
Kehidupan Amanda yang sudah bisa dikatakan jauh lebih baik dari saat dia menjadi istri seorang jaksa muda, kini berbanding terbalik dengan kehidupan Apandi yang setiap bulannya selalu kelimpungan mencari pinjaman uang untuk mencukupi kebutuhan dua istrinya dan juga ibunya sendiri. Untung saja istri simpanannya tidak banyak menuntut seperti Citra yang harus serba branded. Apalagi, istri simpanannya itu menjadi sering sakit setelah menikah dengan Apandi. Sampai-sampai Ina berhenti bekerja karena perutnya terus membuncit meski dia sedang hamil.
"Mas, jadi hari ini mengantar aku ke rumah sakit? Aku gak kuat, perutku sakit sekali!" keluh Ina saat Apandi datang berkunjung ke rumahnya.
"Ina, Mas belum dapat uangnya. Kemarin uang Mas diambil semua oleh Citra," sesal Apandi. Dia merasa heran kenapa disaat dia sedang asyik bermain dengan mainan barunya, tiba-tiba istri simpanannya sering mengeluh sakit.
"Lalu aku bagaimana, Mas? Apa Mas tega melihat kesakitan?" tanya Ina sendu.
"Kamu minta tolong saja pada kakakmu! Aku pusing mengurus dua istri yang selalu menuntut aku," kesal Apandi kemudian berlalu pergi meninggalkan Ina sendiri.
Ya Tuhan, Ampuni semua kesalahanku. Andai aku masih bisa memilih, aku ingin berpisah dengan suami yang tidak bertanggung jawab itu, batin Ina.
Apandi langsung memacu mobilnya dengan kecepatan tinggi. Dia sengaja ingin pulang cepat karena tadi Ina terus menelponnya terus-menerus mengeluh sakit, sehingga dia tidak bisa berkonsentrasi dalam pekerjaannya. Pada akhirnya Apandi memutuskan untuk segera pulang. Namun, entah kenapa saat dia sampai di rumah kontrakan istri simpanannya, Apandi mendadak merasa kesal.
Jarak yang tidak terlalu jauh, membuat jaksa muda itu tidak membutuhkan waktu lama untuk sampai di rumahnya bersama dengan Citra. Keningnya sedikit mengkerut saat melihat gorden kamarnya tertutup rapat. Apandi yang memiliki kunci cadangan rumahnya, segera membuka pintu rumah yang dalam keadaan terkunci rapat. Perlahan dia membuka pintu, sampai tanpa sengaja pendengarannya menangkap suara lenguhan kenikmatan yang berasal dari kamarnya.
Apandi terus berjalan perlahan mengikuti arah suara yang terdengar semakin jelas di telinganya. Dadanya bergemuruh hebat, mendengar suara racauan Citra yang menyebut nama rekan kerjanya.
"Mas Roni, ah ... Kamu perkasa sekali ... Ah ... Kamu lebih kuat dari dia."
Brak!
Apandi langsung mendobrak pintu kamarnya yang tidak tertutup rapat. Terlihat dengan jelas penyatuan Citra dan Roni yang sedang asyik memompa di atas tubuh istrinya. Apandi langsung menarik Roni dan melayangkan bogeman mentah di perut rekan kerja sekaligus sahabatnya itu.
Bugh bugh!
__ADS_1
Apandi terus membabi buta Roni yang tidak siap dengan bogeman sahabatnya, sehingga dia langsung tersungkur di lantai. Sementara Citra langsung memunguti pakaiannya dan memakainya secepat mungkin. Setelah dia berpakaian lengkap, Citra pun segera menolong Roni.
"Kamu apa-apaan, Mas? Datang-datang langsung membuat keributan," geram Citra,
Sret
Plak plak
Apandi yang sedang dikuasai emosi bertambah emosi saat melihat Citra yang malah menolong selingkuhannya. Dia pun langsung menarik Citra dan menampar pipinya bolak balik.
"Kamu, istri tidak tahu diri! Aku banyak berkorban untukmu tapi kamu malah berselingkuh dengan sahabatku. Aku menceraikanmu sekarang juga. Keluar kalian berdua dari rumahku!" usir Apandi dengan menyeret Roni dan Citra.
"Mas, apa-apaan kamu? Kamu menikah lagi dengan pemandu karaoke itu, aku diam saja. Tapi sekarang aku hanya bermain-main dengan Mas Roni, kamu langsung menceraikan aku. Kamu egois, Mas!" bentak Citra.
