Harga Sebuah Daster

Harga Sebuah Daster
Bab 38 Pemilik


__ADS_3

Mentari bersinar begitu cerahnya, memberikan secercah harapan bagi mereka yang mau berusaha untuk mengais rejeki. Seperti Amanda yang kini terlihat lebih bersemangat untuk pergi ke tempat usahanya. Kia sudah siap dengan seragam sekolahnya dan Azka pun sudah terlihat rapi. Bi Isah yang tidak perlu pergi ke pasar pagi-pagi, membuat dia lebih cepat untuk mengerjakan semua pekerjaannya.


"Bi, ayo kita sarapan bersama!" ajak Amanda.


"Iya, Neng sebentar. Bibi mau menjemur baju dulu. Neng Manda duluan saja," suruh Bi Isah.


Saat keluarga kecil itu sedang menikmati sarapannya, terdengar suara pintu ada yang mengetuk dari luar. Terlihat Gilang dan Langit sudah berdiri dengan gagahnya di depan pintu. Amanda pun langsung mempersilakan ayah dan anak itu untuk masuk ke dalam rumah.


"Masuk, A! Ayo sekalian kita sarapan bersama!" ajak Amanda setelah mencium punggung tangan Gilang.


"Bunda masak apa? Tadi Papa mengajak Langit untuk buru-buru, jadinya belum sarapan." Langit tersenyum manis dengan memamerkan deretan gigi putihnya.


"Ada sop ayam dan udang goreng tepung, tahu sama tempe. Maaf ya Langit, di rumah bunda makanannya sederhana," ucap Amanda dengan menuntun calon anak sambungnya. Sementara Gilang hanya mengikutinya dari belakang.


"Gak papa, Bun! Masakan Bunda kan enak, iya gak Pah?" Langit pun langsung meminta persetujuan atas pendapatnya pada Gilang.


"Tentu saja! Kan bundanya Langit," sahut gilang dengan tersenyum manis.


Melihat kedatangan Gilang dan Langit, Kia yang sedang makan sendiri langsung saja memangil tamunya untuk bergabung. "Papa, Kak Langit ayo makan!" ajak Kia


"Baiklah anak cantik Papa!" sahut Gilang.


Tanpa sungkan, Gilang langsung mengambil duduk di samping Amanda. Dia memang sudah diniatkan untuk menumpang sarapan di rumah Amanda. Entah kenapa, makanan apapun terasa enak jika dia memakannya bersama Amanda. Tak jauh berbeda dengan Langit yang selalu merasa senang jika berada di tengah-tengah keluarga calon ibu sambungnya.


Amanda pun langsung menyiapkan makanan untuk Gilang dan Langit. Setelah keduanya mendapatkan makanannya, kini suasana hening tercipta di ruang makan. Sampai akhirnya, suara Bi Isah memecah kesunyian.


"Neng Manda, kemarin Nak Apandi datang kemari. Katanya kangen dengan anak-anak. Bibi bilang saja kalau Neng Manda sedang berkunjung ke rumah calon mertua," ucap Bi Isah seraya membereskan piring ke dalam rak setelah tadi dia selesai menjemur baju.


"Iya, Bi!" sahut Amanda


Mendengar apa yang dikatakan oleh Bi Isah, Kia pun langsung merengek ingin bertemu dengan ayahnya. "Bunda, Kia mau ketemu sama ayah! Bunda telponin ayah biar ke sini lagi."


"Nanti, biar Papa yang temani Kia untuk bertemu dengan ayah. Kia mau kan?" tanya Gilang.


"Mau, Kia mau kho kalau Papa yang nemenin," ucap Kia dengan mata yang berbinar.


"Sekarang Kia habiskan dulu makannya, nanti Papa antar ke sekolah. Sekolah Kia kan sekarang dekat dengan Kak Langit," ucap Gilang.

__ADS_1


"Beneran, Pah?" tanya Kia menjadi lebih bersemangat untuk cepat-cepat menghabiskan makannya, sedangkan Langit hanya menggelengkan kepalanya dengan apa yang dilakukan oleh adik sambungnya.


Setelah Amanda menghabiskan sarapannya, dia pun langsung bergegas ke dapur untuk menyimpan piring kotor dan bicara dengan Bi Isah. "Bibi, di depan ada A Gilang. Nanti jangan bahas Mas Pandi di depan dia ya!"


"Maaf, Neng! Bibi tidak tahu, duh mulut suka asal ngomong saja," sesal Bi Isah


"Iya gak apa-apa! Manda titip Azka ya, Bi! Jangan lupa Bibi sarapan," pesan Amanda.


"Iya, Neng!" sahut Bi Isah.


Setelah semuanya menyelesaikan sarapan. Amanda dan Gilang pun berpamitan kepada Bi Isah. Keduanya sepakat untuk mengantar Langit dan Kia terlebih dahulu. Meskipun sebenarnya sudah disediakan jemputan untuk semua murid yang bersekolah di sana. Sesampainya di sekolah Langit, Amanda pun turun untuk menitipkan Kia pada gurunya.


"Pagi, Bu!" sapa Amanda.


