Harga Sebuah Daster

Harga Sebuah Daster
Bab 18 Kerjasama


__ADS_3

Mentari bersinar begitu cerah membawa seberkas harapan pada insan yang tidak pernah lelah untuk selalu berusaha. Terlihat Amanda sudah berdandan rapi dengan blazer dan celana kerja yang sudah lama tidak dipakainya. Karena hanya sebagai pengisi lemari bajunya.


Wajah yang biasa polos, kini terlihat lebih fresh dengan sentuhan make up tipis. Bulu mata yang selalu tampil alami, kini sudah terlihat lebat dan lentik dengan sedikit sentuhan maskara dan eyeliner. Tak ketinggalan pula alis yang sudah terlihat cukup rapi, kini terlihat semakin indah dengan goresan pensil alis yang berwarna coklat. Jangan lupakan bibir tipis yang selalu tersenyum tulus itu, kini terlihat begitu menggoda dengan sentuhan lipstik yang berwarna merah maroon.


Bu Isah tersenyum saat melihat Amanda keluar dari kamar dengan tampilan yang berbeda dari biasanya. Dia senang karena anak yang dulu pernah diasuhnya saat masih kecil, kini kembali bangkit setelah mengalami masa keterpurukannya.


"Neng Manda, cantik sekali! Mau ke mana?" tanya Bi Isah.


"Manda mau ke perusahaan Green Textile, Bi. Do'ain ya biar proposal yang Manda ajukan diterima." Amanda masih terlihat sibuk membereskan anak rambutnya yang menutupi mata.


"Pakai jepit rambut saja Neng, biar tidak menghalangi," saran Bu Isah.


"Ah iya, Bibi benar." Amanda kembali masuk ke dalam kamarnya untuk mengambil jepit rambut. setelah memasangkannya, Amanda pun bergegas keluar karena dia sudah janjian dengan Tania jam sepuluh di depan gerbang Green Textile.


"Bi, titip kakak dan dede ya! Manda berangkat dulu!" Setelah berpamitan dengan Bi Asih, Amanda langsung memacu motor maticnya. Hanya butuh waktu dua puluh menit, Amanda sudah sampai di depan pintu gerbang Green Textile. Dia segera melapor pada security dan tak lupa menghubungi Tania untuk memberitahukan tentang kedatangannya.


Setelah Amanda diberi kartu pengenal sebagai tamu, dia pun disuruh untuk menunggu di lobby perusahaan dengan diantar oleh security. Tak lama kemudian, Tania datang dengan terburu-buru menghampiri sahabatnya.


"Udah lama?" tanya Tania saat sudah ada di depan Amanda.


"Barusan, belum ada sepuluh menit." Amanda tersenyum manis pada sahabatnya.


Alhamdulillah, Manda sudah kembali seperti dulu. Meski tidak menor, seenggaknya dia mau sedikit berdandan, batin Tania.


"Sudah yuk! Aku sudah bilang sama A Rama kalau kita mau ngajuin proposal hari ini. Aku suruh kamu datang jam sepuluh, karena itu sengaja A Rama mengosongkan jadwalnya untuk kita. Semoga berhasil ya!" Tania langsung menarik tangan sahabatnya menuju ke lantai atas tempat di mana Gilang bekerja saat berada di pabrik Cikarang.


Sesampainya di sana, kedatangan mereka di sambut oleh Elisa. Sekertaris CEO yang terlihat begitu cantik dengan tubuh yang body gol. Namun sayang, Elisa suka judes dan sombong jika bertemu dengan karyawan atau staf yang biasa-biasa saja. Dia akan sangat ramah dan tersenyum manis jika bertemu dengan petinggi perusahaan.


"Permisi, Mbak! Aku mau bertemu dengan Pak Gilang," ucap Tania.

__ADS_1


"Apa sudah bikin janji?" ketus Elisa dengan melirik Amanda dan Tania sekilas.


"Udah, Mbak! Coba saja Mbak Elisa bilang kalau Tania sudah ada di depan," ucap Tania.


Tanpa bicara lagi, Elisa langsung menghubungi Gilang dan memberitahu tentang kedatangan Tania. Setelah mendapat perintah dari bosnya, barulah Elisa bicara pada Tania.


"Masuk saja, bos sudah menunggu." Elisa kembali melanjutkan pekerjaannya tanpa menghiraukan keberadaan Tania dan Amanda.


