Hasrat Tuan Impoten

Hasrat Tuan Impoten
HTI | Bab 39


__ADS_3

Tatapan Sheren yang masih bergelayut manja di dadanya, membuat Nathan menelan ludah dengan kasar. Laki-laki itu memperhatikan gerak-gerik istrinya yang baru saja berbaikan dengannya.


“Em, bukan demi Ucup aja, Sayang. Tapi buat aku juga, sehari nggak bisa peluk-peluk kamu gini rasanya hati aku merana. Kamu jangan ngambek-ngambek lagi ya,” kata Nathan setelah memikirkan matang-matang jawaban yang paling tepat.


Ya, kalau salah jawab, si Ucup bisa jadi korban lagi. Membujuk Sheren bukanlah hal yang mudah. Jadi, Nathan harus pandai-pandai menyusun kalimat yang tepat dan tidak lagi asal jawab.


“Yang bener, berarti nanti malam aku nggak perlu memanjakan si Ucup kan?” tanya Sheren sambil mengedipkan mata. Wanita itu mulai bersikap manja karena mendapat pelajaran berharga dari situs di internet tentang cara mempertahankan rumah tangga agar suami selalu setia.


“Ya jangan dong, Sayang. Kamu tega emangnya kalau si Ucup karatan,” balas Nathan sembari mengecup pipi Sheren yang merona merah.


Sungguh menggemaskan sekali wajah wanita yang telah berhasil menekan egonya itu demi kebahagiaannya bersama Nathan. Sheren memang hebat dalam hal ini.


“Ya tega tega aja,” balas Sheren sambil senyum-senyum menggoda sang suami.


Nathan mengerucutkan bibir. Akan tetapi, hal itu justru membuat Sheren tertawa lepas. Nathan jadi tersenyum bahagia karena tawa Sheren itu. Dia sekarang tahu bahwa istrinya itu hanya ingin menggodanya saja.


“Awas ya, nanti malam aku kasih servis dari si Ucup gratis,” kata Nathan sambil mengeratkan kembali pelukannya pada Sheren.

__ADS_1


“Aku akan bayar lima puluh dolar kalau hasilnya benar memuaskan,” balas Sheren yang mengingatkan Sheren awal pertemuan mereka.


“Oh, jadi mau bayar aku lagi, boleh deh. Tadi, aku sudah transfer lima ribu dolar.”


Pelukan Sheren seketika terlepas. Wanita itu membuka kelopak matanya lebar-lebar dan memastikan pendengarannya masih normal.


“Lima ribu dolar?” tanya Sheren sambil mengangkat kelima jemari tangannya yang lentik. Nominal yang Nathan sebutkan itu cukup membuatnya syok sampai kehabisan kata-kata.


“Iya, Sayang. Kamu bayar aku lima puluh, aku bayar kamu lima ribu. Oke,” jawab Nathan yang kini mengangkat tubuh istrinya dan berputar. Dia begitu bahagia karena telah mendapat kesempatan berbaikan dengan istrinya itu.


***


“Mas, aku beli boba dulu. Kamu mau nggak?” tanya Sheren yang pertama kali memanggil suaminya dengan panggilan akrab itu.


Nathan senyum-senyum dengan panggilan istimewa yang pertama kali Sheren sebutkan. “Kamu panggil apa tadi?” tanyanya dengan wajah semringah yang menggambarkan rasa bahagianya.


“Mas. Mas Nathan. Kenapa? Nggak cocok ya?” tanya Sheren yang malah jadi malu-malu.

__ADS_1


“Bagus kok, aku suka,” balas Nathan.


Sheren segera turun dari mobil untuk membeli minuman. Sementara itu, Nathan mencari tempat untuk memarkirkan mobilnya.


“Sheren ya?” tanya seorang laki-laki yang kebetulan sedang membeli boba juga.


“Iya. Kamu ….” Sheren masih mengingat-ingat siapa laki-laki yang tiba-tiba menyapanya itu.


“Aku Desta, yang dulu nganterin kamu sama teman kamu pas malam-malam mau pipis. Waktu itu kita lagi kemah, ingat nggak?”


Otak Sheren masih coba mengingat ingat dan mencerna baik-baik wajah laki-laki itu.


“Oh, kamu si ketua osis itu 'kan? Ya ampun, udah lama banget ya nggak ketemu,” balas Sheren setelah mengingat-ingat dengan baik.


“Ada apa ini?” tanya Nathan yang telah selesai memarkirkan mobil dan menghampiri Sheren juga temannya.


***

__ADS_1


Kembang kopinya jangan lupa gaess 💋💋


__ADS_2