi ayah malah pergi, hiks ... hiks ...hiks ...." Kia terus menangis di depan pusara ayahnya. Tidak ada yang bisa membujuknya termasuk Amanda dan Azka. Sampai akhirnya Langit datang menghampiri Kia yang masih menangis tersedu.


"Kia, kamu sayang kan sama ayah kamu?" tanya Langit.


"Iya," jawab Kia singkat.


"Kamu tahu, Ayah kamu kesakitan belakang ini karena penyakitnya. Sekarang ayah kamu sudah tidak merasa sakit lagi. Dia sedang tidur pulas. Jadi biarkan ayahmu beristirahat dengan tenang," ucap Langit.


"Benar Kak?" tanya Kia.


"Iya, kapan aku pernah membohongi kamu? Sekarang katakan, apa yang kamu inginkan? Nanti aku pasti kabulkan," tanya Langit.


"Kia ingin terus sama Kak Langit dan orang-orang yang Kia sayang. Kia tidak mau ditinggalkan lagi, seperti ayah meninggalkan Kia." Lagi-lagi Kia menangis terisak saat mengingat ayahnya.


"Kak Langit janji akan terus bersama Kia. Tapi sekarang kita harus pulang. Lihat langitnya mendung, sebentar lagi pasti turun hujan." Langit langsung menarik Kia agar mau berdiri dan pergi dari sana.


"Kak Langit tidak boleh ingkar janji, akan terus bersama Kia selamanya."

__ADS_1


...~Bersambung~...


__ADS_2