Harga Sebuah Daster

Harga Sebuah Daster
Bab 15 Banyak Duit


__ADS_3

Seiring berjalannya waktu, kini usaha konveksi Amanda sudah bisa mengembalikan modal yang kedua sahabat itu keluarkan. Semakin tinggi permintaan pelanggan, membuat Amanda menambah lagi tiga orang tenaga kerja yang membantunya dalam usaha konveksi yang diberi nama 'Dua Sejoli'.


Selain menambah tenaga kerja untuk di konveksi, Amanda juga mempekerjakan orang untuk menjaga anak-anaknya sekaligus membersihkan rumah. Hal itu dia lakukan karena Amanda terkadang tidak sempat mengurus rumah akibat selalu sibuk dengan usaha konveksi yang baru dibukanya.


Namun, sesibuk apapun Amanda, dia pasti menyempatkan diri untuk bercengkrama dengan kedua anaknya sebelum berangkat ke tempat kerjanya. Begitupun jika hari minggu, Amanda berada seharian di rumah karena dia sengaja meliburkan karyawannya di hari minggu untuk mengistirahatkan tubuhnya dan memberi waktu agar bisa bercengkrama dengan keluarga.


"Bunda, Kakak mau beli pensil warna baru. Yang ini sudah pendek-pendek, dipakainya gak enak!" Cebik Kia saat dia mengadu pada bundanya.


"Ya sudah, kita ke minimarket yang ada di taman komplek yuk!" ajak Amanda.


"Hore!" teriak Kia seraya berjingkrak-jingkrak kegirangan karena dia akan diajak jalan-jalan pakai motor.


Amanda pun langsung membawa kedua anaknya untuk pergi ke minimarket, dengan motor matic yang selalu setia menemani hari-harinya bekerja. Saat sampai di sana, terlihat begitu banyak pedagang kaki lima yang ada di sekitar taman komplek. Tak ketinggalan penjual bakso yang pasti selalu ada di mana-mana sudah ramai dengan pengunjung.


Kia terus menarik tangan Amanda agar segera masuk ke dalam minimarket dan membeli apa yang dia inginkan. Setelah satu keranjang penuh dengan cemilan dan kebutuhan rumah lainnya, ibu dua anak itu segera ke kasir untuk membayar semua barang yang dibelinya.


"Totalnya 275 ribu, Mbak ada kartu member?" tanya kasir itu.


"Ada, Mbak." Amanda langsung mengeluarkan dompet dan mengambil uang serta kartu member yang ditanyakan oleh kasir.


Entah datang dari mana, tiba-tiba Lela nyeletuk di belakang Amanda. "Wah, beda yah sudah jadi ibu bos. Duitnya saja merah semua. Apa kamu juga kerja sampingan dengan melayani mister? Secara ruko yang kamu sewa di depan pintu masuk kawasan yang sudah pasti sering ketemu sama mister."


Amanda menghela napas dalam sebelum menjawab apa yang Lela katakan. "Lela, kalau kamu nuduh itu harus ada bukti. Aku memang janda, apa harus aku melayani hidung belang karena status aku janda? Kamu tuh kalau ngomong selalu saja tidak pernah disaring. Lagian, sebelum kamu nuduh aku, mending kamu tanya dulu sama diri kamu sendiri. Sudah berapa banyak laki-laki yang kamu layani selama kerja di karaoke?"


Amanda langsung pergi begitu saja karena kesal pada Lela yang sering sekali memojokkannya dan menuduh yang tidak-tidak. Namun, rasa kesal Amanda sepertinya semakin bertambah saat dia bertemu dengan mantan mertuanya saat sedang menunggu bakso pesanannya.

__ADS_1


"Wah wah wah, sudah jadi janda duitnya jadi banyak, jajanannya juga yang mahal-mahal. Kamu pasti dapat duit dari malakin aki-aki yang mau tidur denganmu ya?" Tanpa melihat situasi, Bu Sopiah langsung menuduh Amanda yang tidak-tidak.


Ya ampun! Tadi ketemu dengan rubah sekarang nenek lampir. Apes banget kamu Manda ketemu dua orang yang tidak berguna ini, sungut Amanda dalam hati.


"Eh ada Ibu! Azka, Kia ayo salim sama nenek. Kita harus hormat sama orang yang lebih tua karena mungkin umurnya sudah tidak lama lagi," sarkas Amanda yang merasa kesal pada mantan mertuanya.