"Makasih, Mbak!" ketus Tania langsung berlalu pergi menuju pintu ruangan Gilang.


Saat Tania akan mengayunkan tangannya untuk mengetuk pintu, terdengar suara pintu yang dibuka dari dalam. Nampak Rama sudah tersenyum cerah menyambut kedatangan pujaan hatinya. Yang dibalas cengengesan oleh Tania.


Untung saja tanganku belum sampai pintu. Bisa-bisa A Rama kepalanya kena ketok tanganku, batin Tania.


"Ayo masuk!" ajak Rama.


Tania pun langsung menarik tangan Amanda yaang sedari diam seribu bahasa. Entahlah, amanda merasa gugup untuk mengajukan proposal kerjasama pada perusahaan besar. Mengingat konveksi yang dimilikinya hanya berskala kecil.


Amanda melihat ke arah Tania kemudian mengulas senyum dan menganggukkan kepalanya pertanda kalau dia sudah siap bertemu dengan bos Green Textile.


"Selamat pagi, Pak! Maaf sebentar meminta waktunya," ucap Amanda saat sudah ada di depan Gilang yang sedang sibuk dengan monitor di depannya.


Gilang mengangkat kepalanya melihat seseorang yang berbicara di depannya. Dalam beberapa detik, Gilang sempat terpaku melihat Amanda yang berdiri di depan mejanya karena Tania dan Rama sudah terlebih dahulu duduk di sofa yang ada di ruangan itu.


"Iya, silakan duduk!" ucap Gilang.


Amanda langsung menggeser kursi yang ada di depannya kemudian dia pun mendudukinya.


"Sebenarnya, kedatangan saya ke sini untuk mengajukan kerjasama dengan perusahaan Green Textile. Untuk lebih jelasnya, Pak Gilang bisa mempelajari dari proposal yang saya bawa." Amanda memberikan proposal yang sedari tadi dia peluk di dadanya.

__ADS_1


Gilang langsung mengambil proposal yang Amanda berikan kemudian dia membacanya dengan teliti.


"Baik, saya terima proposal ini. Untuk keputusannya, nanti Rama yang akan memberitahukan kepada Anda karena saya perlu mengkaji ulang dengan pengajuan kerjasama yang Anda tawarkan." Gilang terus menatap Amanda dengan lekat. Membuat Amanda merasa kikuk dengan tatapan Gilang padanya.


Sementara Rama tersenyum puas melihat reaksi sahabatnya yang seperti terkesima dengan penampilan Amanda yang sederhana tapi terlihat elegan.


"Sayang, nanti kita bisa dobel date kalau si bos luluh sama sahabatmu," bisik Rama.


"Aku tidak keberatan bos jadian sama Manda, asal dia tidak seperti mantan suaminya dulu." Tania pun berbisik balik pada Rama.


Tanpa sengaja sudut mata Gilang melihat ke arah sahabatnya yang sedang bisik-bisik dengan kekasihnya, Gilang pun langsung angkat bicara.


"Rama, bukankah setelah ini ada pertemuan penting?" tanya Gilang untuk menutupi rasa malunya karena merasa kepergok oleh Rama.


"Ada bos, setelah jam makan siang. Kita makan siang saja dulu. Jarang-jarang kan kita makan siang bareng," usul Rama.


"Terserah," jawab Gilang, "Mbak, untuk proposalnya bisa didiskusikan dengan asisiten saya," lanjutnya.


"Baik, Pak! Terima kasih untuk kesempatannya." Amanda berdiri dan menjulurkan tangannya mengajak berjabat tangan pada Gilang.


Gilang pun menyambut tangan Amanda untuk berjabat tangan dengannya. Meskipun awalnya dia merasa ragu jika harus bersentuhan dengan wanita. Namun tak urung dia menerimanya demi kesopanan.


Ada apa ini? Kenapa jantungku tiba-tiba berdegup dengan kencang saat bersentuhan dengannya? Apa dia memiliki sihir agar aku mendekat padanya? batin Gilang.


"Rama, carikan tempat yang lebih besar untuk usaha konveksi yang akan kita rilis." Tanpa sadar Gilang bicara pada Rama dengan tidak mengalihkan pandangannya dari mata Amanda yang bersinar seperti berlian hitam.


...~Bersambung~...


...Dukung terus Author ya kawan! Dengan klik like, comment vote rate gift dan favorite....

__ADS_1


...Terima kasih!...


__ADS_2