
Setelah kepergian Melisa, Gilang langsung memijat kepalanya yang terasa berdenyut. Dia tidak menyangka Melisa akan benar-benar nekat ingin mengambil Langit darinya. Padahal sedari dia masih hamil, Melisa selalu mengeluh karena harus hamil dari laki-laki yang tidak dia cintai. Apalagi setelah dia melahirkan, Melisa enggan mengurus bayinya sehingga Gilang yang merawat Langit sedari masih bayi dibantu dengan baby sitter.
Melihat Gilang yang seperti sedang pusing, Amanda pun langsung menghampiri suaminya. Dipijatnya perlahan kepala Gilang, sehingga laki-laki yang pernah merasakan sakitnya dikhianati itu mendongakkan kepalanya menatap Amanda yang berdiri di depannya. Gilang langsung memeluk Amanda dengan menyenderkan kepalanya di perut rata istrinya.
"Manda, apa tadi kamu mendengar apa yang Melisa katakan?" tanya Gilang.
"Aku mendengarnya. Aa jangan takut, Allah selalu bersama orang-orang yang sabar," ucap Amanda dengan mengelus lembut rambut tebal suaminya.
"Manda, percaya sama aku! Apapun yang Melisa dan Melani katakan untuk memancing kemarahan kamu, tolong jangan dianggap. Apalagi kalau sampai dimasukan ke dalam hati. Mereka hanya memancing agar kamu menyerah," pesan Gilang dengan mengeratkan pelukannya.
"Iya, Aa. Manda percaya kalau Aa seorang suami yang bertanggung jawab. Semoga Aa bisa menjaga kepercayaan yang aku berikan." Ada rasa perih di hatinya. Walau bagaimanapun, ketakutan akan dikhianati seperti yang dilakukan oleh suami pertamanya masih menghantui pikirannya. Namun, Amanda sebisa mungkin menepisnya. Bukankah ketakutan yang berlebihan itu membuat yang hal kita takutkan justru menjadi kenyataan?
Saat keduanya sedang saling memberikan ketenangan, saling meyakinkan bahwa semuanya akan baik-baik saja, terdengar ada sebuah suara yang membuat pasangan suami istri itu langsung mengurai pelukannya.
"Waduh, siang-siang begini peluk-pelukan lagi. Bikin aing jadi hareudang," celetuk Rama yang baru datang bersama dengan Tania.
"Kamu, Ram. Ayo masuk!" ajak Gilang setelah dia melepaskan pelukannya.
"Kata Langit mau bikin acara barbeque, apa sudah siap bahannya? Memang ngerayain apa sih, Lang? Bukannya tender kita belum gol ya?" tanya Rama yang sudah duduk di sofa bersama dengan Tania.
"Memangnya cuma tender yang gol saja yang bikin senang. Ini lebih dari itu, Amanda hamil." Gilang langsung tersenyum senang saat mengatakannya.
"Wah, selamat ya Manda!" Tania langsung memeluk sahabatnya ikut bahagia dengan berita yang di dengarnya.
"Makasih, Tan! Bukannya tadi Langit ke rumah kalian, sekarang kenapa gak bareng ke sini?" tanya Amanda yang teringat pada putra sambungnya.
"Langit sudah pulang dari sebelum Dzuhur, memangnya dia belum sampai rumah?" tanya Rama heran.
"Aku mencari Langit dulu," pamit Gilang seraya berlalu pergi.
__ADS_1
"Ada apa Manda, kenapa Gilang tegang begitu?" tanya Rama heran.
"Sepertinya Langit mendengar pertengkaran orang tuanya. Tadi Melisa ke sini, dia ingin hak asuh Langit," jawab Amanda sedih.
"Apa? Melisa ke sini? Benar-benar tuh cewek, gak ada bosannya nyakitin hati orang," geram Rama kemudian berlalu pergi.
"Aa mau ke mana?" tanya Tania yang bingung dengan sikap Rama.
"Cari Langit. Pasti dia sangat ketakutan jika harus berpisah dengan Gilang," jawab Rama.
Setelah kepergian Rama, Tania pun langsung berpindah duduknya di dekat Amanda. Tanpa bicara lagi Tania memeluk tubuh sahabatnya yang nampak sedikit murung. Meskipun Amanda menyembunyikan kesedihannya di depan orang lain, tapi Tania bisa merasakan apa yang sahabatnya rasakan.
"Jangan cemas, semuanya pasti baik-baik saja!" ucap Tania.
