Harga Sebuah Daster

Harga Sebuah Daster
Bab 39 Makan Siang


__ADS_3

Matahari sudah tepat berada di atas kepala. Jam di dinding pun sudah menunjukkan angka dua belas. Namun, Amanda masih sibuk berkutat dengan pekerjaannya. Banyak dokumen yang membutuhkan tanda tangannya sehingga dia masih terlena dengan pekerjaannya. Sampai akhirnya, bunyi panggilan telepon membuyarkan konsentrasinya. Terlihat di layar ponsel sebuah nama yang sangat familiar baginya, 'Pak Bos GT' sedang memanggilnya untuk menerima telepon.


"Hallo, Assalamu'alaikum!" ucap Amanda sesaat setelah dia mengklik tombol telepon berwarna hijau.


"Wa'alaikumsalam, Manda ke kantor Aa ya! Tadi Aa sudah mengirim supir untuk menjemputmu," sahut Gilang di seberang sana. "Pekerjaanmu simpan saja dulu, Aa masih meeting jadi tidak bisa jemput sendiri," lanjutnya.


"Baiklah, A! Manda membereskan dokumen dulu," sahut Amanda dengan tangan yang tidak berhenti merapikan mejanya sebelum dia tinggalkan.


"Ya, sudah! Aa tunggu di sini, kalau Manda datang duluan, langsung masuk saja ke ruangan Aa ya!" pesan Gilang.


"Iya, A! Manda tutup dulu, ada yang mengetuk pintu. Assalamu'alaikum,"


"Wa'alaikumsalam," Gilang langsung memutuskan sambungannya setelah dia mengucapkan salam. Dia merasa kesal kerena Amanda malah menutup teleponnya. Padahal dia masih kangen dengan calon istrinya.


Setelah Amanda mempersilakan orang yang mengetuk pintu masuk, terlihat Pak Satpam menyembulkan kepalanya di balik pintu. Dia langsung masuk dengan tidak menutup pintu karena hanya sebentar ke ruangan bosnya.


"Permisi, Bu Manda! Supir Green Textile sudah menunggu di depan, katanya disuruh menjemput Ibu," ucap Narto.


"Tolong suruh tunggu sebentar ya, Pak!" suruh Amanda.


"Baik Bu, permisi!"


Setelah Narto pergi, Amanda pun segera merapikan meja dan kemudian merapikan sedikit penampilannya. Merasa sudah rapi, dia pun langsung bergegas untuk turun ke bawah. Terlihat mesin-mesin yang kosong karena karyawannya sudah makan siang di kantin. Amanda pun langsung di mempercepat langkahnya karena merasa tidak enak sudah ditunggu oleh supir kantor Gilang.


"Maaf Pak, menunggu lama!" sesal Amanda.


"Tidak apa-apa Bu, silakan!" Supir kantor Gilang pun membukakan pintu untuk Amanda.

__ADS_1


"Terima kasih, Pak!" ucap Amanda yang langsung disambut senyuman oleh supir itu.


Pak Bos tidak salah pilih mencari calon istri. Sudah cantik, orangnya juga ramah. Padahal dia pemilik konveksi ini tapi kelihatannya dia tidak sombong. Berbeda sekali dengan sekretarisnya Pak Bos, memang cantik sih, bodynya juga begitu menggoda tapi sayang dia sombong dan belagu banget. Untung Pak Bos tidak tergoda dengan dia.


Supir kantor itu terus bergelut dengan pikirannya, sampai tidak terasa sudah masuk ke gerbang Green Textile. Jarak perusahaan yang memang tidak jauh, membuatnya sampai dalam waktu kurang dari lima belas menit. Amanda pun langsung turun dari mobil setelah dia mengucapkan terima kasih pada supir itu. Saat sampai di lobby perusahaan, dia pun langsung menuju ke resepsionis untuk konfirmasi kedatangannya ke Green Textile.


"Permisi, Mbak! Saya mau bertemu dengan Pak Gilang," ucap Amanda.


"Bu Amanda ya, silakan Ibu menunggu di ruangan Pak Bos! Tadi Pak Rama berpesan kalau Ibu datang disuruh naik ke atas saja," ucap Resepsionis itu.


"Makasih, Mbak!" Amanda pun langsung menuju ke ruangan calon suaminya.


Namun, saat dia akan membuka pintu ruangan Gilang, entah datang dari mana sekretaris Gilang langsung menarik tangan Amanda dengan kasar. Dia terlihat begitu kesal dengan kedatangan Amanda. Apalagi Amanda langsung masuk ke ruangan bos kesayangannya.


