Hasrat Tuan Impoten

Hasrat Tuan Impoten
HTI | Bab 73


__ADS_3

Tuan Winata sudah memiliki pengalaman saat Mama Lita hamil Nathan beberapa puluh tahun yang lalu. Oleh karena itulah, ayah dari Nathan itu sangat memahami apa yang terjadi pada menantunya saat ini.


“Papa ‘kan sudah bilang sama kamu, kalau wanita hamil itu banyak maunya. Kamu harus jadi suami yang peka Nathan,” nasihat Tuan Winata untuk putranya yang sedang bersiap untuk menjadi seorang ayah.


Kehamilan ini bukan hanya pengalaman yang pertama untuk Sheren, tetapi untuk Nathan pun juga yang pertama. Sebagai seorang laki-laki yang tidak pernah menghadapi wanita hamil, Nathan masih harus banyak belajar, begitu pun dengan Sheren yang juga harus mampu mengendalikan diri untuk tidak egois dan kekanak-kanakan.


“Iya, Pa. Aku akan berusaha.”


Jawaban yang keluar dari mulut Nathan itu membuat Sheren tersentuh. Perasaannya yang gampang berubah, kini jadi merasa bersalah pada suaminya. Padahal, dia hanya sedikit kesal saja, tetapi mertuanya langsung mengabulkan keinginannya itu.


“Jangan Cuma berusaha, Bos. Bonus nasibnya bagaimana ini?” sindir Revan yang selalu direpotkan oleh anak bosnya itu.


Nathan menatap laki-laki yang dulu pernah menjadi sekretarisnya itu. “Gampang, nanti aku transfer deh!”


Akhirnya, Sheren dan Nathan pun mendapat kesempatan untuk menginap di hotel yang wanita hamil itu inginkan. Keduanya pun pulang lebih awal dan bersiap untuk liburan di hotel meski ini bukan akhir pekan.


“Kamar lima satu tujuh!” kata Nathan saat mereka tiba di resepsionis. Laki-laki itu langsung memesan nomor kamar tanpa bertanya terlebih dahulu apakah kamar itu ada tamu yang menginap atau tidak.


“Em, mohon maaf, Tuan. Kamar tersebut sedang dibersihkan. Mau menunggu atau saya carikan kamar lain?”


“Kami tunggu saja. Sudah dibersihkan berarti nggak akan lama,” balas Nathan yang sepertinya memiliki misi khusus dengan nomor kamar yang dia inginkan itu.


Sheren menarik lengan suaminya untuk meminta penjelasan, kenapa Nathan memilih kamar itu. Padahal bisa saja mereka menyewa kamar lain yang mungkin sedang kosong.


“Kenapa harus kamar itu sih, Mas? Kita ‘kan bisa cari kamar lain!” Sheren sama sekali tidak mengingat kenangan apa pun tentang kamar itu. Takutnya, malah Nathan yang sedang ingin bernostalgia demi mengenang seseorang di kamar itu.

__ADS_1


“Kamar itu spesial, Sayang. Pokoknya setelah di kamar nanti kamu pasti akan tahu sendiri,” kata Nathan dengan sangat percaya diri. Dia sangat yakin jika Sheren pasti akan menyukai pilihannya ini.


Sheren tidak mau menduga-duga lagi. Hanya butuh beberapa menit saja untuk memastikan apa yang sebenarnya direncanakan suaminya itu. Padahal yang ingin menginap di hotel itu dia tetapi malah Nathan yang sepertinya sudah penuh persiapan.


Benar saja, begitu kamar sudah siap dan mereka diantar menuju lift, Nathan menutup mata Sheren dengan kedua tangannya. Niatnya ingin memberi kejutan bahwa dia mengingat jelas sesuatu yang sangat spesial untuk mereka.


“Kenapa pakai tutup mata, mas?” tanya Sheren yang tidak mengerti tujuan sang suami yang sebenarnya.


“Aku mau uji coba kamu. Kamu ingat nggak apa yang aku tunjukkan ke kamu nanti!” Nathan sepertinya masih tetap ingin membuat istrinya itu penasaran dan menerka-nerka apa yang ingin dia tunjukkan.


Nathan menuntun Sheren untuk terus berjalan menuju kamar yang dimaksud itu. Sampai akhirnya mereka tiba di depan kamar dan house keeping yang membawakan koper mereka pun pergi. Nathan membuka tangannya yang menjadi penutup mata untuk memperlihatkan pada sang istri kejutan yang dia kasih.


