Harga Sebuah Daster

Harga Sebuah Daster
Bab 19 Harta Gono Gini


__ADS_3

Setelah acara makan siang dadakan, Gilang berinisiatif ingin mengantarkan Amanda pulang dengan alasan dia ingin melihat usaha konveksi yang sekarang sudah berjalan. Meski awalnya Amanda menolak, tapi akhirnya dia menyetujui. Karena nanti Tania yang akan mengantar motor Amanda sampai rumah.


Selama perjalanan, kecanggungan menyelimuti keduanya. Gilang yang memang irit bicara dan Amanda yang malu jika harus mengajak ngobrol duluan. Apalagi dia melihat pembawaan Gilang ya seperti tidak mudah untuk dijangkau oleh orang lain.


Saat sudah sampai konveksi tempat Amanda mengais rejeki, Ibu dua anak itu barulah memberanikan diri untuk mengajak Gilang turun dan melihat-lihat konveksi-nya.


"Pak Gilang, ini konveksi milik kami. Mari melihat-lihat!" ajak Amanda bergegas ingin membuka pintu.


"Sebentar! Ada sesuatu yang ingin aku katakan," ucap Gilang.


"Iya Pak, ada apa?" tanya Amanda dengan menatap lekat pada Gilang karena duda beranak satu itu memegang tangan Amanda yang akan membuka pintu.


"Kita tidak sedang di kantor. Apa bisa kamu tidak memanggilku Pak? Aku merasa sudah sangat tua sekali," pinta Gilang.


"Tapi 'kan sekarang kita rekan bisnis. Rasanya tidak sopan jika saya memanggil asal," kilah Amanda.


"Panggil saja Aa seperti kamu memanggil Rama. Bukankah aku kakak tingkat kamu?" tanya Gilang dengan tangan yang masih menahan tangan Amanda agar tidak keluar dulu.


"Ba-baiklah Pak, eh Aa!" jawab Amanda kikuk.


Seulas senyum terbit di kedua sudut Gilang. Entah kenapa hatinya begitu senang saat mendengar Amanda memanggil Aa padanya. Dia merasa panggilan Aa itu sangat romantis.


Setelah cukup melihat-lihat usaha konveksi Amanda, Gilang pun mengantar Amanda pulang ke rumah. Karena tadi mantan ibu mertuanya menelpon dan mengatakan kalau dia ada di rumah Amanda menunggunya. Saat sudah sampai di depan rumah, dengan terpaksa Amanda harus berbicara yang mungkin akan membuat Gilang merasa tersinggung.

__ADS_1


"A Gilang, sebelumnya aku mau minta maaf. Aku tidak bisa mengajak Aa untuk mampir ke rumah. Aku khawatir terjadi salah paham dengan ibu," ucap Amanda dengan hati-hati.


"Apa ibu mertuamu jahat?" tanya Gilang terus terang dengan apa yang dipikirkannya.


"Sebenarnya mantan Ibu Mertua karena aku sudah bercerai dengan putranya satu tahun yang lalu," jelas Amanda.


"Pergilah! Selesaikan urusanmu yang belum kelar dengannya. Aku kembali ke kantor dulu, kalau ada apa-apa hubungi saja aku!" pamit Gilang.


"Terima kasih A, aku turun dulu." Amanda pun segera turun dari mobil Gilang. Sementara Gilang hanya melambaikan tangan dengan membuka kaca mobilnya. Hal itu tak luput dari penglihatan Bu Sopiah yang sedari tadi melihat dari dalam rumah Amanda.


Setelah mobil Gilang sudah tidak terlihat lagi, Amanda pun langsung masuk ke dalam rumahnya. Dia disambut dengan nada sinis dari mantan ibu mertuanya. Sungguh, sebenarnya Amanda sangat malas jika harus berurusan dengan mantan ibu mertuanya.


"Hebat ya kamu, Manda! Sekarang gandengannya dengan yang bermobil mewah. Dulu aja nuduh Pandi yang berselingkuh. Ternyata kamu juga sama saja," sinis Bu Sopiah.


"Maaf Bu, jangan ngajak ribut! Kepalaku suka sakit kalau ibu ngajak terus adu mulut," sindir Amanda.


