
Hari sudah beranjak sore, sang surya pun sudah siap kembali ke peraduannya. Terlihat Langit sedang bermain mobil off-road bersama dengan Azka. Dia sengaja mengajak Azka untuk nail mobil remote bersamanya. Meskipun mereka tidak memiliki hubungan darah, tetapi Langit sangat menyayangi calon adik sambungnya itu.
Saat mereka sedang asyik bermain dengan Pak Ageng yang sedari tadi terus memperhatikan keduanya di teras rumah. Terdengar ada suara deru mobil yang memasuki halaman rumah. Langit langsung menghentikan mobil remote-nya saat tahu yang memasuki halaman rumah kakeknya adalah mobil milik Rama.
"Om, Tante!" panggil Langit dengan mengajak Azka untuk menghampiri Rama yang baru turun dari mobil.
"Hallo jagoan, Om!" Rama langsung menggendong satu persatu Langit dan Azka seraya mencium pipinya.
"Om, nanti gak boleh cium Langit lagi! Sekarang Langit sudah besar, sudah punya adik dua," seru Langit saat Rama sudah menurunkannya.
"Dede Azka saja gak protes tuh Om cium," ucap Rama yang masih menggendong Azka seraya membawanya untuk menemui Pak Ageng.
"Dede kan masih kecil, kalau aku udah besar, Om!" sanggah Langit.
"Iya, ponakan Om yang udah besar. Kalau Om gemas pengen cium msih boleh 'kan?" tanya Rama.
"Boleh tapi bayarannya main di timezone," ucap Langit dngan tersenyum lebar.
Pengen banget aku cubit pipi mulusnya Langit. Andai gak ada Om Ageng, batin Rama.
Setelah di depan Pak Ageng, Rama dan Tania pun langsung mencium punggung tangan lelaki paruh baya yang sangat dihormatinya. Meskipun sudah pensiun, tetapi wibawa dan aura kepemimpinannya sangat lekat. Membuat semua orang sangat segan padanya. Tak terkecuali Rama, meskipun terkadang mereka suka becanda.
"Aduh pengantin baru, mukanya terlihat sangat berseri. Kamu sanggup berapa ronde, Rama?" tanya Pak Ageng.
"Tentunya lebih dari satu ronde, Om!" Rama tersenyum lebar yang membuat Pak Ageng terkekeh.
"Bagus, itu baru namanya pria sejati," ucap Pak Ageng seraya menepuk pundak Rama. "Om minta maaf, kemarin tidak datang ke acara pernikahanmu. Biasalah Ram, ada sedikit masalah di markas."
__ADS_1
"Gak apa-apa, Om! Tante 'kan datang. Makasih loh Om hadiahnya," ucap Rama dengan melirik ke arah mobil barunya.
"Sama-sama, bisa kita bicara hanya berdua saja, Ram?" tanya Pak Ageng.
"Bisa, Om!" jawab Rama, "Azka sama Tante dulu ya!"
"Iya, Om!" jwab Azka
Rama dan Pak Ageng pun berlalu menuju ke ruang baca. Sementara Tania, Azka dan Langit masuk ke dalam untuk menemui Amanda yang sedang berbincang dengan Bu Rianti dan Gilang. Setelah dipikir-pikir akhirnya diputuskan pernikahannya sekalian dengan pesta kecil-kecilan yang akan mengundang saudara dekat dan rekan bisnis saja.
"Bunda, lihat! Tante datang sama Om Rama, tapi Om Rama diajak kakek ke ruang baca," ucap Langit.
"Sini, Tan! Kita ngopi bareng," ajak Amanda dengan memberi tempat pada Tania.
Tania pun langsung menghampiri Amanda. Namun terlebih dahulu dia mencium punggung tangan Bu Rianti. "Apa kabar, Tan?" tanya Tania.
"Alhamdulillah, Tante baik!" jawab Bu Rianti, "kebetulan ada Tania. Nanti bantuin Amanda untuk memilih konsep pernikahannya. Dari tadi calon pengantin ini bingung. Malah menyerahkan semuanya sama Tante. Kalau pengantin yang pilih langsung kan biar nanti gak kecewa."
"Santai saja, Manda. Jangan sungkan sama Ibu! Kamu tahu, Ibu senang sekali akhirnya putra sulung yang beku kini mencair. Apalagi calon istri yang dipilihnya adalah wanita yang baik." Bu Rianti memegang tangan Amanda. Dia ingin meyakinkan Amanda kalau apa yang dikatakannya jujur dari hatinya.
