Harga Sebuah Daster

Harga Sebuah Daster
Bab 12 Awal yang baik


__ADS_3

Pagi yang cerah, mentari menyapa lembut Amanda yang sedang menyapu halaman rumahnya. Rambutnya yang sebahu tersibak oleh terpaan lembut angin pagi.


Mulai hari ini, mungkin Apandi tidak akan pernah tidur di rumahnya lagi. Apalagi memaksanya untuk melayani napsu liar mantan suaminya. Seperti saat semalam, sebelum Apandi membawa barang-barangnya keluar dari rumah Amanda. Dengan segala bujuk rayu mantan suaminya, akhirnya Amanda luluh dan mau melayani Apandi.


Amanda menghela napas panjang, menghirup udara kebebasan dan menghembuskan segala hal yang telah membuat dadanya sesak.


"Semangat Manda! Kamu pasti bisa menjadi single parents. Meskipun tanpa seorang suami, tapi kamu harus yakin Allah akan selalu memberi rejeki pada kita. Tapi apa yang harus aku lakukan? Tidak mungkin aku hanya mengandalkan uang tabunganku. Apa aku harus menjual motor pemberian Mas Pandi? Tapi nanti kalau mengantar sekolah Kia bagaimana?" gumam Amanda seraya terus membersihkan halaman rumahnya.


"Manda!" panggil Bude Marni.


Amanda yang merasa namanya terpanggil, langsung menengok ke arah suara. "Iya, Bude!"


"Serius banget menyapunya, sampai Bude panggil gak nengok-nengok." Bude Marni pun menghampiri Amanda.


"Anak-anak ke mana? Rumah kho sepi?" Bude Marni celingukan mencari kedua bocah yang selalu main ke rumahnya.


"Tadi bangunnya kepagian, sekarang malah pada tidur lagi," jelas Amanda.


"Manda, daster kamu bagus. Dapat beli di mana? Bahannya juga adem." Bude Marni terus membolak-balikkan badan Amanda. Sebenarnya sedari tadi dia memperhatikan daster yang dipakai oleh Amanda. Entahlah dia suka tiap motif daster yang dipakai oleh Amanda.


"Ini dikasih oleh Tania, katanya sebagai hadiah ulang tahun aku." Amanda tersenyum senang mendapat pujian dari Bude Marni.


"Kalau tahu di mana belinya, Bude juga mau loh beli daster model begini." Bude Marni terus saja melihat ke arah daster yang dipakai oleh Amanda.


"Nanti aku tanya Tania, di mana belinya." Amanda pun menyimpan sapu yang dipegangnya karena dia sudah selesai membersihkan halaman rumahnya.


"Kenapa tidak kamu saja yang jualan, pasti ibu-ibu komplek banyak yang beli. Tapi jangan mahal-mahal harganya!" Bude Marni terkekeh sendiri dengan apa yang dikatakannya.


"Siap Bude, nanti aku jualan daster Bude harus beli banyak ya!" canda Amanda.


Apa mending aku jualan daster saja ya? Bukankah tidak semua orang benci daster seperti Mas Pandi? Buktinya ibu-ibu di komplek ini banyak yang suka memakai daster tapi suaminya tidak ada yang protes. Memang benar segala sesuatu akan terlihat berharga jika di depan orang yang tepat. Mungkin, Mas Pandi bukan lelaki yang tepat untukku sehingga apapun yg kulakukan untuknya tidak berarti.


***

__ADS_1


Setelah Amanda bertanya pada sahabatnya yang ujungnya menceritakan tentang perceraiannya dengan Apandi, Tania pun berjanji untuk mengantar sahabatnya belanja daster di pasar Tanah Abang sehingga dia bisa mendapatkan harga yang lebih murah. Sementara Amanda pergi ke pasar, dia pun menitipkan kedua anaknya pada mantan suaminya karena dia belanja dia hari Sabtu sehingga Apandi pun sedang tidak pergi ke kantor.


"Manda, masih kurang gak belanjanya?" tanya Tania saat mereka sedang istirahat setelah mendapatkan barang belanjaan dua kantong besar.


"Cukup, Tania! Uangku tinggal dua ratus ribu ini. Mudah-mudahan laris manis jualannya," ucap Amanda.


