Harga Sebuah Daster

Harga Sebuah Daster
Bab 66 Melisa Insyaf


__ADS_3

Selama tiga hari Amanda di rawat pasca melahirkan bayi kembarnya. Dia pun sudah pulang ke rumah karena kondisinya sudah membaik. Bu Rianti dan Pak Ageng begitu senang menyambut kehadiran anggota baru dalam keluarga besarnya. Kedua paruh baya itu berebut ingin memberikan nama untuk cucunya. Namun, mereka harus menerima keputusan GIlang karena Papa si kembar itu sudah memiliki nama untuk anak kembarnya.


"Sudah Pak, Bu! Kalian jangan berdebat untuk nama bayi kembar aku karena aku sudah memiliki nama untuk mereka. Aidan Ramadhan Putra dan Aileen Ramadhan Putri," ucap Gilang melerai perdebatan kedua orangtuanya.


"Yah, kenapa kamu tidak memberi kesempatan untuk Ibu memberi nama pada cucuku," keluh Bu Rianti.


"Karena Bapak sama Ibu pasti tidak akan menemukan titik terang kalau sudah berebut nama cucu. Dulu juga waktu Langit lahir, Ibu sama Bapak sampai diam-diaman karena salah satu usul kalian tidak terpakai," jelas Gilang.


Amanda hanya tersenyum melihat perdebatan yang terjadi di antara keluarga suaminya. Dia sangat bahagia karena anak-anaknya diterima baik oleh Bu Rianti dan Pak Ageng.


"Ya sudah, Ibu mau menggendong cucuku dulu," ucap Bu Rianti.


"Bapak juga mau, Bu. Tolong simpan bayinya di tangan Bapak!" Pak Ageng langsung mengambil posisi seperti sedang menggendong bayi. Bu Rianti pun langsung mengambil salah satu bayi Amanda dan menyimpan di tangan suaminya.


Terlihat Pak Ageng mengangkat kedua sudut bibirnya membentuk bulan sabit. Ada kebahagian tersendiri di hatinya saat mihat wajah tak berdosa dalam gendongannya. Pak geng pun membaca sebuah do'a untuk kebaikan cucunya dan meniupkannya di ubun-ubun bayi kecil itu.


"Bapak jadi teringat saat dulu kamu dan Galang lahir. Bapak dan Ibu berbagi tugas menjaga kalian berdua. Sekarang kamu pun memiliki bayi kembar. Meskipun Amanda tidak meminta bantuan untuk mejaga kedua anak bayimu, tapi kamu harus punya inisiatif sendiri untuk membantu menjaga bayi kembar kalian," pesan Pak Ageng.


"Iya, Pak. Pesan Bapak pasti Gilang ikuti. Meskipun Gilang tidak bisa mengikuti jejak Bapak di militer," ucap Gilang.


"Tidak apa, meski kalian kembar tapi kamu dan Galang memiliki bakat yang berbeda. Benar apa yang ibumu ucapkan dulu, kalau kamu lebih berbakat dalam bisnis." Pak Ageng teringat kembali saat dia memaksa Gilang untuk masuk ke akademi militer.


Namun putranya itu bersikeras menolak dengan alasan tidak mau jauh dari Melisa. Namun, ternyata Gilang justru tidak memilih kampus yang sama dengan Melisa. Melainkan memilih kampus yang ada di kota kembang.


...***...


Sementara di tempat yang berbeda. Di sebuah pusat rehabilitas pecandu alkohol, nampak Melisa sedang menerima tamu. Ya dia kedatangan Melani, adik perempuannya yang selalu menguntit dia. Bukan Melisa tidak tahu kalau adiknya itu selalu menyukai barang apapun yang dia miliki. Tapi rasa sayangnya pada sang adik, membuat dia tidak pernah mempermasalahkannya.


"Kakak, berapa lama lagi tinggal di sini?" tanya Melani.

__ADS_1


"Mungkin tiga bulan," jawab Melisa.


"Kenapa lama sekali, padahal aku sudah kangen untuk hang out bareng Kakak. Lagian kenapa juga ayah memasukkan kakak ke sini? Seperti pesakitan saja," keluh Melani.


"Aku memang pesakitan, Mel. Aku baru sadar, setelah beberapa bulan di sini. Semua yang aku lakukan salah dan apa yang terjadi padaku, mungkin karena akibat dari semua kesalahanku di masa lalu." Melisa tersenyum getir mengingat kehidupannya yang kini berubah menjadi menyedihkan.


"Kak, kakak hanya berusaha mengejar kebahagiaan. Menurut aku itu bukan kesalahan. Kita berhak untuk bahagia bersama orang yang kita cintai."