"Kamu mendo'akan ibu cepat mati?" Sewot Bu Sopiah yang langsung melotot tidak suka pada Amanda.


"Tentu saja tidak! Tapi kalau mau buru-buru juga gak apa-apa," ucap Amanda yang sudah kepalang tidak suka pada mantan ibu mertuanya. Rasa sakit yang selama ini dia pendam sendiri, membuat Amanda bertekad tidak akan membiarkan orang lain menindas dia lagi.


Sementara Kia dan Azka yang tahunya harus menyalami neneknya, kedua bocah itu langsung mengulurkan tangannya untuk mencium punggung tangan Bu Sopiah. Yang langsung disambut oleh Bu Sopiah dengan wajah yang masih terlihat masam karena tidak suka dengan apa yang Amanda katakan.


"Kia, Azka, tidak boleh jadi anak durhaka seperti bunda kamu. Apalagi mendo'akan orang tua cepat mati, bisa kualat!" sindir Bu Sopiah.


Mendengar perdebatan dua orang wanita yang berbeda generasi, membuat pelanggan yang sedang menikmati bakso menggelengkan kepalanya. 'Seperti tidak ada tempat lain saja, berantem kho di warung bakso,' pikir mereka.


Setelah mendapatkan pesanan baksonya, Amanda pun bergegas pergi tanpa berniat untuk pamit pada mantan mertuanya. Hal itu, jelas saja membuat Bu Sopiah merasa tersinggung dengan apa yang Amanda lakukan.


"Untung saja Pandi sudah menceraikan perempuan itu, tidak punya sopan santun!" ketus Bu Sopiah.


...***...


Sesampainya di rumah, Amanda langsung memakan bakso dengan sambal yang cukup banyak. Membuat kedua anaknya melongo karena punya bunda mereka kuahnya berwarna merah. "Kia tolong panggil Bi Isah! Bunda lupa belum memberikan bakso untuknya."


"Baik, Bun!" Kia langsung berlari kecil untuk menemui bibi yang menjaganya dan Azka. Seorang perempuan paruh baya yang kebetulan hidup sendiri setelah kematian suaminya, karena anaknya merantau ke kota lain. Sehingga dia sangat senang saat ditawari pekerjaan oleh Amanda untuk membersihkan rumah dan menjaga kedua anaknya.

__ADS_1


Saat mereka sedang asyk menikmati bakso, terdengar dari luar suara orang yang mengetuk pintu seraya mengucapkan salam.


"Assalamu'alaikum,"


"Wa'alaikumsalam," Kompak Amanda dan Bi Isah.


"Wah baksonya gak kebagi nih," seloroh Tania yang baru datang.


"Sini, Tan barengan punyaku!" ajak Amanda dengan melambaikan tangannya.


"Jangan Tante! Punya Bunda pedas, lihat saja merah begitu!" Kia langsung bergidik membayangkan jika dia memakan bakso bundanya yang terlihat pedas itu.


Tania melihat ke mangkuk Amanda seperti apa yang dikatakan oleh Kia. Dia langsung menggelengkan kepalanya melihat kuah Bakso milik Amanda. "Kamu lagi kesal sama siapa?" tebak Tania.


"Gak ada!" Bohong Amanda langsung menundukkan kepalanya. Entahlah, setiap kali bicara dengan Tania, pasti Amanda tidak bisa menyembunyikan apa yang sedang terjadi padanya.


"Sudahlah kalau gak mau cerita! Besok kita beli kain ke Tanah Abang. Lihat pemesanan di e-commerce meningkat drastis Manda! Kita bisa jadi kaya kalau tiap bulan pemesanan daster terus meningkat." Tania memeluk sahabatnya karena senang. Usahanya tidak sia-sia mendekati asisten pribadi CEO tempatnya bekerja. Karena dia, Tania bisa mendapatkan ruko dengan sewa murah. Ditambah lagi dia mendapatkan mesin jahit dengan kualitas yang baik dan harganya ramah di kantong.


Mungkin sudah waktunya aku memberitahu Manda siapa yang diam-diam sudah membantu, batin Tania.


...~Bersambung~...


...Dukung terus Author ya Kawan! Klik like, comment, vote, rate, gift dan favorite....


...Terima Kasih!...

__ADS_1


__ADS_2