Harga Sebuah Daster

Harga Sebuah Daster
Bab 47 Pamit


__ADS_3

Kebahagiaan Amanda dengan keluarga barunya, berbanding terbalik dengan Apandi yang sedang jungkir balik menata kembali hidupnya. Setelah pertemuannya dengan Ustadz Jalal, Apandi pun mengikuti apa yang dikatakan oleh Pak Ustadz. Melihat kesungguhan Apandi yang ingin merubah hidupnya, Ustadz Jalal pun membekali amalan pada Apandi untuk penjagaan dirinya dari segala ilmu sihir. Namun, sepertinya apa yang dilakukan Apandi tidak mendapatkan respon positif dari ibunya.


"Pandi, kamu untuk apa ke rumah Ustadz Jalal terus. Percuma kamu ingin balikan sama Amanda, lagian untuk apa kamu pakai acara berpisah dengan Citra segala." Bu Sopiah yang tidak tahu menahu dengan apa yang terjadi, terus saja menyayangkan perpisahan putranya dengan Citra.


"Ibu tidak tahu bagaimana Citra, makanya terus saja membelanya." Apandi langsung berlalu pergi ke kamarnya. Dia ingin sekali bertemu dengan kedua anaknya sebelum pergi dari kotanya.


"Bagaimana mau tahu kalau kamu sendiri tidak mau memberitahu tentang Citra," sungut Bu Sopiah.


Tak berapa lama kemudian, Apandi sudah rapi seperti akan pergi ke luar. Bu Sopiah yang melihat Apandi seperti akan pergi ke luar rumah, akhirnya agkat bicara.


"Pandi mau ke mana? Bukankah besok kamu mau perjalanan jauh? Sebaiknya kamu istirahat di rumah," tanya Bu Sopiah.


"Aku mau bertemu dengan Kia dan Azka. Pasti nanti lama tidak bertemu," jawab Apandi.


Gak apa lama tidak bertemu, yang penting kiriman tiap bulan lancar, batin Bu Sopiah.


Setelah berpamitan pada ibunya, Apandi langsung memacu mobilnya menuju ke sekolah Kia. Dia ingin menejmput Kia di sekolah barunya. Sesuatu yang belum pernah Apandi lakukan sebelumnya, kini dia lakukan sebelum ke kepergiannya ke tempat kerjanya yang baru.


Saat sampai di sana, terlihat anak-anak sekolah baru membubarkan diri setelah jam pelajaran sekolah berakhir. Apandi langsung menuju ke pintu gerbang untuk menunggu Kia keluar. Tak lama kemudian, dia melihat yang berjalan menuju ke pos satpam, tempat dia menunggu orang yang menjemputnya.


"Kia!" panggil Apandi.


"Ayah!" Kia langsung berlari menuju ke papanya. "Ayah ke mana aja? Kia kangen sama Ayah," lanjutnya.


"Ayah ke rumah tante Tania, tapi ternyata rumahnya kosong," ucap Apandi.


"Sekarang Kia tinggal di rumah Papa Gilang. Rumahnya gede, ada tamannya juga," terang Kia.


"Kia betah tinggal di sana?" tanya Apandi.


"Betah! Papa Gilang dan Kak Langit kan baik. Mereka sayang sama Kia," jawab Kia.


"Kia mau jalan-jalan sama Ayah, gak?" tanya Apandi.


"Mau, Yah!" sahut Kia dengan wajah berbinar.


Apandi langsung membawa putrinya ke mall terdekat. Ayah dan anak itu menikamti kebersamaan mereka yang sangat jarang terjadi. Sampai melupakan seseorang yang selalu pulang bersama dengan Kia.

__ADS_1


Kia yang bahagia bersama dengan ayahnya, berbeda dengan Langit yang begitu panik saat tidak menemukan Kia di pos satpam. Biasanya gadis kecil yang menjadi adik sambungnya itu selalu menunggu dia sampai jam belajar Langit berakhir. Bocah yang sebentar lagi berusia delapan tahun itu mukanya merah padam menahan kesal dan takut dimarahi oleh papanya. Dia sangat takut jika nanti papanya tidak percaya lagi sama dia.


"Pak, apa bapak tidak lihat adik aku yang nunggu di sini?" tanya Langit memastikan.


"Bener, Bapak tidak melihatnya duduk di sini." Pak Satpam pun membenarkan topinya yang miring.


Tak berapa lama kemudian, Gilang datang bersama dengan Amanda. Mereka heran melihat wajah Langit yang terlihat panik. Amanda pun segera menghampiri Langit dan memeluknya.


"Bunda, Langit minta maaf! Kia hilang," ucap Langit dengan suara serak.


"Kia tidak hilang, Nak! Tadi ayahnya Kia memberitahu Bunda, kalau dia mau mengajak Kia jalan-jalan sebelum pergi dari kota ini," jelas Amanda. "Makanya Bunda sengaja menjemput Langit, khawatir Langit mencari-cari Kia," lanjutnya.


