
Drama perpisahan antara Mama Lita dan Sheren saat ini masih terjadi di bandara. Dengan otoriter khusus, Mama Lita mengantarkan putra dan menantunya itu menuju pesawat kecil yang akan mengantarkan Sheren dan Nathan ke Amerika.
“Pokoknya kalian harus jaga diri baik-baik di sana!” pesan Mama Lita pada Nathan dan Sheren saat mereka berjalan menghampiri pesawat yang telah mereka sewa itu.
“Iya, Ma. Jangan nelfon kalau nggak penting-penting banget ya!” balas Nathan yang mengisyaratkan bahwa dia tidak ingin diganggu oleh ibunya itu selama berlibur.
Nathan sangat mengenal Mama Lita yang sudah sangat cocok dengan Sheren sampai-sampai kedekatan mereka seperti ibu dan anak kandung. Jelas saja Mama Lita akan sering menghubungi mereka nantinya. Itulah hal yang paling dikhawatirkan oleh Nathan.
“Mama akan telepon Sheren, bukan kamu,” balas Mama Lita tak mau kalah.
Sementara itu, Sheren sedang berdecap kagum saat melihat pesawat yang berukuran lebih kecil dari pesawat biasanya. Wanita itu baru pertama kalinya melihat langsung pesawat pribadi.
‘Wah, ternyata pesawat pribadi seperti ini. Ya ampun, aku benar-benar tidak menyangka kalau aku akan naik pesawat semahal ini. Naik pesawat yang kelas bisnis saja aku belum pernah.’
Sheren terus bersorak dalam hati. Dia sepertinya belum sadar sepenuhnya jika suami dan mertuanya berasal dari keluarga kaya raya yang tidak akan habis hartanya walau tidak bekerja sepuluh tahun sekali pun.
Mereka disambut dengan ramah oleh kru pesawat yang sangat cantik dan masih begitu muda. Beberapa orang itulah yang akan melayani mereka selama penerbangan menuju negara tempat berdirinya patung Liberty.
Di sinilah, Nathan dan Sheren harus berpisah dengan mamanya yang tidak bisa ikut. Mama Lita merangkul kedua anak dan menantunya itu untuk mengucapkan salam perpisahan dan memberi pesan-pesan yang cukup banyak. Sampai akhirnya, mereka pun saling melepaskan pelukan.
Sembari melambaikan tangan pada Mama Lita, Sheren berjalan menuju anak tangga untuk menaiki pesawat pribadi itu. Wanita itu juga berat meninggalkan sang mertua yang sudah dianggap seperti ibunya sendiri.
Saat memasuki pesawat, kening Sheren berkerut. Apa yang dilihatnya saat ini sangat berbeda dengan pesawat komersial. Di sana terlihat luas dan semua barangnya terlihat sangat mewah.
“Apa pesawat ini konsepnya seperti hotel?” tanya Sheren dengan berbisik pada sang suami.
__ADS_1
“Sayang, namanya pesawat pribadi ya begini. Setara sama harga sewanya juga sih,” balas Nathan dengan santai.
Laki-laki itu menuntun sang istri untuk melihat lebih jauh isi pesawat yang mereka sewa. Fasilitas yang diberikan memang sangat luar biasa, semua Nathan pilih demi kenyamanan istrinya selama penerbangan nanti. Bahkan, Nathan juga menyewa dokter khusus untuk berjaga-jaga jika terjadi sesuatu yang tidak diinginkan selama di pesawat.
“Ternyata kamu benar-benar sultan, Mas. Nggak kaleng-kaleng ya!” puji Sheren saat dia duduk di sofa besar yang sangat empuk.
“Kalau begitu, aku dapat remisi, ‘kan?” tanya Nathan yang kemudian menepuk tangannya sekali.
Begitu Nathan menepuk tangannya, seorang pramugari muncul dengan membawa buket bunga yang cukup besar.
“Ini untukmu, kesayanganku!” Nathan membungkuk tepat di depan sang istri sembari menyerahkan buket bunga segar itu.