"Aamiin, selalu yakin kalau Allah pasti kasih rejeki sama kita meskipun itu bukan lewat Apandi. Aku senang akhirnya kamu mengambil sikap. Meskipun memang benar perceraian itu tidak disukai Allah tapi pernikahan yang tidak sehat justru akan menambah dosa kita." Tania merangkul pundak sahabatnya. Dia prihatin dengan apa yang terjadi dengan Amanda. Sahabatnya yang dulu semasa gadisnya selalu dikejar oleh para lelaki sekarang malah disakiti oleh suaminya.


"Iya bawel! Makasih ya, Tan! Selalu ada buat aku, udah yuk pulang!" Amanda pun langsung mengajak sahabatnya untuk segera pulang ke rumahnya.


Sesampainya di rumah hari sudah sore, terlihat tetangganya sedang berkumpul di depan rumah Bude Marni sehingga Amanda segera memanggil mereka setelah dia membereskan daster dagangannya.


"Bu ibu, ayo dilihat dulu dasternya! Siapa tahu ada yang suka." Amanda mengajak para tetangganya untuk melihat daster yang dibelinya di Tanah Abang.


"Kamu jualan daster, Manda?" tanya Bu Asih.


"Iya Bu, ayo dipilih dulu!" jawab Amanda.


"Baguslah Manda! Daripada kamu menjanda jualan badan mending jualan daster yang sudah jelas halal," celetuk Lela teman sebayanya.


"Udah Bude gak papa!" Amanda hanya tersenyum kecut mendengar apa yang dikatakan teman sekolahnya. Sedari dulu Lela memang suka bicara yang asal tidak pernah dipikir orangnya akan sakit hati atau tidak.


Tanpa memperdulikan apa yang Lela katakan, ibu-ibu itu lebih asyik memilih daster untuk dibawa pulang.


"Manda yag ini harganya berapa?" tanya Bu Asih pada daster yang bertangan panjang.


"95 ribu saja bu!" sahut Amanda.


"Boleh kurang gak Manda?"


"Boleh Bu, kurang sedikit jadi 90 ribu."


"85 ribu saja Manda, Ibu ambil dua." Tawar Bu Asih.

__ADS_1


"Ya sudah gak apa-apa Bu, sebagai penglaris." Amanda tersenyum senang karena barang jualannya disukai pembeli.


Sebagian barang dagangan Amanda sudah habis diserbu tetangganya, tinggal sebagian lagi yang tersisa itupun dibawa Tania untuk ditawarkan pada teman kantornya. Namun, entah kenapa Amanda merasa ada yang kurang saat melihat model daster yang rata-rata memang seperti itu, longgar seperti kelelawar berbahan adem sehingga dia coba-coba merancang sendiri model daster sesuai keinginannya.


"Untung saja masih ada mesin jahit peninggalan ibu, jadi aku masih bisa memakainya," gumam Amanda pelan.


Di saat hari sudah gelap, Apandi datang mengantarkan Azka dan Kia karena mereka tidak mau diajak menginap di rumah neneknya.


"Assalamu'alaikum," teriak Kia yang diikuti oleh Azka.


"Wa'alaikumsalam," jawab Amanda seraya membuka pintu depan.


Kia dan Azka langsung menghambur ke pelukan Amanda. Meskipun hanya beberapa jam saja mereka tidak bertemu tapi rasa kangen itu terasa membucah di dadanya.


"Bunda, Kia gak mau ke rumah nenek kalau gak ada Bunda," adu Kia pada Amanda.


"Memangnya kenapa? 'Kan sama ayah di sananya," tanya Amanda heran.


"Nenek marah-marah terus, larang-larang Kia terus!" Kia masih terus memeluk Amanda seperti takut ditinggal lagi oleh bundanya.


"Tadi Kia gak mau diem, jadi Ibu marahin dia saat Kia pecahin guci kesayangan ibu," jelas Apandi. "Mas langsung pulang ya, sudah malam."


"Iya, Mas hati-hati di jalan!"


Setelah kepergian mantan suaminya, Amanda langsung mengajak kedua anaknya untuk segera tidur, apalagi dia melihat Azka seperti yang sudah mengantuk berat.


Setelah kedua anaknya tertidur, Amanda pun mulai mencoret-coret dibukunya membuat model daster sesuai keinginannya.


Semoga saja, ini jadi awal yang baik untuk memulai usaha. Ibu, Bapak do'akan anakmu agar bisa sukses usahanya.


...~Bersambung~...


...Dukung terus Author ya kawan! Dengan klik like, comment, vote, rate, gift, dan favorite....

__ADS_1


...Terima Kasih!...


__ADS_2