
Mama Lita mengajak Sheren dan Nathan ke rumah sakit untuk memeriksakan kandungan wanita cantik itu. Calon ayah dan calon nenek itu begitu antusias saat melihat makhluk hidup yang kini sedang tumbuh dan berkembang di rahim Sheren.
“Cucu Granma sehat-sehat ya, Sayang.” Mama Lita mengusap perut Sheren usai melakukan pemeriksaan.
Saat ini mereka sedang menunggu Nathan yang tengah menebus vitamin yang telah diresepkan untuk Sheren. Mereka memang hanya pergi bertiga karena tidak ada sopir yang ikut serta.
“Siap Granma.”
Dua wanita dewasa itu sedang membuat adegan seolah-olah bayi Sheren dan Nathan itu sudah terlahir ke dunia. Padahal, itu hanya suara Sheren yang menirukan suara anak kecil.
Sheren dan mertuanya memang sama-sama cocok. Mereka sangat kompak dan begitu cocok satu sama lain. Bahkan, jika dilihat, Sheren dan Mama Lita lebih mirip ibu dan anak ketimbang sebagai mertua dan menantu.
Nathan sudah selesai menebus resep. Laki-laki itu menghampiri istri dan ibunya yang masih membicarakan seputar kehamilan dan banyak hal tentang bayi itu. Sampai-sampai, kehadiran Nathan yang sudah tepat berada di dekat mereka pun, seolah tidak nyata.
“Mama sama Sheren kalau ngobrol kok kayak nggak ada makhluk lain aja,” kata Nathan yang kini mengambil duduk di sebelah Sheren.
Mama Lita dan Sheren dengan kompak menatap Nathan yang merasa cemburu dengan kedekatan mereka.
“Ya, namanya sesama perempuan, Than. Mau ngobrol sama kamu juga pasti nggak nyambung. Kamu cocoknya ngobrol sama Papa,” balas Mama Lita.
__ADS_1
Sheren mangut-mangut menyetujui ucapan mertuanya. Memang, sebagai sesama perempuan Sheren cenderung lebih akrab dengan sang mertua, mungkin karena dia juga menemukan sosok ibu yang ia rindukan dalam diri Mama Lita.
“Ya udah. Sekarang kita pulang atau gimana?” tanya Nathan pada dua wanita yang sangat berharga di hidupnya itu.
Yang bisa Nathan lakukan hanya patuh dan menurut apa pun yang ibu dan istrinya itu inginkan. Saat ini, dia tak lebih berharga dari seorang “sopir” untuk kedua wanita itu.
“Kita mau jenguk kakak tirinya Sheren dulu. Baru kita pulang!” jawab Mama Lita yang kemudian berdiri bersama dengan Sheren juga.
Ketiga orang itu akhirnya menuju kamar tempat Scarlett dirawat. Mereka ingin menengok keadaan kakak tiri Sheren itu sekaligus melihat langsung wajah bayi yang baru dilahirkannya.
Namun, sepertinya kehadiran Sheren bersama suami dan mertuanya ke ruangan Scarlett datang di saat yang tidak tepat. Saat ini, tengah terjadi keributan di kamar rawat wanita itu.
Saat Sheren sampai di sana, ternyata mama Kenzo sedang membuat kegaduhan dengan berniat membawa cucunya pergi terpisah dari Scarlett yang baru saja melahirkan.
“Oh, kebetulan ada Sheren di sini!” ucap ibu dari Kenzo itu dengan wajah tegang. Wanita itu menunjuk ke arah Sheren yang jelas tidak mengerti apa-apa.
Saat menantunya ditunjuk oleh orang lain, tentu saja mama Nathan tidak bisa menerimanya. Mereka baru datang, kenapa mertua Scarlett itu malah menunjuk Sheren dalam masalah mereka.
“Scarlett, kamu harus mencontoh adikmu ini. Dia mengerti caranya menghargai laki-laki. Kamu pasti sangat iri dengan kebaikannya, 'kan? Seharusnya kamu berkaca dan menjadikan dirimu baik sepertinya. Bukannya malah sibuk menyalahkannya atas apa yang menimpamu!” kata ibu Kenzo itu yang sudah sangat muak dengan tingkah menantunya.
__ADS_1
“Maaf, kenapa bawa-bawa menantu saya? Kami baru datang, tolong jangan seret menantu saya dalam urusan kalian!” sahut Mama Lita.
Sheren menatap Kenzo dan Scarlett bergantian. Saudari tirinya itu sedang terbaring lemah dengan kaki yang dibalut banyak perban. Sementara Kenzo tengah berdiri di belakang ibunya tanpa berucap sepatah kata pun.
“Walaupun aku salah, tapi Mama nggak berhak dong ambil anakku. Aku baru saja bertaruh nyawa buat dia. Kenapa Mama tega mengambilnya dariku? Apa Mama pikir, anakku akan bisa dirawat oleh Sheren itu? Mama ingin Kenzo kembali dengannya?” teriak Scarlett yang kini bercucuran air mata.
Walaupun awalnya memang dia tidak menyukai putranya sendiri, tetapi setelah perjuangannya sela proses melahirkan dan saat bayi itu direnggut darinya, Scarlett baru sadar bahwa dia tidak bisa berpisah dengan bayi yang baru lahir itu.
Sementara itu, Sheren yang sedang hamil juga begitu sensitif. Dia bisa merasakan apa yang dirasakan oleh Scarlett saat ini.
“Kenzo, apa menurutmu memisahkan anak dengan ibunya itu adalah perbuatan yang benar?” tanya Sheren sembari menatap mantan kekasihnya itu dengan kecewa. “Bayi itu tidak bersalah. Kenapa dia harus menjadi korban keegoisan kalian? Apa kamu pikir dia akan lebih baik setelah berpisah dengan ibunya?”
Rentetan pertanyaan yang keluar dari bibir Sheren itu sukses membuat semua orang membisu. Lalu, tiba-tiba dia tersadar bahwa tidak seharusnya Sheren ikut campur dengan masalah Kenzo dan Scarlett itu. Dia terlalu terbawa suasana sehingga tanpa sadar sudah ikut terbawa perasaan.
Dalam situasi ini, yang bisa Sheren lakukan hanyalah melarikan diri dari ruangan mencekam itu.“Mas, ayo kita pergi!” ajak Sheren pada sang suami yang juga bengong karena aksi spontannya tadi.
“Hah? Ke mana?” tanya Nathan.
“Ke ... ke New York. Tiba-tiba aku pengen lihat patung liberti secara langsung!” Mata Sheren tertuju pada paper bag yang tergeletak di sofa. Kebetulan, gambarnya adalah patung liberty.
__ADS_1
***
Kembang kopinya jangan lupa 💋