"Manda takut semua ini hanya mimpi. Manda merasa sangat beruntung bisa bertemu dengan orang-orang baik seperti keluarga A Gilang dan A Rama. Terima kasih, Ibu sudah menerima Manda dengan baik," ucap Amanda sendu.
"Sayang, apa sebelumnya kamu selalu bertemu dengan orang jahat? Sampai merasa beruntung bertemu dengan kami," tanya Bu Rianti.
Amanda hanya diam tidak menjawab apa yang calon ibu mertuanya katakan. Hatinya sakit jika harus mengingat semua yang dilakukan mantan suami dan mantan mertuanya. Sampai akhirnya Tania yang mewakili sahabatnya untuk bicara.
"Sahabat aku ini, mungkin salah satu dari banyaknya istri yang kurang beruntung dalam pernikahannya, Tan. Untuk itu aku minta pada Tante maupun A Gilang, tolong jangan menyakitinya lagi. Kalau pun Manda melakukan kesalahan, tolong ditegur baik-baik!" pinta Tania.
__ADS_1
Gilang langsung menghampiri Amanda dan berjongkok di depannya. Membuat Bu Rianti tertegun dengan apa yang dilakukan putra sulung. Tak berbeda dengan Bu Rianti, Tania pun merasa kaget dengan apa yang dilakukan oleh Gilang.
"Manda, aku menikahi kamu bukan untuk menyakiti ataupun hanya untuk memuaskan hasrat aku. Aku menikahi kamu, karena Allah. Aku ingin menghabiskan sisa hidupku bersamamu menjadi orang tua yang utuh untuk anak-anak kita. Percayalah padaku!" Gilang terus menggenggam tangan Amanda dengan menatap ke dalam manik coklat milik calon istrinya.
Merasa terharu dengan apa yang dikatakan oleh Gilang, Amanda langsung memeluk pria tampan yang berjongkok di depannya dengan setetes air mata yang jatuh membasahi pundak Gilang.
"Makasih, A! Makasih sudah menerima aku dan anak-anak," lirih Amanda dengan suara yang sedikit bergetar.
Gilang mengelus punggung Amanda pelan. Dia ingin meyakinkan, bersamanya Amanda tidak akan lagi mendapatkan perlakuan yang tidak adil, seperti apa yang diterima dari mantan suami Amanda.
"Udah dong pelukannya! Siapa yang pengantin baru siapa yang nempel terus," goda Rama yang baru datang bersama dengan Pak Ageng.
Sontak saja Amanda langsung melepaskan pelukannya. Pipinya langsung bersemu merah seperti kepiting rebus. Dia baru sadar kalau disekelilingnya sudah banyak orang yang melihat termasuk anak-anaknya. Apalagi, Pak Ageng juga ternyata memperhatikan apa yang dilakukan oleh putra dan calon menantunya.
"A, ganggu suasana aja!" tegur Tania.
Rama hanya cengengesan saat mendapat teguran dari istrinya. Dia dan Pak Sugeng langsung bergabung bersama dengan yang lainnya. Nampak ruang keluarga yang biasanya sepi kini menjadi ramai.
"Gilang, tadi Bapak sudah bicara dengan Rama. Kalau saran Bapak, setelah nanti kamu dan Amanda menikah lebih baik pindah ke Jakarta saja. Bukankah rumahmu yang di sana juga kosong terus. Kamu fokus saja dengan kantor pusat. Biar nanti Galih yang memegang pabrik Cikarang," saran Pak Ageng.
"Ma-maaf Pak, tapi bagaimana dengan konveksi yang baru aku bangun?" tanya Amanda.
"Kamu tenang saja Manda! Seminggu sekali kamu bisa mengecek perkembangan konveksi kamu. Nanti biar Rama mencari orang yang bisa dipercaya untuk operasional konveksi kamu. Yang penting setiap kali ke Cikarang usahakan kalian selalu bersama," ucap Pak Ageng.
"Baik, Pak! Nanti aku minta Mang Sukri untuk menyiapkan kamar buat anak-anak dulu," sahut Gilang.
...~Bersambung~...
__ADS_1
...Dukung terus Author ya kawan! Jangan lupa klik like, comment, vote, rate, gift dan favorite....
...Terima kasih!...