Aku pun akan mengejar kebahagiaanku bersama Kak Gilang. Kalau Kak Melisa sudah menyerah, batin Melani.


"Lani, Kakak harap kamu jangan mengganggu kebahagiaan Gilang dan Langit. Karena bukan kamu ataupun Kakak yang bisa membuat mereka bahagia, tapi istrinya yang sekarang. Kakak tidak akan mengingatkan kamu kembali, tapi kalau kamu masih mengganggu mereka, jangan salahkan Kakak jika menghukum kamu!" Melisa langsung memberikan peringatan pada adiknya. Meski Melani tidak mengatakan apapun tapi Melisa bisa menebak isi hati adiknya.


"Enggak kho, Kak! Aku-aku tidak mungkin melakukan hal itu," elak Melani.


"Baguslah, nanti setiap hari Sabtu berkunjunglah ke mari. Kita mendengarkan kajian bersama-sama," suruh Melisa.


Apa-apaan Kak Melisa? Aku diajak mendengar ceramah agama. Memangnya aku penjahat yang harus insyaf? Gerutu Melani dalam hati.


"Iya Kakakku sayang! Aku pasti datang!" Melani pun dengan terpaksa membuat janji pada kakaknya.


Setelah lama berbincang, akhirnya Melani pamit untuk pulang karena hari sudah sore. Dia membawa mobilnya dengan kecepatan tinggi karena takut kemalaman di hutan yang harus dia lewati. Namun, saat sedikit lagi dia keluar dari hutan, tiba-tiba mobilnya mogok karena kehabisan bensin.


"Sial! Kenapa aku sampai lupa untuk memeriksanya? Bagaimana ini, sebentar lagi gelap. Aku malah terjebak di hutan," gerutu Melani.


Dia terus menggerutu mengumpat karena kebodohannya. Sampai akhirnya ada sebuah mobil yang berhenti di depannya. Melani tidak berkedip melihat ketampanan lelaki yang datang menghampirinya.


"Nona, kenapa berhenti di hutan? Apa ada masalah?" tanya seorang lelaki tampan begitu ramah padanya.


"Mobilku mogok kehabisan bensin," jawab Melani.

__ADS_1


"Mau aku bantu? Kebetulan villa aku tidak jauh dari sini. Kamu bisa menginap semalam. Tenang saja aku tidak akan macam-macam," ucap pemuda tampan itu.


Hanya satu macam yang akan aku lakukan, mengajakmu mengarungi lautan kenikmatan.


"Boleh deh! Aku takut di sini," jawab Melani.


Pemuda itu pun langsung memasang tali untuk menarik mobil Melani dengan mobilnya. Dia mengajak Melani untuk berpindah duduk di mobil miliknya. Mereka berdua begitu cepat akrab karena pribadi pemuda tampan yang humoris membuat lawan bicaranya menjadi tidak canggung.


"Setelah kita lama mengobrol, tapi aku lupa mengajak kamu berkenalan. Aku Dani, nama kamu siapa?" tanya Dani.


"Aku Melani."


" Senang berkenalan denganmu. Kamu masih kuliah apa sudah bekerja?" tanya Dani.


"Aku sudah bekerja di Green Textile."


Tidak lama kemudian, mereka pun sampai di villa yang dimaksud oleh Dani. Keduanya langsung masuk karena hari sudah semakin gelap. Melani terlihat begitu senang mendapat perhatian dari orang yang baru dikenalnya. Sampai saat hari mulai larut, Dani mulai melancarkan aksinya dengan seribu bujuk rayu agar Melani mengikuti keinginannya.


"Mel, kamu terlihat sangat cantik sekali memakai baju itu. Aku suka!" ucap Dani dengan mengikis jarak di antara mereka berdua.


"Masa sih?" tanya Melani malu-malu.


"Beneran! Setelah ini, kita temenan yuk, aku pasti akan mengunjungi kamu ke Cikarang!" sahut Dani dengan meniup tengkuk Melani. Hingga bulu kuduk gadis itu berdiri.


Perlahan Dani mengecup singkat bibir merah Melani. Merasa tidak ada perlawanan, dia pun semakin memperdalam ciumannya. Akhirnya, apa yang Dani harapkan terjadi karena ternyata Melani pun begitu menikmati apa yang Dani lakukan padanya.


Aku pikir dia masih perawan, ternyata sudah jebol. Pantas saja dia tidak menolak aku, ternyata dia juga player.


...~Bersambung~...

__ADS_1


...Jangan lupa dukungannya ya kawan! Klik like, comment, vote, rate, gift dan favorite....


...Terima kasih!...


__ADS_2