"Tan, Melisa ingin rujuk. Aku takut A Gilang berubah pikiran karena tidak ingin kehilangan Langit. Kamu tahu kan kalau anak di bawah umur harus dalam pengasuhan ibunya?" tutur Amanda.
"Oh, iya berapa usia kandungan kamu? Aku kho keduluan sama kamu ya?" tanya Tania lagi.
"Belum pasti tapi menurut Dokter Mitha yang tadi datang ke sini sekitar lima minggu. Kamu dan Rama gak boleh stres dan kecapean karena itu mempengaruhi kesuburan kalian. Coba ambil cuti buat bulan madu, selama ini kalian terlalu sibuk bekerja."
"Bagaimana gak sibuk? Suamimu itu selalu membuat suamiku sibuk," jawab Tania dengan memonyongkan bibirnya.
"Iya benar, selama ini aku dan A Gilang terlalu merepotkan kalian. Nanti aku akan minta untuk kasih cuti bulan madu."
Sementara di tempat yang berbeda, Gilang yng sedari tadi mencari keberadaan Langit. Akhirnya menemukan putranya sedang menangis di pinggir danau. Setelah tadi Melisa menemuinya, Langit semakin ketakutan akan berpisah dengan papanya.
"Langit!" panggil Gilang langsung memburu tubuh putranya yang terlihar bergetar. Dia langsung memeluk LAngit dan mencoba memberikan ketenangan pada putranya.
"Papa! Langit tidak mau tinggal sama Mama. Jangan berikan Langit pada mama! Langit janji akan patuh sama Papa dan menjadi kebanggaan Papa. Tapi Langit mohon, Papa jangan berikan Langit pada mama, hiks ... hiks ... hiks ...." Langit terus bicara disela isak tangisnya seraya memeluk tubuh Gilang erat.
__ADS_1
"Sayang, dengar Papa! Kamu harus percaya sama Papa, tidak akan Papa biarkan seorang pun merebut kamu dari Papa. Termasuk mama kamu. Papa akan berusaha sekuat tenaga Papa untuk mempertahankan Langit agar selalu berada di sisi Papa." Gilang pun semakin erat memeluk Langit sampai akhirnya Rama datang menghampiri dan ikut bergabung memeluk Langit.
Rama yang selalu bersama dengan Gilang, tentu tahu betul bagaimana sahabatnya itu melewati masa-masa sulit setelah kepergian Melisa. Bahkan, Rama pun sering ikut membantu merawat dan menjaga Langit di saat dia masih bayi.
"Langit tenang saja, Om pasti akan cari cara agar mama kamu menyerah dan tidak mengganggu lagi kehidupan kita," ucap Rama.
"Makasih, Om!" lirih Langit.
"Sekarang lebih baik kita beli es krim. Kita rayakan kehamilan bunda kamu dengan makan yang manis-manis, agar kehidupan kita juga menjadi manis dan lebih bahagia," ajak Rama.
"Anak lelaki kan tidak boleh sering makan es krim," elak Langit.
"Itu sih ajaran papa kamu agar gigi kamu bagus karena tidak terlalu banyak makan yang manis-manis. Padahal makanan manis itu dapat membuat otak melepaskan hormon serotonin sehingga membantu untuk menstabilkan suasana hati dan mencegah datangnya depresi. Ayo kita ke supermarket, biar Om yang traktir. Tapi kamu cuci muka dulu agar tidak terlihat sehabis nangis," ajak Rama.
"Iya Om." Langit langsung mencuci mukanya di kran air yang berada di taman itu seraya menunggu Rama yang pulang dulu ke rumahnya.
Tak lama kemudian, Rama sudah kembali dengan sepeda motornya. Langit langsung duduk di depan Rama sedangkan Gilang duduk di boncengan. Setelah semuanya siap, Rama langsung menancap gas sepeda motornya dengan kecepatan sedang.
"Kita jalan-jalan dulu melepaskan pikiran yang kusut baru pulangnya beli es krim ya," ajak Rama pada Langit.
"Iya Om! Langit senang jalan-jalan naik motor Om Rama."
Dalam setiap perceraian, pasti anak yang akan menjadi korban. Tapi, seandaianya itu tidak bisa dihindari, sebisa mungkin jangan sampai perasaan anak merasa terombang-ambing karena keegoisan orang tuanya.
...~Bersambung~...
...Dukung terus Author ya kawan! Langsung klik like, comment, vote, rate, gift dan favorite....
...Makasih!...
__ADS_1