Harga Sebuah Daster

Harga Sebuah Daster
Bab 31 Pindah


__ADS_3

Selama perjalanan menuju ke rumah Tania, Amanda menjadi termenung sendiri memikirkan apa yang tadi Gilang katakan. Dia tidak menyangka kalau jurus dia untuk membuat Apandi pergi justru berbalik padanya. Amanda seperti sedang berada dalam fase maju kena mundur kena.


Sementara Gilang juga masih memikirkan sikap Amanda yang justru seperti menghindar dari pembahasan soal pernikahan. Hal itu membuat kedua orang dewasa saling bungkam. Berbeda dengan anak-anak yang terlihat begitu senang. Tak terkecuali Langit yang sangat berharap bisa memiliki seorang ibu. Meski selama ini banyak wanita yang mendekati papanya, tapi bocah kecil itu bisa merasakan mereka semua tidak tulus sayang padanya.


"Papa, kalau nanti papa menikah dengan Tante, Aku manggilnya mama apa bunda seperti Kia dan Azka?" tanya Langit yang sukses membuyarkan lamunan kedua orang dewasa itu.


"Aku mau manggil papa saja sama Om, biar samaan dengan Kak Langit," sela Kia.


"Boleh, Sayang! Langit juga samain aja kayak Kia manggilnya Bunda," ujar Gilang yang berada di depan kemudi.


"Hore! Kia punya papa, Azka sekarang kita punya papa dan Kak Langit punya Bunda," pekik Kia senang


"A, jangan memberi harapan palsu pada mereka." Amanda begitu kaget dengan apa yang dikatakan oleh Gilang.


"Aku tidak memberi harapan palsu, kalau kamu setuju, aku akan mengabulkan keinginan anak-anak." Gilang melirik sekilas ke arah Amanda, terlihat jelas raut cemas di wajah Amanda.


Sementara Bi Isah yang duduk di belakang hanya tersenyum mendengar obrolan majikannya. Dia senang jika nanti Amanda berjodoh dengan lelaki yang belum lama dikenalnya. Dia yakin kalau Gilang tidak akan seperti Apandi.


Tak berapa lama kemudian, mobil sudah memasuki kawasan rumah Gilang. Tanpa meminta persetujuan dari Amanda, dia membawa mereka untuk mampir terlebih dahulu ke rumahnya. Sebuah rumah dengan gaya modern minimalis yang tepat di depannya ada sebuah danau buatan dan taman di tepi danau.


"Loh, kho ke sini? Rumah Tania kan bukan di tepi danau." Amanda langsung terkaget saat mobil Gilang sudah menepi di depan rumah yang sangat bagus dan lumayan besar untuk ukuran sebuah perumahan.


"Kita mampir dulu ke rumahku. Bi Nani pasti sudah memasak untuk makan siang karena tadi aku udah bilang mau kedatangan tamu istimewa," jelas Gilang seraya membuka sabuk pengamannya.

__ADS_1


Sementara anak-anak dan Bi Isah sudah keluar dari mobil saat tadi Gilang mematikan mesin dan membuka semua kunci mobil. Amanda terlihat kesusahan untuk membuka sabuk pengaman sehingga Gilang pun berniat untuk membantunya. Sesaat keduanya terdiam ketika Gilang mencondongkan badannya untuk membantu Amanda. Perasaan yang dulu Amanda rasakan saat masih kuliah kini dia rasakan kembali. jantungnya tiba-tiba berdetak lebih kencang dari biasanya. Apalagi, Gilang menengadahkan kepalanya saat sedang membuka sabuk pengaman.


"Manda, aku bisa mendengar suara detak jantungmu. Apa kamu grogi? Aku harap, kamu tidak terus-terusan membohongi dirimu sendiri, kalau kita sebenarnya saling menginginkan." Gilang terus menatap lekat wajah Amanda yang gugup.


"Maaf A!"


