
Tania nampak terkejut melihat pipi Amanda yang terdapat cap lima jari. Dia ingin bertanya, tetapi Amanda sudah memberinya isyarat terlebih dahulu agar sahabatnya itu diam dan tidak menanyakan apapun padanya. Sampai akhirnya Kia yang menyadari pipi bundanya berwarna merah, langsung bertanya pada Amanda.
"Bunda, pipi Bunda kenapa?" tanya Kia dengan menyelidiki pipi bundanya.
"Gak papa, sayang! Tadi Bunda gak sengaja nabrak pintu jadinya merah gini." Bohong Amanda.
"Bunda sih jalannya gak hati-hati, pasti sakit." Kia sudah seperti orang tua yang memarahi anaknya karena ceroboh.
"Iya, nanti gak lagi deh!" Amanda mengacungkan jari telunjuk dan jari tengahnya membentuk huruf V dengan senyum di bibirnya.
Sementara Gilang yang mendengar percakapan mereka, langsung saja melihat ke arah pipi Amanda yang seperti dengan sengaja Amanda sembunyikan darinya. Merasa geram karena Amanda selalu menengok ke arah lain. Gilang langsung mencengkeram rahang Amanda dan menengokkan wajah Amanda ke arahnya.
"Ayo ikut aku!" Gilang menarik tangan Amanda dan membawanya ke arah dapur restoran. Sampai di sana, Gilang meminta Es batu pada pelayan.
"Mas, bisa minta es batu?" tanya Gilang.
"Boleh Mas, sebentar saya ambilkan!" pelayan itu langsung mengambil es batu dan memberikannya pada Gilang.
"Makasih, Mas! Boleh saya duduk di sini sebentar?" Gilang meminta ijin untuk duduk di ruang istirahat karyawan.
"Boleh Mas, Silakan!" ujar pelayan restoran.
"Makasih, Mas!" Gilang langsung mengajak Amanda untuk duduk di kursi dan berhadapan dengannya.
Gilang pun langsung membalut es tersebut dengan sapu tangan handuk yang dia bawa, lalu meletakkannya pada pipi Amanda yang bekas tamparan selama 10 menit. Mendapat perlakuan itu dari Gilang, ada rasa haru yang menyeruak di hati Amanda. Dia tidak menyangka Gilang akan perhatian padanya.
"Makasih!" lirih Amanda dengan menatap lekat wajah Gilang yang sedang serius mengompres pipinya.
Mendengar apa yang Amanda katakan, Gilang pun menghentikan sejenak tangannya. Dia melihat ke arah Amanda yang sedang melihat. Ada desiran aneh yang dirasakan oleh Gilang dan Amanda saat kedua mata mereka saling bertemu. Hingga terdengar suara pelayan di belakangnya, keduanya pun memutuskan pandangannya.
__ADS_1
"Permisi Mas, Mbak! Saya mau ke loker," ucap seorang pelayan wanita.
"Silakan, Mbak! Kami sudah selesai kho," ucap Amanda dengan wajah yang memerah karena malu kepergok oleh pelayan restoran sedang berpandangan dengan Gilang. Sementara Gilang hanya cuek tidak peduli.
Merasa sudah tidak terlalu kelihatan warna merahnya, Gilang pun mengajak Amanda untuk bergabung kembali bersama dengan yang lain. Namun, saat sampai di sana terlihat Melisa yang sedang duduk bersama dengan Langit dan yang lainnya. Terdengar samar-samar kalau Melisa mengajak Langit untuk ikut bersamanya.
"Melisa, apa yang kamu lakukan?" tanya Gilang.
Mendengar suara papanya, bocah tujuh tahun itu langsung menghambur ke dalam pelukan Gilang lalu berkata, "Papa, Langit gak mau pergi dengan tante itu. Langit mau sama Papa."
Gilang langsung mensejajarkan tinggi badannya dengan putra semata wayangnya dan langsung memeluk putranya dengan erat. "Ke mana pun Papa pergi, Langit pasti ikut bersama dengan Papa! Jangan takut, tante itu tidak akan bisa membawa Langit bersamanya."
"Kamu jangan egois, Gilang! Langit itu putraku, aku berhak membawanya," sentak Melisa.
