Harga Sebuah Daster

Harga Sebuah Daster
Bab 25 Bertemu Mantan Istri


__ADS_3

Hari ini begitu cerah, acara pemotretan untuk prewedding Tania berjalan dengan lancar. Anak-anak pun begitu menikmati saat fotografer membidiknya dengan kamera. Tania dan Rama nampak begitu bahagia karena impian mereka untuk bersanding di pelaminan tinggal menghitung hari saja.


Sementara itu, Amanda dan Gilang hanya melihat dari kejauhan. Saat anak-anaknya butuh mereka, barulah menghampirinya. Seperti saat ini, di saat anak-anak sedang bermain pasir, kedua orang dewasa itu hanya mengawasi saja dengan sesekali mengobrol. Namun, sepertinya ketenangannya sedikit terganggu saat Kia berteriak karena adiknya terus iseng padanya. Sedangkan Langit hanya menertawakan tingkah kedua kakak beradik itu.


"Bunda! Dede iseng!" teriak Kia


Amanda langsung menghampiri dan menenangkan anaknya. "Dede, sini main sama Bunda!"


Mendengar ada yang memanggil, Azka pun langsung menghampiri bundanya. "Bunda, ade mau berenang tapi Kakak tidak mau diajak renang."


"Renangnya di kolam saja, di laut bahaya." Amanda pun memberi pengertian pada anaknya.


"Ayo sama Om! Langit ayo mau ikut renang juga?" ajak Gilang.


"Ayo!" Kompak dua anak lelaki itu.


Gilang pun membawa Azka d Langit ke tepi pantai. Mereka bertiga bermain air dengan begitu senang. Amanda terharu melihat semua itu karena perceraiannya dengan Apandi membuat kedua anaknya merindukan sosok seorang ayah.


Setelah ketiganya puas bermain air, mereka pun langsung membilas tubuhnya di tempat yang sudah disediakan. Sementara, Amanda dan Kia sudah menunggu di luar kamar mandi untuk membawa Azka berganti baju. Selesai memakaikan baju pada Azka, Gilang mengajak Amanda dan anak-anak untuk ke restoran karena sudah masuk jam makan siang. Sedangkan Tania dan Rama masih belum selesai dengan sesi fotonya.


"Rama, duluan ke resto ya!" pamit Gilang yang hanya dijawab anggukan oleh Rama karena dia sedang berpose di depan kamera


Sesampainya di restoran, Gilang langsung mencari tempat yang luas agar bisa muat untuk keluarga kecil dadakannya. Hatinya sangat senang bisa menikmati kebersamaan dengan Langit dan juga anak-nak Amanda. Dia merasa memiliki keluarga yang lengkap dengan kehadiran Amanda dan anak-anaknya.


Apa Amanda mau ya, kalau aku ajak menikah? Tapi, apa Langit setuju kalau aku menikah lagi? Selama ini, dia selalu menolak setiap ada wanita yang ingin mendekatiku. Aku pun sama tidak suka dengan wanita-wanita yang datang mendekatiku. Entah kenapa kalau sama Amanda aku merasakan perasaan yang berbeda. Semakin aku mengenalnya, semakin aku ingin memilikinya, batin Gilang.


"A, A Gilang mau pesan apa?" tanya Amanda. Namun, Gilang hanya diam dengan menatap lekat pada Amanda.

__ADS_1


"A Gilang mau pesan apa," tanya Amanda lagi. Namun, lagi-lagi Gilang tidak merespon pertanyaan Amanda. Sampai akhirnya Langit menyadarkan papanya yang sedang melamun.


"Papa, kata tante mau pesan apa?" Langit langsung menepuk tangan papanya yang sedari tadi asyik melamun.


"Eh, Papa ...." Gilang menjeda ucapannya karena kaget saat melihat banyak pasang mata mengarah padanya, "Papa samain aja," ucapnya kemudian.


Setelah pelayan itu mencatat semua pesanan, dia pun beranjak pergi. Dia akan menyetorkan pesanan pada bagian koki yang akan menyiapkan makanan yang dipesan oleh pelanggan. Sembari menunggu pesanan, Amanda pun ijin untuk ke toilet dulu dan menitipkan anak-anaknya pada Gilang.