"Maksud ibu apa uang gono gini? Memang Mas Pandi kasih aku uang berapa saat kita cerai? Gak ada, Bu. Mas Pandi hanya memberikan uang bulanan untuk anak-anak," jelas Amanda.


"Jangan bohong kamu! Itu bikin konveksi, kamu dapat duit dari mana kalau bukan dari anakku. Apa kamu lupa, kamu hanya menumpang hidup sama Pandi dari mulai kamu punya Kia." Sewot Bu Sopiah.


"Maaf Bu! Bukannya aku tidak sopan, tapi Manda minta ibu sebaiknya pulang dan tanya ke Mas Pandi tentang uang gono gini itu. Tolong Bu, jangan bikin keributan di depan anak-anak." Amanda mengetikan sesuatu di ponselnya. Dia meminta Apandi untuk segera menjemput ibunya.


"Kamu berani mengusirku? Ingat Amanda, aku ibu mertuamu! Kenapa kamu berlaku sangat tidak sopan? Apa selama ini orang tua kamu tidak pernah mengajarkan tata krama?" cerocos Bu Sopiah.

__ADS_1


Amanda hanya mengepalkan tangannya erat. Dia geram, sangat-sangat geram dengan apa yang di dengarnya dari mulut mantan ibu mertuanya. Ingin sekali dia merobek mulut yang selalu menghinanya itu, tapi dia tahan karena tidak mungkin jika harus adu jotos dengan mantan mertuanya walaupun nenek tua itu semakin menjadi.


Tak berapa lama kemudian, Apandi datang bersama dengan Citra dengan perut yang terlihat sudah membuncit. Setelah perceraiannya dengan Amanda, beberapa bulan kemudian dia menikah dengan selingkuhannya itu. Namun sepertinya, Citra begitu menguasai Apandi sehingga.Bu Sopiah mendapat uang bulanan dari Apandi hanya setengahnya dari yang biasa dia dapat saat masih menikah dengan Amanda.


Apandi menjadi terpaku saat melihat penampilan mantan istrinya yang berbeda. Matanya seakan enggan untuk berkedip karena takut tidak bisa melihat keindahan yang ada di depan matanya. Namun Citra segera memukul tangan suaminya untuk kembali tersadar dari lamunannya.


"Ibu, kenapa ibu membuat keributan di sini?" tanya Apandi dengan mata yang masih terus melihat ke arah Amanda.


"Pandi, ibu minta kamu meminta kembali uang gono gini yang dulu pernah kamu berikan. Lagipula sekarang usaha konveksi dia juga sudah maju. Pasti dia punya duit banyak sehingga uang gono gini yang dia pake buat modal usahanya bisa dikembalikan." Bu Sopiah seperti sudah kehilangan akal karena kurang mendapatkan asupan dari anaknya sehingga dia mengungkit uang pada Amanda.


"Ibu, harusnya aku yang mengungkit uang pada kalian. Aku minta uang hasil penjualan kebun orang tuaku dikembalikan. Bukankah sekarang Mas Pandi sudah jadi jaksa muda, jadi pasti sudah bisa mengembalikan uang modal padaku." Amanda menjadi terpancing dengan apa yang mantan mertuanya itu katakan.


"Tidak bisa Manda! Aku tidak punya uang sebanyak itu karena kemaren sudah aku belikan rumah baru," jelas Apandi yang tidak menyangka mantan istrinya akan mengungkit uang yang dia pakai untuk memuluskan jalannya menjadi pegawai.


"Kalau tidak ingin aku ungkit, sebaiknya kalian semua pulang dan tidak usah datang lagi ke rumahku. Aku malas harus ribut terus dengan masa lalu," ketus Amanda.


"Kamu berani mengusir orang tua?" sentak Bu Sopiah.


"Sudah Bu! Ayo kita pulang!" Apandi langsung menarik tangan ibunya untuk mengikuti agar segera pulang. Sementara Citra hanya diam saja dengan hati yang terus bicara.


Sepertinya aku harus datang lagi ke Mbah Jambrong. Ibu dan Mas Pandi harus aku buat semakin membenci mantan istrinya.


...~Bersambung~...

__ADS_1


...Dukung terus Author ya kawan! Klik like comment vote rate gift dan favorite....


...Terima kasih!...


__ADS_2