“Tara! Kamu ingat?” tanya Nathan berharap Sheren akan terharu dan menghujaninya dengan banyak cinta. Syukur-syukur kalau mendapat bonus lebih dari donat empuk yang saat ini ada dalam bayangan Nathan.


Melihat istrinya yang tampak kebingungan, Nathan kembali bertanya, “Kamu belum ingat? Oke, kita masuk dulu mungkin kamu bisa ingat setelah ini!” ujar Nathan yang kemudian membuka pintu kamar hotel yang mereka sewa.


“Ada apa sama kamar ini sih, Mas?” tanya Sheren yang kemudian memperhatikan lebih jelas isi kamar yang telah dibuka itu.


Wanita itu mencoba mengingat-ingat hal yang mungkin berhubungan dengan kamar hotel itu.


Nathan mengeluarkan uang dolar senilai lima puluh dolar itu dari dompetnya. “Masih ingat ini?”


Bibir Sheren seketika melengkung sempurna, menciptakan senyuman yang sejak tadi sangat Nathan harapkan. “Aku ingat,” kata wanita itu dengan senyum merekah yang masih menghiasi wajah cantiknya.


“Aku masih simpan lima puluh dolar dari kamu loh, Sayang!” aku Nathan dengan sangat bangga.

__ADS_1


Bagi orang kaya seperti Nathan, uang lima puluh dolar itu tentu tidak bernilai tinggi, tetapi dia memiliki arti yang sangat besar. Uang itu adalah bukti dan saksi bahwa dia dan Sheren berjodoh karena benda itu.


“Kenapa kamu simpan? Sini buat aku saja, lumayan buat beli jajan.” Sheren memandangi suaminya yang terlihat romantis dengan mengingat pertemuan pertama mereka dengan baik.


“Jangan dong! Ini nggak akan aku kasih ke siapa pun. Walaupun dibeli dengan harga lima ribu dolar pun nggak akan aku kasih,” balas Nathan yang kemudian menyimpan kembali uang dolar itu ke dalam dompetnya.


Sheren menatap setiap sudut kamar hotel itu dan mengingat kisahnya bersama Nathan. Dia juga tidak menyangka akan kembali masuk ke kamar itu bersama orang yang sama dengan status yang berbeda.


“Kenapa kamu dulu bayar aku?” tanya Nathan sembari memeluk tubuh sang istri dari belakang.


Dekapan sang suami dan sentuhan-sentuhan hangatnya itu tidak hanya terasa di kulit Sheren, tetapi juga sampai menembus relung hatinya yang kini berubah menjadi taman bunga di musim semi. Suasana hati wanita hamil itu akhirnya kembali membaik setelah mendapat perlakuan istimewa dari suaminya.


“Aku pikir kamu orang suruhan Mama waktu itu,” ungkap Sheren dengan malu-malu. “Waktu itu ‘kan Mama lihat aku masuk ke kamar ini, setelah ngobrol sama kamu di depan pintu mama nggak ada masuk dan geledah kamar ini. Ya, aku pikir waktu Mama cuma mau memastikan kalau aku masuk perangkap!”


Mendengar penjelasan sang istri, pikiran Nathan seolah ikut kembali ke masa lalu. Dia ingat betul saat itu Sheren datang dalam keadaan yang membutuhkan pertolongan. Ternyata, memang benar, jodoh datangnya secara tidak disangka-sangka.


“Kalau waktu itu aku nggak izinin kamu masuk, mungkin kita nggak akan ketemu ya, Sayang. Aku harus berterima kasih sama mama kamu.” Nathan masih berpikir positif meski sebenarnya niat awal ibu kandung Scarlett dan Nando itu untuk menjerumuskan Sheren.


“Nggaklah. Nenek lampir itu sengaja kasih minuman gila. Yang namanya jodoh, dengan cara apa pun pasti akan bertemu, Mas.”


Nathan mengecup mesra pipi istrinya sebelum membuat wanita itu kembali bad mood. “Iya, iya, Sayang. Aku nggak akan bilang makasih kok. Tapi, kalau reka ulang cerita, kamu mau, ‘kan?”


***


Kembang kopinya jangan lupa.. Betwe kasih bab anu nggak🌝🌝 kalau banyak yg komen aku kasih deh, kali aja tembus dua atau tiga ratus komen 🤣🤣🤣

__ADS_1


__ADS_2