Hasrat Tuan Impoten

Hasrat Tuan Impoten
HTI | Bab 32


__ADS_3

Sheren masih malu-malu saat Nathan memanggilnya dengan panggilan sayang itu. Laki-laki itu memang selalu bertindak dan berkata yang membuat Sheren malah jadi sebel sendiri. Bukankah seharusnya dia tidak perlu bertanya, karena itu hanya akan membuatnya malu-malu.


“Kamu manggil aku sayang, tapi aku enggak harus manggil kamu sayang juga kan?” tanya Sheren sembari menyuapkan makanan ke mulutnya sendiri. Dia berusaha menyembunyikan perasaan malu-malunya dengan cara makan.


Nathan yang dari tadi sibuk memandangi wajah Sheren, kini mengerutkan kening saat mendapat pertanyaan yang keluar dari mulut istrinya itu.


“Ya, namanya suami istri, masa aku panggil kamu sayang, tapi kamu panggil akunya pakai nama aja,” protes Nathan.


Sheren merasa aneh jika harus memanggil Nathan dengan panggilan Sayang itu, tetapi dia juga berpikir bahwa mungkin saja Nathan ingin membuat hubungan pernikahan mereka lebih baik nantinya.


“Ya terserah ajalah. Yang penting itu hatinya yang beneran sayang, bukan cuma mulutnya aja,” balas Sheren dengan cuek.


Nathan seperti ditaampar oleh kata-kata sang istri itu. Memang benar yang ada dalam pikiran Sheren, bahwa yang paling penting adalah ungkapan sayang dengan hati, bukan hanya panggilan mesra yang hanya terdengar manis di telinga.


***

__ADS_1


Sheren dan Nathan sampai di kantor setelah berangkat bersama dengan mobil. Pasangan suami istri itu terlihat romantis layaknya pengantin baru yang bergandengan tangan di mana pun. Walaupun raut wajah Sheren terlihat canggung karena tatapan beberapa karyawan. Namun, Nathan tidak peduli. Dia tetap menggandeng mesra tangan Sheren sampai ke ruangannya.


“Orang-orang pasti berpikir kalau kita ini norak banget,” kata Sheren setelah memasuki ruang kerja sang suami.


“Biarin aja orang bilang apa yang penting kan aku sama kamu yang menjalaninya,” balas Nathan sambil menjatuhkan tubuhnya di kursi.


Di kantor ini, posisi Nathan masih belum bisa dikatakan kuat. Tuan Winata masih belum memberi kepercayaan untuk memimpin karena Nathan dianggap belum bisa bertanggung jawab pada perusahaan dan para karyawan.


“Kamu ngomongnya kayak kita ini saling mencintai aja,” balas Sheren sambil terkekeh geli.


“Kamu tahu tidak, kalau kita akan terus bersama dalam pernikahan ini. Jadi, kita nikmati dan jalani saja pernikahan kita. Dan oleh sebab itu, aku sama kamu harus bisa saling mencintai selamanya,” kata Nathan.


Sheren mengalihkan pandangan pada rak buku yang tersusun rapi tak jauh dari meja kerja suaminya. Otaknya mulai mencerna setiap kata yang baru saja Nathan katakan. Mereka tidak mungkin berpisah, karena Nathan memiliki kelainan yang hanya bisa disembuhkan olehnya. Sementara Sheren membutuhkan sosok suami yang hati yang setia, tidak seperti mantan pacarnya.


Nathan danSheren masih berada di posisi yang sama dan tidak berubah sejak tadi. Tiba-tiba, Revan muncul dan membuat kedua manusia itu jadi salah tingkah.

__ADS_1


“Eh sorry ya, aku pikir kalian lagi kerja. Aku ke sini bawa dokumen pekerjaan yang kalian tinggalkan,” kata Revan sambil membawa beberapa berkas dan juga satu kotak hadiah berukuran sedang.


“Iya istriku maunya langsung kerja. Padahal, aku masih mau honeymoon sambil menikmati masa-masa pengantin baru.” Nathan menyahut sambil merangkul pinggang Sheren. Dia menatap sang istri dengan genit.


“Alah bilang aja kamu mau aji mumpung. Mentang-mentang sekarang si ular kadut udah jadi ular kobra,” balas Revan sembari meletakkan barang bawaannya itu ke atas meja.


“Namanya Ucup bukan ular kadut apalagi ular kobra,” kata Sheren yang kemudian mengambil berkas yang Revan bawa.


Revan dan Nathan terkekeh dengan pikiran mereka yang berbeda. Sementara Sheren penasaran dengan hadiah yang Revan bawa. “Ini apa?”


“Oh itu. Dari bagian sekretariat itu. Kado pernikahan buat kalian. Buka aja!”


***


Kira kira isinya apa ya gaess.. Kembang kopi apa vote 🤣🤣

__ADS_1


__ADS_2