"Pagi bundanya Kia!" sahut Bu Guru seraya mengulurkan tangannya mengajak bersalaman pada Amanda, yang langsung disambut oleh ibu dua anak itu.


"Maaf Bu, saya titip Kia! Kalau ada apa-apa tolong segera hubungi saya," ucap Amanda bicara formal pada guru Kia.


"Iya, Bu! Kia anaknya mudah bergaul, meskipun dia anak pindahan tapi temannya sudah banyak. Daya tangkapnya juga cepat," jelas Bu Guru.


"Iya Bu, hati-hati di jalan!" sahut Bu Guru.


Amanda pun langsung menuju ke mobil Gilang yang terparkir di luar gerbang sekolah. Pria tampan itu sengaja tidak turun dari mobil. Dia selalu merasa risih saat melihat tatapan kagum dari para ibu muda yang sengaja mengantar anak-anaknya sekolah.


"Bagaimana, sudah?" tanya Gilang saat Amanda sudah duduk di sampingnya.


"Sudah, A! Ayo kita ke konveksi!" ajak Amanda.


"Siap, Nyonya Gilang!" sahut Gilang langsung menyalakan mesin mobil.


Tidak butuh waktu lama, kini mobil Gilang sudah memasuki parkiran gedung konveksi Amanda. Semua karyawan baru yang belum mengenal keduanya saling bisik-bisik. Mereka memuji dengan ketampanan Gilang. Apalagi tunggangan yang dipakai sangat memukau mata.


"Beruntung sekali, Mbak itu! Bisa mendapatkan pemilik konveksi ini," bisik salah satu karyawan baru.


"Iya, benar! Andai saja dia menjadikan aku simpanannya, sungguh aku tidak keberatan,"


"Kamu tidak keberatan, tapi dia sangat keberatan menjadikan kamu simpanannya,"timpal temannya.

__ADS_1


Amanda hanya tersenyum saat samar-samar mendengar obrolan karyawannya. Dia terus berlalu menuju ke lantai atas bersama dengan Gilang yang setia mendampinginya. Beberapa karyawan lama yang sudah mengenal Amanda, langsung menyapa bosnya yang baru datang.


"Pagi, Mbak Manda, Pak Bos! Pak Rama sudah menunggu di atas." sapa Nurul seraya memberitahukan kedatangan Rama.


"Pagi juga Nurul, terima kasih ya!" sahut Amanda dengan tersenyum manis, sedangkan Gilang hanya menganggukkan kepalanya.


Amanda dan gilang pun terus melangkah menuju ke lantai. Terlihat dari kejauhan Rama bersama dengan seorang gadis cantik di ruang tunggu tamu. Gilang pun langsung mmepercepat langkahnya untuk bertemu Rama.


"Dari mana dulu kalian? Aku sudah menunggu dari tadi di sini," tanya Rama dengan raut wajah kesal.


"Aku mengantar Langit dan Kia sekolah," jawab Gilang.


"Ayo di dalam ngobrolnya!" Amanda segera menengahi dan mengajaknya untuk masuk ke dalam ruangannya.


Setelah semuanya berada di dalam ruangan Amanda, barulah Rama membuka suara. "Manda, kenalin ini Reina. Dia yang akan membantumu untuk urusan pembukuan. Reina, Bu Amanda ini pemilik CV. SAHABAT. Semoga kamu bisa betah bekerja di sini," jelas Rama


"Selamat bergabung ya Reina!" ucap Amanda dengan mengulurkan tangannya dan langsung disambut hangat oleh Reina.


"Terima kasih Bu, atas kesempatan dan kepercayaan yang Ibu berikan pada saya," ucap Reina.


"Ayo Reina, aku tunjukan ruangan kamu!" ajak Rama. Reina pun langsung mengikuti ke mana Rama membawanya.


Setelah kepergian Rama dan Reina, Gilang langsung mendekati Amanda. Tanpa sungkan dia langsung memeluk calon istrinya dari belakang. Dia merasa bangga karena bisa bertemu dengan seorang wanita yang berani bangkit dari keterpurukannya.


"Manda, sekarang kedudukan kita sama. Aku pemilik Green Textile dan kamu pemilik CV. SAHABAT. Aku harap kamu tidak lagi merasa kurang percaya diri berdiri di sampingku."


"Makasih, A! Berkat dukungan dari A Gilang, usahaku bisa seperti ini." Ada rasa nyaman saat Gilang memeluknya dari belakang.


"Tidak! Semua berkat kerja kerasmu. Aku mau berinvestasi karena aku melihat prospek usaha konveksi kamu bisa dikembangkan jika diberi sedikit tambahan modal. Terbukti kan, setiap hari permintaan pasar terus meningkat," ucap Gilang.


"Aduh Pak Bos masih pagi udah mesra-mesraan. Ayo kembali ke kantor, 30 menit lagi kita ada meeting!" seru Rama diambang pintu.


...~Bersambung~...


...Dukung terus Author ya kawan! Klik like, comment, vote, rate, gift, dan favorite....


...Terima kasih!...

__ADS_1


__ADS_2