Hasrat Tuan Impoten

Hasrat Tuan Impoten
HTI | Bab 51


__ADS_3

Sheren menatap beberapa anak lelaki yang sedang bermain sepak bola di lapangan bersama Nathan. Ya, setelah memborong donat penjual tua tadi, Suami Sheren itu langsung membagikan donatnya pada anak-anak kecil yang sedang bermain di lapangan yang tak jauh dari tempat mereka membeli donat.


Sheren menikmati donat miliknya bersama beberapa ibu yang kebetulan sedang mengajak anak-anak mereka untuk sekedar menikmati udara sore di lapangan itu.


“Baru menikah ya, Mbak?” tanya salah seorang ibu-ibu yang sedang membawa anaknya jalan-jalan di lapangan itu.


“Eh, iya, Bu,” jawab Sheren sesopan mungkin. Meskipun tidak mengenal wanita di sebelahnya itu, tetapi tidak ada salahnya juga berinteraksi dengan sesama wanita, apalagi dia sedang hamil dan pasti butuh banyak masukan dan pengalaman orang lain untuk mengantisipasi kehamilan pertamanya ini.


“Dari tadi suaminya ngelirik ke sini terus. Khawatir sekali istrinya diambil orang,” kata ibu itu dengan maksud bercanda.


Sheren memperhatikan Nathan. Laki-laki itu memang sedang mengulas senyum ke arahnya sebelum akhirnya kembali bermain dengan anak-anak kecil itu.


“Mungkin dia takut saya tinggal pulang, Bu. Kan kunci mobilnya saya bawa,” jawab Sheren malu-malu.


“kalau takut ditinggal pulang, masih ada ojek. Percaya deh, itu suaminya pasti cinta mati sama Mbaknya. Saya doakan deh semoga pernikahannya langgeng terus!”


“Amin, terima kasih, Bu!”


“Sayang, pulang yuk! Gerah banget ini!” Nathan menghampiri Sheren dengan keringat yang membasahi kaus miliknya.

__ADS_1


Saat Nathan mendekat, ibu-ibu itu meninggalkan Sheren dan Nathan untuk memberi ruang suami istri itu agar bisa leluasa bicara berdua.


“Sudah habis donat kamu?” tanya Nathan sembari membuka botol minumnya. Dia memperhatikan wanita hamil yang terlihat seratus kali lebih cantik itu.


Sheren mengangguk. “Sudah, ini saja aku sudah kenyang! Ayo pulang!”


***


Nathan akhirnya bisa bernapas lega karena hari ini dia telah berhasil menuruti ngidam sang istri. Saat ini, mereka sudah sampai di apartemen Nathan yang menjadi kediaman mereka. Nathan kini bisa fokus mengerjakan pekerjaan yang dia tinggal seharian demi menuruti keinginan Sheren.


“Mas Nathan ini kopinya,” ucap Sheren sembari mengangsurkan secangkir kopi untuk sang suami.


“Makasih, Sayang!”


Nathan tentu dengan senang hati mengizinkan sang istri yang sukarela ingin memijatnya. Sentuhan tangan Sheren memang berhasil mengurangi rasa sakit dan pegal yang lelaki itu rasakan. Mungkin ini juga gunanya memiliki istri.


“Makasih ya, Mas. Kamu sudah mau menuruti keinginanku!” ucap Sheren dengan tulus.


Nathan menyentuh tangan istrinya dan meletakkannya di pipi. “Itu kan hal sederhana, sayang! Pasti aku akan melakukan semuanya selagi aku bisa! Apalagi demi kamu dan anak kita!”

__ADS_1


“Uh, ternyata kamu benar-benar romantis ya, Mas!” Sheren menghadiahkan sebuah kecupan di pipi suaminya.


Sontak saja hal itu membuat Nathan menoleh pada sang istri. “Bukan romantis, Sheren. Tapi ini biar anak kita nggak ileran!” batin Nathan yang tidak berani mengatakannya secara langsung. Dia sudah belajar dari pengalaman bahwa apa yang dia katakan bisa saja menjadi bumerang.


“Kalau gitu, aku mau kasih kamu hadiah!” ucap Sheren sambil memeluk Nathan dari belakang.


“Hadiah apa?” tanya Nathan kian penasaran.


“Kamu boleh jenguk dedek bayi malam ini sepuasnya. Asalkan, kamu mau melakukannya dengan hati-hati!” Sheren langsung menjauh dari tubuh suaminya setelah mengatakan hal itu.


Binar bahagia terlihat jelas di mata Nathan. Laki-laki itu seperti mendapat durian runtuh. Benar-benar kesempatan yang sangat langka. Setelah menikah, ini adalah kali pertama Sheren mengajaknya berduel di ranjang.


“Siap, siap! Aku siap, Sayang! Mau sekarang? Ucup siap melayani, Nyonya Sheren!” kata Nathan dengan perasaan yang sangat bahagia.


“Tapi, kamu pakai jas rapi ya, aku lagi ngebayangin kita bercocok tanam di kantor!” ungkap Sheren malu-malu.


Hormon kehamilan mungkin membuat wanita itu memiliki imajinasi liar. Dia sendiri juga tidak menyangka jika berani mengungkapkan keinginannya pada sang suami.


Nathan semakin antusias mendengar permintaan Sheren itu. “Oke! Kalau kamu mau kita lakuin di kantor juga bisa kok. Besok kita wujudkan, bagaimana?”

__ADS_1


***


Kembang kopinya jangan lupa 💋💋💋


__ADS_2