Namun, sepertinya keberuntungan sedang tidak berpihak padanya. Saat Amanda akan menuju ke toilet, tanpa sengaja kakinya tersandung kaki seorang pelanggan yang menjulur ke luar sehingga dia menabrak meja seorang wanita cantik dan menumpahkan jus yang ada di depan wanita cantik itu.


"Hey! Apa yang kamu lakukan? Lihat bajuku kotor!" sentak wanita cantik itu.


" Maaf, Mbak! Tadi aku tersandung sama kaki si Mas ini," tunjuk Amanda pada lelaki yang ada di depan wanita cantik itu.


"Alasan saja kamu! Aku gak mau tahu, pokoknya kamu harus mengantikan bajuku. Kamu tahu, ini limited edition!" Wanita cantik itu tidak segan memarahi Amanda meskipun di tempat umum.


Saat wanita cantik itu akan menjawab pertanyaan Amanda, dia langsung terdiam manakala melihat Gilang berada di samping Amanda.


"Kenapa, Manda? Bukankah kamu mau ke toilet?" tanya Gilang yang menghampiri Amanda karena tadi melihat Amanda seperti sedang dimarahi orang. Beruntungnya Rama dan Tania baru datang sehingga anak-anak dia titipkan pada mereka.


"Gilang!" panggil wanita cantik itu.


"Melisa," lirih Gilang. Dia tidak menyangka akan bertemu dengan mantan istri yang telah tega meninggalkan anak dan suaminya demi bersama dengan cinta pertamanya.


Gilang tidak pernah menyangka, pernikahannya dengan gadis yang dia sukai sedari kecil akan berujung perceraian. Dia juga tidak pernah menyangka kalau Melisa merasa terpaksa menikah dengannya. Hanya karena tuntutan orang tuanya yang memang sudah menjodohkan mereka sedari kecil.


"Apa kabar, Lang? Apa Langit ikut bersamamu?" tanya Melisa.

__ADS_1


"Manda bukankah ku mau ke toilet? Pergilah! Biar masalah ganti rugi aku yang urus." Bukannya menjawab pertanyaan Melisa, Gilang malah menyuruh Amanda untuk pergi.


"Kalau begitu aku ke toilet dulu ya! Udah kebelet," bisik Amanda pada Gilang.


Gilang hanya tersenyum mendengar bisikan dari Amanda. Ada geleyar aneh saat napas Amanda menerpa kulitnya. 'Sepertinya aku sudah terjerat dengan pesona janda daster itu,' pikirnya.


"Aku juga mau ke toilet, mau membersihkan bajuku yang kotor," pamit Melisa yanga langsung pergi menyusul Amanda.


Gilang duduk di depan lelaki yang tadi duduk bersama dengan Melisa. Sedari tadi dia hanya fokus pada benda pipihnya. Bahkan istrinya membuat keributan pun, dia hanya masa bodoh.


"Apa kabar Jakson? Sudah lama kita tidak bertemu," sapa Gilang.


Mendengar ada yang menyapanya, Jakson pun langsung melihat ke arah asal suara. "Wow, aku tidak menyangka bertemu dengan sahabatku, aku baik! Kabarmu bagaimana?"


"Aku juga baik, kapan kalian kembali ke tanah air?" tanya Gilang.


"Baru satu minggu, aku sedang ada urusan jadi kembali ke sini bersama dengan Melisa," jawab Jakson.


Mereka pun larut dalam obrolan. Sampai akhirnya Gilang menyadari kalau Amanda belum kembali dari toilet. Setelah pamit pada Jakson, Gilang pun segera menyusul Amanda. Namun, saat dia baru beberapa langkah, terlihat Amanda datang dengan memegang pipi kirinya.


"Manda, kamu gak papa?" tanya Gilang.


"Aku gak papa kho, A! Ayo, nanti makanannya keburu dingin!" ajak Amanda.


Gilang hanya mengikuti langkah kaki Amanda dari belakang. Menatap dalam punggung ringkih wanita yang sudah mengusik hari-harinya. Dia ingin bertanya, namun akhirnya dia urungkan karena Amanda mempercepat langkahnya menuju ke kursinya.


Apa yang sebenarnya terjadi, sepertinya Amanda menyembunyikan sesuatu, batin Gilang.

__ADS_1


...~Bersambung~...


__ADS_2