Keterlaluan sekali kamu, Kia! Membuat aku terus mencarinya, batin Langit.


"Makasih, Bun!" Langit semakin mengeratkan pelukannya pada Amanda. Kini dia benar-benar merasa memiliki seorang ibu.


Gilang hanya tersenyum melihat kedekatan Langit dan istrinya. Meskipun di antara mereka tidak memiliki hubungan darah, tetapi seperti tidak ada kecanggungan di antara mereka.


"Sudah pelukannya! Giliran Papa, Lang." Gilang mengurai pelukan keduanya, membuat Amanda dan Langit menjadi kaget.


"Papa ganggu aja!" Langit merengut karena merasa terganggu.


"Kenapa? Langit tidak suka makan di rumah?" tanya Amanda yang menyadari putra sambungnya seperti kurang bersemangat.


"Langit ingin masakan Bunda," lirih Langit.


"Nanti buat makan malam, Bunda yang masak. Sekarang masakan bibi dulu ya! Maaf ya Sayang," sesal Amanda.


"Iya Bun!" jawab Langit.


Bukan hanya aku yang menjadi ketergantungan dengan Amanda, tapi Langit juga. Kamu memang candu dalam hidupku, Manda.


...***...


Saat hari suah menjelang sore, barulah Apandi mengantarkan Kia ke rumah Gilang. Namun, saat di jalan tanpa sengaja dia melihat Citra dengan seorang lelaki yang berwajah oriental. Apandi yakin, kalau lelaki yang bersama mantan istrinya itu pasti warga negara asing.


Untuk apa Citra ke hotel dengan lelaki itu? Andai saja aku tidak akan mengantar Kia, aku ingin tahu apa yang akan mereka lakukan di sana. Apa mungkin, sekarang dia sudah jadi ....

__ADS_1


Lamunan Apandi tersadar saat Kia menepuk tangannya menyuruh dia untuk belok ke kanan. Segera mungkin dia menyalakan lampu sen yang sebelah kanan karena pertigaan untuk berbelok ke kawasan perumahan Gilang tinggal seratus meter lagi.


"Ayah, kenapa melamun terus? Apa karena melihat Mama Citra? Kia sering lihat Mama Citra dengan om om tapi Kia tidak kenal sama Om itu," tutur Kia.


"Apa Om Roni, teman Ayah?" tanya Apandi.


"Pernah sama itu juga, tapi om-nya beda-beda." Kia menepuk dahinya dengan telunjuk seperti sedang berpikir.


Aku tidak menyangka, ternyata aku begitu bodoh karena telah meninggalkan keluargaku demi perempuan yang seperti itu. Ingin kembali pun aku sudah tidak punya kesempatan. Sekarang Amanda sudah menikah lagi, batin Apandi.


Tak lama kemudian, mobil Apandi sudah sampai di depan rumah Gilang. Pemandangan pertama yang Apandi lihat saat baru keluar dari mobil, sunggguh membuat hatinya terasa linu. Bagaimana tidak, dia melihat dengan jelas Amanda sedang dipeluk dari belakang oleh Gilang seraya bermain air bersama dengan dua bocah kecil, yang salah satunya adalah putranya sendiri.


"Ampun, Langit, Azka! Baju Bunda sudah basah kuyup begini. A tolong lepaskan!" pinta Amanda yg masih memeluk Amanda dari belakang agar tidak lari saat disemprot dengan air yg dari selang oleh Langit.


"Tidak bisa, Sayang! Kamu juga harus ikut basah bersama kita. Benar kan anak-anak?" Gilang meminta dukungan pada kedua putranya.


"Benar, Pah!" sahut Langit dan Azka kompak.


"Papa, Kia ikutan!" Kia langsung berlari menuju ke arah Gilang dan yang lainnya. Membuat mereka yang sedang bermain air menghentikan kegiatannya.


"A, lepas!" suruh Amanda pelan saat melihat kedatangan Apandi dan Kia.


Cup


Sebelum melepaskan pelukannya, Gilang mencium pipi Amanda sekilas, yang sukses membuat pipi istrinya langsung merona. Sementara Apandi yang melihat kemesraan mantan istrinya dengan keluarga barunya, hatinya langsung mencelos.


"Kalian lanjutkan saja, aku hanya mengantar Kia pulang. Azka, boleh Ayah minta peluk?" tanya Apandi.


Azka hanya mengikuti apa yang Apandi inginkan. Bocah kecil itu langsung menghampiri ayahnya yang berdiri di ambang pintu gerbang rumah Gilang.


"Azka jaga diri baik-baik ya, Nak! Ayah pamit besok mau ke luar kota," ucap Apandi setelah mencium pipi anaknya.


"Iya, Ayah!" sahut Azka


"Manda, Pak Gilang, aku titip anak-anak. Permisi!"


...~Bersambung~...

__ADS_1


...Dukung terus Authot ya kawan! Klik like, comment vote rate, gift dan favorite....


...Terima Kasih!...


__ADS_2