Cup


Gilang langsung mengecup bibir Amanda sekilas sebelum akhirnya dia membenarkan posisi duduknya. "Aku akan menunggu sampai kamu siap. Kamu lihat 'kan? Anak-anak kita sudah kompak, tinggal kita sebagai orang tua untuk saling membuka diri dalam menyongsong hari esok. Bukan hanya kamu yang pernah mengalami kegagalan, aku pun sama. Kita sama-sama pernah merasakan disakiti oleh pasangan kita."


"Beri aku waktu A, untuk memikirkannya!" pinta Amanda.


"Ayo turun!" Tanpa menjawab apa yang Amanda katakan, Gilang langsung membuka pintu mobil yang langsung disusul oleh Amanda.


Memang benar apa yang dikatakan oleh A Gilang. Anak-anak sudah kompak tinggal orang tuanya yang belum sepakat. Tapi aku takut, perbuatan Apandi kemarin ini meninggalkan benih di rahimku. Tidak mungkin aku menikah dengan Gilang sementara ada anaknya Apandi di rahimku. Meski aku masih menggunakan pil penunda kehamilan, tapi aku harus memastikannya dulu sebelum mengambil keputusan, bisik hati Amanda.


"Malah melamun, ayo langsung ke meja makan. Anak-anak ayo kita makan siang dulu," ajak Gilang yang langsung mendahului masuk ke ruang makan. Kemudian disusul Amanda dan anak-anak.


Suasana meja makan yang biasanya sepi, kini terlihat ramai dengan kehadiran Amanda dan anak-anaknya. Langit sangat senang dengan kehadiran Amanda dan kedua adik kecilnya.


"Bunda, tinggal di sini saja! Nanti Langit bisa tidur bersama dengan Azka. Bunda sama Papa sedang Kia sendiri. Boleh 'kan, Pah?" tanya Langit.


"Kalau bunda setuju, Papa tidak keberatan. Nanti kita jadi keluarga kecil yang bahagia." Gilang tersenyum senang karena putranya membantu dia untuk meluluhkan Amanda.

__ADS_1


"Langit, Bunda belum bisa tinggal di sini. Bunda sudah janji dengan Tante Tania untuk tinggal di rumahnya. Nanti Bunda ingkar janji kalau tinggal di sini," elak Amanda.


"Mungkin nanti, Lang. Kalau Tante Tania sudah pindah ke rumah Om Rama, Bunda pindah ke sini." Gilang menyudahi makannya lalu menatap lekat wajah yang selalu tampil sederhana. Namun tetap terlihat cantik meski tanpa polesan make-up tebal.


"Asyik, Om Rama 'kan nikah lusa!" seru Langit.


Setelah selesai makan siang, mereka pun melanjutkan menuju ke rumah Tania. Hanya butuh waktu lima menit perjalanan mobil, kini Amanda sudah berada di depan rumah Tania. Terlihat Tania yang sudah menunggunya dari tadi karena hari ini, rencananya dia akan pulang ke rumah orang tuanya. Akan tetapi, dia sengaja menunggu sahabatnya itu datang.


"Tante!" panggil Kia yang langsung berlari saat turun dari mobil.


"Hai Sayang! Kho lama sih, ke mana dulu?" tanya Tania.


"Tadi makan dulu di rumah Kak Langit," jawab Kia.


"Udah ayo masuk!" ajak Tania pada putri sahabatnya.


Tania langsung membantu Amanda dan Gilang yang sedang menurunkan barang-barang bersama Bi Isah. Tidak butuh waktu lama, kini semua tas dan koper sudah masuk ke dalam kamar yang akan Amanda tempati. Begitu juga dengan Bi Isah yang langsung merapikan bajunya di lemari yang sudah disediakan. Sementara Gilang bercengkrama dengan anak-anak.


"Manda, Pak Bos sudah seperti bapaknya anak-anak kamu saja. Lihat, mereka sudah tidak ada kata canggung lagi!" bisik Tania saat sedang membantu membereskan baju Amanda dan anak-anak.


"Dia mengajakku untuk serius, Tan. Aku harus gimana?" lirih Amanda.


"Terima saja, biar Apandi tidak mengejar kamu lagi."

__ADS_1


...~Bersambung~...


__ADS_2