Sebagai seorang wanita, hati Sheren sangat berbunga-bunga dengan perlakuan manis dari sang suami yang tidak dia sangka-sangka. Hatinya mudah luluh dengan kata-kata manis dan pujian dari Nathan yang memang benar-benar mencintainya.
Seketika raut muka Nathan berubah tegang. Kenapa keinginan wanita itu selalu aneh-aneh saja?
Meski sedikit tidak rela, tapi demi Ucup dan bayi di kandungan Sheren itu, Nathan berbalik badan dan bertanya pada pramugari yang tadi membawakan bunganya. “Apa boleh kalau melempar bunga ini dari ketinggian?”
“Aku cuma bercanda kok!” Sheren menarik tangan suaminya itu dan memintanya duduk di sofa sebelahnya.
Nathan menghela napas dan mengelus dadanya dengan perasaan lega. Tidak bisa dibayangkan jika rangkaian bunga yang disiapkan secara dadakan itu akan diterbangkan sia-sia.
“Makasih bunganya, Mas. Kamu bebas dari hukuman setelah kita ketemu patung Liberty. Tapi, kalau sekarang si Ucup sudah nggak tahan, ya deritamu, Mas. Di sini nggak mungkin ada kamar, ‘kan” goda Sheren dengan percaya diri.
“Siapa bilang? Di sini ada kamanya kok. Jadi, kita akan merasakan sensasinya berrcinta di udara,” balas Nathan yang membuat Sheren syok seketika.
__ADS_1
Memang di dalam pesawat pribadi itu juga tersedia tempat tidur yang tidak kalah mewah dari tempat tidur di hotel berbintang yang ada di darat.
Sepertinya, Ucup dan Donat akan menikmati perjalanan jauh yang mereka tempuh dengan sensasi yang tidak akan pernah mereka lupakan.
*
*
*
Jika Sheren dan Nathan sedang menikmati bulan madu mereka dengan bahagia, maka hal yang bertolak belakang justru sedang dirasakan Scarlett dan Kenzo saat ini.
Kenzo dan Scarlett memang sudah mendapatkan keturunan yang menyempurnakan pernikahan mereka. Sayangnya, kehadiran putra mereka tidak serta-merta memberikan kebahagiaan untuk rumah tangga mereka.
“Scarlett, mungkin aku dan Mama bertindak kejam. Tapi, semua itu juga demi kebaikan anak kita. Aku dan Mama tidak ingin jika Kenneth akan mengikuti jejakmu menjadi orang yang dipenuhi kebencian!” kata Kenzo yang saat ini sedang berdua saja dengan Scarlett usai keributan yang terjadi di ruangan itu.
Hati Scarlett memang dipenuhi amarah dan rasa iri. Dia tidak sungkan untuk merebut apa yang dimiliki oleh orang lain, khususnya yang dimiliki Sheren. Namun, berpisah dengan anaknya yang baru lahir, bukankah itu hukuman yang terlalu kejam?
“Tidak bisakah aku mendapat kesempatan untuk membesarkan Kenneth yang juga darah dagingku sendiri?” tanya Scarlett dengan air mata yang menggenang di pelupuk mata. Satu kedipan saja, maka semua air itu akan tumpah membasahi pipinya.
“Aku akan mengantarkannya ke kamu kalau kamu sudah berubah menjadi baik,” balas Kenzo yang sebenarnya juga tidak tega dengan wanita yang masih berstatus sebagai istrinya itu. Namun, Kenzo juga yakin keputusannya kali ini juga demi kebaikan Scarlett sendiri.
Scarlett memejamkan mata dan akhirnya semua air yang sejak tadi dibendungnya akhirnya menyeruak keluar dari tubuhnya. Dia membayangkan wajah putranya itu dan mulai tersedu.
Rasa sesal memang datangnya di akhir, tapi untuk Scarlett belum ada kata terlambat karena Kenzo tidak membawa putra mereka dengan semena-mena.
__ADS_1