
Keesokan harinya, pasangan suami istri itu sudah bangun pagi-pagi sekali. Pasalnya, Gilang memaksa ingin tidur di samping Amanda. Padahal keinginannya untuk bertemu nyai sudah Amanda penuhi meskipun dengan acara grasak grusuk, karena Azka mendadak bangun di saat mereka berdua sedang on fire.
"Alhamdulillah, badan Azka sudah normal lagi," ucap Gilang.
"A, hari ini aku masih belum bisa ke konveksi. Mungkin sampai Azka sembuh benar," ucap Amanda.
"Lalu?" tanya Gilang.
"A tolong lihat karyawan baru yang akan ditempatkan di bagian pemasaran. Katanya mau datang hari ini," ucap Amanda dengan cengengesan.
"Kamu menyuruh aku?" tanya Gilang dengan menunjuk mukanya sendiri.
"Aku gak nyuruh, A! Hanya minta tolong, please!" pinta Amanda.
"Boleh saja! Tapi kamu harus tahu, berapa bayarannya jika menyuruh seorang CEO." Gilang mengerakkan telunjuknya agar Amanda mendekat padanya. Dengan patuh, Amanda pun mengikuti apa yang suaminya minta.
"Kamu harus membayarnya dengan membiarkan Otong berkunjung ke si Nyai sehari lima kali, jadi nanti pas jam istirahat kamu harus datang ke kantorku," bisik Gilang.
Ya Ampun! Kenapa A Gilang yang pendiam menjadi mesumm begini. Apa sebelum menikah dengan aku, dia suka jajan di luar? Batin Amanda.
"Manda, kenapa diam saja? Kamu sedang memikirkan gaya apa yang akan kita pakai?" tanya Gilang lagi.
"Bukan begitu, A! Aku hanya heran sama A Gilang, kenapa Aa jadi doyan anu?" tanya Amanda.
"Karena hanya Nyai kamu yang membuat Otong mabuk kepayang. Lagipula kalau kita sering mempertemukan Otong dan Nyai kan dapat pahala," bela Gilang.
"Bunda, Papa, Otong dan Nyai itu siapa? Memangnya mereka suka bertemu di mana?" tanya Kia yang tiba-tiba sudah ada di belakang kedua orang tuanya.
"Loh, Kia kapan masuknya? Bunda Kho gak dengar?" tanya Amanda.
"Barusan, Kia pelan-pelan buka pintunya takut Dede Azka bangun," jawab Kia. "Apa Dede udah sehat?" tanya Kia kemudian yang terlihat khawatir pada adiknya.
__ADS_1
"Alhamdulillah sudah, Sayang. Ayo, mau berangkat sekolah kan? Bunda masih jagain Dede, jadi Kia berangkat sama Papa," ajak Gilang dengan menuntun putri sambungnya.
Dia sangat kaget mendengar pertanyaan dari Kia, sehingga secepatnya mengalihkan perhatian Kia agar dia tidak teringat dengan apa yang didengarnya. Sementara Amanda hanya tersenyum melihat apa yang dilakukan suaminya. Dia bersyukur Gilang lebih perhatian pada anak-anaknya dibandingkan dengan ayahnya sendiri.
Setelah mengantar Gilang dan anak-anaknya sampai pintu depan, Amanda pun kembali ke dalam rumah karena khawatir Azka yang masih tertidur bangun mencarinya. Namun, langkah kakinya tertahan saat melihat di televisi ada wajah Citra sebagai tersangka kasus pembunuhan yang terjadi di hotel yang tidak jauh dari rumah Gilang.
"Astagfirullah, kenapa istrinya Mas Pandi main serong? Apa itu penyebab perceraian mereka? Kasian sekali Mas Pandi sampai harus mutasi karena tidak tahan dengan kelakuan mantan istrinya," gumam Amanda yang asal menebak tanpa tahu ujung pangkalnya.
...***...
Saat mentari berada di atas kepala, Amanda sudah siap dengan tentengan di tangannya. Rencananya dia akan membawakan makan siang untuk suaminya, karena Azka sudah kembali ceria lagi dan sudah mau ditinggal oleh Amanda karena ada Bi Isah dan kakak-kakaknya.