"Aku laki-laki Citra, sedangkan kamu perempuan yang akan bingung menentukan ayah dari anakmu saat nanti kamu hamil. Aku juga tidak suka memakai satu lubang rame-rame," geram Apandi.
Roni yang sedang merasakan sakit di sekujur tubuhnya ditambah lagi karena hasratnya yang tidak tuntas membuat dia hanya pasrah dengan apa yang Apandi lakukan. Namun, baru saja Apandi menariknya dengan paksa keluar dari kamar dengan kondisi tubuh yang toples. Roni memiliki cara untuk menghentikan tindakan sahabatnya.
"Pandi, berani kamu mengusirku, aku akan menagih hutangmu yang dua puluh juta padaku sekarang juga atau aku akan meminta orang untuk mengambil semua barang berharga yang kamu miliki, termasuk istrimu." Roni mengancam balik Apandi yang sedang dikuasai oleh emosi.
"Ambil saja, Ron! Aku sudah menceraikannya dan untuk hutangku yang dua puluh juta, kamu bisa tagih sama dia. Bukan aku yang memakai uang itu tapi dia," tunjuk Apandi pada Citra.
Mendengar keributan di rumah tetangganya, Pak RT yang kebetulan ada di rumah langsung menuju ke rumah Apandi. Namun, betapa kagetnya dia melihat ada seorang lelaki dewasa yaan tidak memakai baju di rumah Apandi. Apalagi belalainya bergelantungan dengan bebas.
"Astagfirullah, Mas Pandi! Apa yang terjadi?" tanya Sukri, ketua RT di komplek Apandi. "Masnya cepat pakai baju dulu biar tidak masuk angin."
__ADS_1
Saat Apandi akan bicara, terdengar suara ponselnya berbunyi. Dia langsung mengangkat panggilan telepon saat dilihatnya nama 'Ina' tertera di sana.
"Hallo, ada apa lagi, Na? Aku lagi di rumah," tanya Apandi.
"Ini Nino, Mas! Ina masuk rumah sakit, tadi aku ke rumahnya dia sudah pingsan. Sekarang aku sedang di IGD," sahut Nino di seberang sana.
"Apa? IGD?" Apandi langsung mencengkeram rambutnya kuat.
Dia merasa pusing benar-benar pusing dengan hidupnya yang menjadi berantakan. Terkadang, dia sangat menyesal telah berpisah dan menyakiti Amanda. Sementara Citra hanya tersenyum miring saat samar-samar mendengar pembicaraan Apandi di telepon.
Habiskan saja uangmu untuk berobat ke dokter, tapi penyakitmu tidak akan sembuh. Rasakan pembalasanku karena kamu telah merebut suamiku. Untuk Mas Pandi juga, selamat menikmati ditinggalkan oleh semua orang. Aku sudah tidak butuh suami yang tidak bisa mencukupi kebutuhanku. Masih ada Mas Roni yang bisa ku keruk uangnya dan mister-mister kesepian yang menjadi langgananku, bisik hati Citra.
Memang, Citra terus berpura-pura tidak tahu kalau Apandi menikah lagi. Namun, dibelakangnya dia mengerjai istri simpanan Apandi dengan cara halus yang susah diprediksi oleh manusia awam. Citra juga sering pergi janjian lewat aplikasi dengan orang yang membutuhkan jasanya untuk menemani pria-pria kesepaian, di saat Apandi tidak pulang ke rumah.
"Pak RT, tolong urus pasangan tidak senonoh ini yang telah berbuat hal yang menjijikan di rumahku. Aku juga sudah menceraikan Citra. Kalau nanti dia datang ke sini tolong jangan diperbolehkan masuk ke dalam rumah," pesan Apandi pada ketua RT setempat
"Baik, Mas Pandi! Mbak Citra dan Masnya mari ikut saya ke kantor kelurahan," ajak Pak RT pada Citra dan Roni.
"Pak, saya tidak melakukan apapun, Mas pandi hanya salah paham," bela Citra.
"Mbak Citra mau datang baik-baik ke kantor kelurahan atau mau diarak oleh warga. Harusnya Mbak Citra melakukan hal tidak baik itu di hotel bukan di rumah yang nantinya akan menjadi mudharat untuk tetangga yang tidak tahu apa-apa."
...~Bersambung~...
...Dukung terus author ya kawan! Klik like, comment, vote, rate, gift dan favorite....
__ADS_1
...Terima kasih!...