Hasrat Tuan Impoten

Hasrat Tuan Impoten
HTI | Bab 69


__ADS_3

Amerika Serikat memang negara bebas. Tidak seperti Negara Timur yang menjunjung tinggi adab dan moralitas, negara Amerika adalah negara yang masyarakatnya begitu bebas melakukan hal-hal yang dianggap tabu oleh negara timur. Seperti berciuman di tempat umum misalnya, itu bukanlah hal yang memalukan bagi mereka. Justru ciuman itu merupakan ungkapan cinta yang mendalam untuk pasangan menurut mereka.


Tentu saja hal itu sangat bertolak belakang dengan pribadi Sheren yang merasa aneh dengan hal-hal yang menurutnya terlalu bebas.


“Kamu nggak malu ciuman di tempat umum, walaupun ini negara bebas, Mas?” tanya Sheren setelah ciuman mereka terlepas.


Dengan santai dan percaya diri, Nathan mengelak. “Kenapa malu? Aku ciuman sama istriku sendiri, kan? Bukan sama teman atau wanita lain?”


“Kalau beneran nggak malu, ya udah berdiri aja sana sambil joget-joget, nanti aku video-in,” balas Sheren yang jadi merasa tertantang karena kepercayaan diri suaminya itu.


Nathan terjebak karena ucapannya sendiri. Negara ini adalah negara bebas, jadi tidak ada salahnya jika dia menuruti keinginan Sheren yang kelihatannya sederhana itu.


“Em, joget-joget di sana? Em ... kalau itu aku malu dong, Sayang. Yang lain aja deh!”


Sheren sudah menduga apa yang akan suaminya itu katakan. Namun, walau bagaimana pun Sheren tidak mempermasalahkan itu dan tidak bersikap kekanak-kanakan dengan merajuk.

__ADS_1


**


**


Liburan singkat Sheren dan Nathan harus berakhir karena telepon mendadak dari Papa Winata yang memaksa mereka untuk pulang lebih awal. Padahal, ada satu tempat yang belum Sheren datangi, yaitu Holliwood. Sebuah distrik di Los Angeles, California yang terkenal dengan industri perfilmannya.


“Harusnya kita kemarin langsung ke California ya, Mas!”


“Dari New York ke LA itu makan waktu lama, Sayang. Lagian kamu ke Amerika ngajaknya lihat hidung patung, orang-orang kalau liburan ke Amerika itu biasanya ke Disney kek atau ke mana kek, ini kamu mintanya ke Liberty, udah gitu di sana cuma pengen lihat hidungnya doang!” balas Nathan yang mendadak lebih cerewet dari istrinya.


“Ada apa ini? Kenapa datang-datang malah ribut?” tanya Mama Lita yang sengaja datang ke bandara untuk menjemput putra dan menantunya. Mama Lita benar-benar sedang dilanda rindu pada menantunya yang sedang hamil saat ini.


“Aku ke Amerika tapi lupa nggak ke Hollywood, Ma. Ternyata jauh banget dari Liberty,” balas Sheren saat masih memeluk ibu mertuanya yang teramat baik.


Mendengar aduan sang menantu, Mama Lita langsung melayangkan tatapan tajam pada putranya sendiri. “Sabar ya, Sayang. Gimana kalau habis ini kita liburan sendiri ke Calfornia. Kita berdua aja sama asisten rumah tangga mama, Nathan sama papanya biar sibuk ngurus pekerjaan,” timpal Mama Lita sembari mengusap punggung sang menantu.

__ADS_1


“Ya jangan gitu dong, Ma. Masa aku mau ditinggal sama papa, nanti kalau kita kedinginan gimana?” pinta Nathan yang tak ingin berpisah dari obat penawarnya.


Entah bagaimana jadinya nasib Ucup jika memang nanti Sheren mau diajak pergi Mama Lita. Dua perempuan itu kalau sudah bertemu pasti akan asyik dan melupakan dirinya yang tidak bisa jauh dari Sheren.


“Kapan-kapan aja deh, Ma. Kayaknya kalau anak aku udah lahir aja, soalnya sekarang kan aku juga masih jadi sekretarisnya Mas Nathan,” tolak Sheren sambil mengulas senyum pada mertuanya usai pelukan mereka terlepas.


“Bener tuh, Ma. Sheren juga kan lagi hamil. Bolak-balik ke Amerika pasti juga capek banget. Kasihan menantu sama cucu Mama nih,” sahut Nathan. Laki-laki itu lalu menarik tubuh sang istri ke dalam pelukannya dan merasa aman. Sheren tidak mungkin pergi dengan mamanya dalam waktu dekat ini.


“Terserah kalian deh.”


Nathan dan rombongan Mama Lita itu akhirnya meninggalkan bandara. Kedua pasangan yang baru pulang dari New York itu menumpang di mobil Mama Lita yang datang bersama sopir pribadinya.


“Oh iya, Sheren, Nathan. Kalian nanti mau bikin acara tujuh bulanan juga nggak kayak Scarlett waktu itu?” tanya Mama Lita.


Mengingat acara tujuh bulanan Scarlett, Sheren jadi teringat saat dirinya dan Nathan menjadi bahan perbincangan gara-gara bermain olahraga kasur tanpa peduli lingkungan. Jeritan-jeritan mereka pasti masih diingat jelas oleh para manusia julid yang sebagian juga saudara papa dan mama tiri Sheren. Kalau mereka kembali datang ke acara tujuh bulanan Sheren, apa mereka sudah lupa dengan hal itu?

__ADS_1


***


Kembang kopinya jangan lupa 💋💋💋


__ADS_2