Melihat keributan antara Gilang dan mantan istrinya, Amanda dan Tania pun sepakat untuk pergi lebih dulu dan tidak ingin terlibat dalam keributan itu. Lagipula Amanda selalu menghindarkan anak-anaknya agar tidak melihat keributan orang dewasa.
"Jangan pernah berpikir untuk membawa anakku, kalau mau pergi, pergi aja sana!" usir Melisa.
Tanpa bicara lagi, Amanda pun langsung membawa anak-anaknya untuk istirahat di hotel yang diikuti oleh Tania. Sementara Rama, masih waspada di tempat duduknya memperhatikan mantan sahabatnya dulu. Sampai seorang pria bermata biru datang menghampirinya.
"Sudahlah Melisa! Aku juga tidak mau anakmu dari lelaki lain. Aku hanya mau kamu punya anak dari benihku," ucap Jackson yang datang tiba-tiba.
"Tapi Jack, Langit putraku. Bukankah sama saja karena dia lahir dari rahimku," bela Melisa.
"Bagaimana bisa kamu bilang sama, Mel? Dia bukan darah dagingku, aku hanya mau penerus dari darah dagingku sendiri. Aku juga tidak mau ada anak dari lelaki lain di pernikahan kita. Kalau kamu ingin membawanya, berarti kamu sudah setuju dengan rencana awal kita." Seperti tanpa beban, Jakson bicara pada istrinya.
"Aku tidak pernah menyetujui dengan apa yang keluargamu rencankan," sanggah Melisa.
Melihat pasangan suami istri yang malah berdebat di depannya. Gilang diam-diam pergi dari sana dengan membawa Langit. Tidak beda jauh dari Gilang, Rama pun langsung mengikuti Gilang yang diam-diam pergi.
__ADS_1
Saat keduanya sampai lobby hotel, mereka pun bertemu dengan Amanda dan Tania yang sedang duduk santai sambil bercerita. Sementara kedua anak Amanda sedang menikmati es krim.
"Lagi cerita apa nih? Kayaknya seru banget," goda Rama pada Tania.
"Itu, Manda cerita kalau dia ditampar sama yang mbak tadi." Ceplos Tania yang sukses mendapat pelototan dari sahabatnya.
"Tania ...." Amanda melotot ke arah Tania, tetapi yang mendapat pelototan hanya cengengesan.
"Maaf ya Manda! Malah kamu yang menjadi sasaran dia," ucap Gilang.
"Eh, gak papa, A! Tadi aku yang salah karena sudah menumpahkan jus ke bajunya," ucap Amanda.
"Kita istirahat saja dulu, biar nanti selepas ashar langsung pulang. Besok ada meeting penting, Lang. Ditambah lagi, mesin untuk usaha konveksi Manda datangnya besok. Nanti kamu hitung ya, berapa orang karyawan yang dibutuhkan biar kita bisa buka lowongan dan diseleksi oleh HRD Green Textile," tutur Rama yang langsung mendapat gelengan dari calon istrinya.
"Kita masih liburan tapi udah ngurusin kerjaan. Bikin badmood aja tahu," keluh Tania.
"Maaf sayang, itu kan demi masa depan kita dan anak-anak juga," rayu Rama yang langsung merangkul pundak calon istrinya dan membawanya menuju ke kamar hotel.
Amanda hanya menggelengkan kepalanya melihat kemesraan Rama dan Tania. Dia senang akhirnya Tania mendapatkan laki-laki yang benar-benar menyayanginya. Tidak seperti mantan-mantan Tania dulu yang hanya memberi janji palsu.
"Ayo jagoan, kita istirahat dulu!" Gilang langsung menggendong Azka dan menuntun Langit menuju ke kamar hotel meninggalkan Amanda yang masih melamun di tempatnya.
Menyadari semua orang meninggalkannya, Amanda pun segera mengajak Kia untuk istirahat. Ketika sampai di depan kamar hotel, terlihat Gilang yang sedang menunggunya karena Azka tidak mau masuk ke dalam kamar Gilang tanpa Amanda.
"Manda, Azka mau kita tidur bersama."
...~Bersambung~...
...Jangan lupa dukungannya ya kawan! Dikasih rate ⭐ 5 juga othor seneng banget! Biar tambah semangat nulisnya....
__ADS_1