Hanya dengan menggunakan motor matic, Amanda berangkat ke perusahaan Green Textile. Senyum mengembang di kedua sudut bibirnya. Amanda merasa senang karena dia sendiri yang memasak untuk makan siang suaminya. Sesampainya di Green Textile, dia disambut dengan baik oleh satpam yang sudah mengetahui tentang siapa Amanda. Begitupun dengan resepsionis yang sering melihat Amanda datang ke perusahaan tempatnya bekerja. Namun, saat Amanda akan menuju ke lift. Tanpa sengaja dia berpapasan dengan Dimas yang baru keluar dari lift.
"Loh, Dimas! Kamu kerja di sini?" tanya Amanda.
"Iya, Mbak! Aku di bagian marketing," jawab Dimas.
"Belum, Mbak! Aku melamar pas udah lulus kuliah saja," jelas Dimas.
"Oh, bagaimana keadaan Ibu? Apa dia sudah baikan?" tanya Amanda.
"Ibu terkena stroke, Mbak! Sekarang dia tidak bisa apa-apa, bicara pun susah." Dimas menunuduk lemas mengingat nasib ibunya.
"Ya Allah, semoga Ibu cepat baikan ya! Dimas, Mbak ke atas dulu. Suami Mbak sudah menunggu," pamit Amanda.
Beruntungnya yang menjadi suami Mbak Manda. Andai dulu aku sudah mempunyai pekerjaan tetap, aku pasti melamar Mbak Manda untuk jadi istriku, saat Mas Pandi melepaskannya. Tapi sayang, aku masih kuliah dan tidak memiliki uang banyak untuk menjamin kehidupannya, batin Dimas.
Kasihan sekali Ibu! Orang yang biasanya menghinaku, membanding-bandingkan aku dengan orang lain, kini dia tidak bisa bicara jelas. Apa tuhan sedang menegurnya? Agar dia bisa memperbaiki diri. Bukankah kita harus selalu menjaga lisan agar tidak menyakiti hati orang lain, batin Amanda.
Amanda terus berjalan dengan pikirannya menerawang mengingat setiap hinaan dan cacian mertuanya. Dia ingin melepaskan semua rasa sakit hati atas apa yang telah dilakukan oleh mantan ibu mertuanya. Dia tidak ingin hidup terus dibayangi oleh rasa kebencian pada orang yang telah menyakitinya.
__ADS_1
Tanpa terasa, Amanda sudah sampai di depan ruangan Gilang. Namun, dia merasa kaget saat melihat Elisa sedang berjongkok akan mencium Gilang yang sedang duduk menyender di kursi kebesarannya seraya menutup mata.
"A, apa yang kalian lakukan?" pekik Amanda.
Gilang yang terkaget mendengar suara Amanda, langsung membuka matanya dan refleks mendorong Elisa yang tepat ada di depan matanya, sehingga gadis yang berusaha mencuri ciuman bosnya itu terjengkang menabrak lemari buku.
Brak!
"Aduh, pingangku sakit!" keluh Elisa dengan memegang pinggang yang tadi terhempas menabrak lemari.
"Elisa, kenapa kamu tidak mengetuk pintu saat akan masuk ke ruanganku?" Bukannya menolong, Gilang malah menginterogasi Elisa.
"Aku sudah ketuk pintu, tapi bapak tidak menyahut sehingga saya memutusknaa untuk masuk karena melihat Pak Gilang yang sedang tidur," elak Elisa.
"Lain kali, kamu masuk ke ruanganku tanpa seijin dariku, maka kamu tinggal mengambil gaji terakhir saja dan tidak boleh datang lagi ke sini," geram Gilang.
Dia takut Amanda salah paham sehingga terjadi cekcok di antara mereka. Bisa puasa lagi si Otong kalau sampai istrinya marah karena salah paham. Gilang pun akhirnya menyuruh Elisa untuk kembali kerja.
"Sayang, kenapa lama datangnya? Aku menunggu dari tadi," tanya Gilang.
"Tadi ketemu Dimas di bawah, katanya ibu kena stroke. Mas mau gak nanti temani aku ke rumah sakit?" tanya Amanda.
"Untuk apa, Manda? Kamu ingin dihina lagi sama dia?" tanya Gilang
"Nggak, Mas! Aku hanya prihatin saja dengan nasibnya," jawab Amanda.
"Ya sudah! Mas antar tapi kamu harus membayar dobel dengan yang tadi. Ayo kita makan siang yang lain dulu!"
...~Bersambung~...
...Dukung terus Author ya kawan! Klik like, comment, vote, rate, gift dan favorite....
__ADS_1
...Terima kasih!...