"Yang sopan dong! Datang ke tempat orang langsung masuk begitu saja. Jangan mentang-mentang Pak Bos sudah melamar kamu, jadi kamu bisa seenaknya," ketus Elisa.


"Tentu saja kamu sangat salah! Kehadiran kamu itu yang sangat salah. Kamu tidak cocok dengan Pak Bos, lihat penampilan kamu! Jauh banget dari kata cantik apalagi seksih, udah gitu bekas orang lagi. Harusnya Pak Bos mendapatkan istri yang cantik, penampilannya modis. Dia juga layak mendapatkan gadis bukan janda sepertimu," hina Elisa. Dia sangat marah pada Amanda karena bos yang menjadi incarannya malah memilih Amanda yang hanya seorang janda.


"Tapi kenyataannya, Pak Gilang lebih memilih aku yang hanya seorang janda. Bukan kamu yang cantik dan modis. Harusnya kamu juga sadar diri, kalau cinta tidak akan memandang fisik tapi hati." Amanda pun membalas ucapan Elisa yang menusuk hatinya.


"Kurang a ...." Elisa langsung membungkam mulutnya saat dia melihat Gilang dan Rama menuju ke arahnya dan Amanda. Secepatnya dia pun melepaskan cengkraman pada tangan Amanda.


"Kenapa tidak langsung masuk? Aa kan sudah suruh nunggu di dalam," tanya Gilang saat melihat Amanda bersama dengan sekretarisnya.


"Tadi Elisa menahan aku, katanya tidak sopan masuk ke ruangan Aa." Amanda tersenyum manis di depan Gilang, membuat CEO Green Textile itu terbuai dengan senyuman calon istrinya.


"Mungkin Elisa tidak tahu kalau kamu calon istri Aa, ayo kita masuk! Elisa makan siang sudah siap?" tanya Gilang.

__ADS_1


"Sudah Pak!" jawab Elisa lesu.


Sialan! Kirain Pak Bos mau ngajak makan siang aku, makanya nyuruh untuk menyiapkan dua porsi hidangan istimewa di ruangannya. Mana aku memesan makanan yang enak-enak dan mahal lagi. Nyesel aku udah dekor ruangan pak bos biar terkesan suasana romantis, gerutu Elisa dalam hati.


"Bos, aku ke ruangan dulu, pasti Tania sudah menunggu dari tadi," pamit Rama.


Selepas kepergian Rama, Gilang dan Amanda pun masuk keruangan Gilang. Seulas senyum terbit dari bibir sensual Gilang. Dia senang karena Elisa sedikit mendekor ruangannya.


"Lihat, Sayang! Elisa menginginkan kita untuk bermesraan," Gilang langsung memeluk Amanda setelah dia terlebih dahulu mengunci pintu.


A Gilang tidak tahu, kalau sebenarnya Elisa menginginkannya, batin Amanda.


"A Gilang bisa aja! Apa Aa tidak akan menyesal memilihku, yang hanya seorang janda beranak dua? Padahal banyak gadis cantik yang mengharapkan Aa?" tanya Amanda setelah keduanya duduk di sofa.


"Aa tidak peduli kamu janda ataupun masih gadis, yang jelas hanya kamu yang bisa membuat jantung Aa berdetak lebih cepat dari biasanya." Gilang langsung menempelkan tangan Amanda ke dadanya dengan mata yang menatap lekat calon istrinya.


"Iya, getarannya terasa A." Amanda tersenyum manis.


Perlahan Gilang mendekatkan wajahnya pada wajah cantik alami calon istrinya. Terasa hangat napas keduanya yang menerpa wajah. Amanda pun memejamkan matanya saat Gilang mulai memiringkan kepalanya dan langsung meraup bibir tipis kekasih hatinya. Keduanya saling berpagutan dan menyesap benda kenyal yang terasa manis itu. Sampai akhirnya pergulatan lidah pun tidak dapat dihindari. Hidangan pembuka makan siang pun berakhir saat dua anak manusia itu merasa sudah kehabisan napas.


"Manda, aku sudah tidak sabar ingin segera menghalalkan kamu."


...~Bersambung~...


...Dukung terus Author ya kawan! Jangan lua klik like, comment, vote, rate, gift dan favorite....


...Terima kasih!...

__ADS_1


__ADS_2