
Konferensi pers sudah diadakan oleh keluarga Winata. Shena yang menjadi topik utama dalam konferensi pers itu tidak dihadirkan di sana, hanya beberapa slide foto saja yang menunjukkan wajahnya yang cantik. Namun, tetap saja hal itu membuat decap kagum para wartawan yang mengambil gambar juga merekam konferensi pers hari ini.
Sebagai orang kaya yang terpandang, tidak sulit bagi keluarga Winata membuat berita pengumuman kelahiran bayi itu. Dalam sehari, berita kelahiran Shena sudah menyebar ke seluruh penjuru negeri. Orang-orang sudah tidak meragukan lagi kehebatan Nathan di ranjang berkat kelahiran bayi sultan itu. Apalagi, wajah Shena yang begitu mirip dengan Nathan membuat gelar impoten yang disandangnya luntur seketika.
Sementara itu, Sheren saat ini tengah sibuk menerima ucapan selamat sekaligus hadiah dari kerabat dan rekan-rekan Nathan yang ingin menengok Shena. Mereka baru pulang dari rumah sakit beberapa hari lalu, tapi para tamu sudah tidak sabar ingin melihat langsung cucu pertama keluarga Winata yang membuat kehebohan itu.
Scarlett yang sudah bisa berjalan, juga datangĺ bersama Kenzo dan putra mereka, Kenneth.
“Selamat ya, Sheren. Akhirnya kamu jadi ibu,” ucap Scarlett dengan tulus. Dia memeluk adik tirinya itu dengan sayang diikuti oleh sang suami yang tengah menggendong putra mereka.
Sheren membalas pelukan Scarlett dan mengucapkan terima kasih untuk perhatian saudara tirinya itu. Para ibu muda itu lalu berbincang bersama, membicarakan seputar kehamilan dan proses persalinan. Sementara itu, para laki-laki juga berkumpul membahas hal yang sangat berbeda, membicarakan seputar bisnis saja.
Sheren tampak antusias mendengar pengalaman yang diceritakan oleh para tamu yang datang. Sementara ibu mertuanya sedang sibuk menjaga cucunya yang sejak tadi menjadi rebutan bak piala bergilir. Nenek muda itu tidak bisa jauh dari sang cucu terlalu lama, dan tidak rela cucu kesayangannya dipegang banyak orang.
Setelah para tamu itu mulai pulang, Sheren dan Mama Lita membawa bayi cantik itu ke kamar. Mertua Sheren itu masih menemaninya sampai Shena benar-benar terlelap, sebelum akhirnya bersedia meninggalkan kamar Nathan dan Sheren.
__ADS_1
Setelah melihat sang ibu keluar dari kamarnya, Nathan pun memasuki kamar yang kini dihuni olehnya bersama Sheren dan Shena.
“Sayang, apa Shena sudah tidur?” tanya Nathan dengan berbisik.
Sheren memperhatikan gelagat sang suami yang mencurigakan. Dia memperbaiki poisisi menjadi duduk supaya bisa lebih leluasa mengobrol dengan suaminya itu.
“Sudah. Kenapa, Mas? Kamu perlu sesuatu?” tanya Sheren yang hendak turun dari kasur tapi langsung ditahan oleh Nathan.
“Di sini aja, Sayang! Shena juga nggak mungkin bisa lihat!” kata Nathan yang kemudian mulai merapatkan duduknya dengan Sheren.
Dari sorot mata sang suami, Sheren bisa menebak bahwa suaminya itu sedang ingin dibantu untuk menuntaskan hassratnya. Wajar kalau Nathan sudah ingin dibelai, tiga hari di rumah sakit membuatnya berpuasa. Mungkin juga Nathan tidak kuat berpuasa lebih lama lagi.
Nathan sebenarnya malas menjawab, tapi jika tidak dijawab takutnya jatah malam ini akan melayang, meskipun hanya lewat bantuan tangan.
“Dulu, Mama pernah nabrak kucing yang lagi hamil terus yang punya kan nenek-nenek, dia nangis-nangis karena kucingnya mati. Ya, nenek itu akhirnya mengutuk Mama nggak akan punya cucu karena saking sedihnya kehilangan kucing kesayangannya bersama anak-anaknya di perut si kucing.” Nathan menundukkan kepala dan tersenyum geli. “Absurd sih, tapi emang kenyataannya gitu. Tapi, kalau kata dokter emang gangguan hormon aja,” jelasnya panjang lebar.
__ADS_1
Sheren masih belum sepenuhnya mengerti. Bagaimana bisa hal unik begitu bisa dipercaya membuat Nathan mengalami disfungsi erreksi. Namun, belum sempat Sheren bertanya lebih lanjut, Nathan sudah berhasil membungkam mulutnya dengan telunjuk.
“Udah, nggak usah banyak tanya lagi, Sayang. Bantuin aku ya!” pinta Nathan yang kemudian mulai melakukan aksinya.
Sheren pun terpaksa mengubur rasa penasarannya dan menuruti keinginan sang suami. Hingga beberapa waktu berlalu, Nathan berhasil mendapatkan kepuasan melalui tangan sang istri.
“Makasih ya, Sayang. Kamu memang hebat. Walaupun donatnya nggak bisa dimakan, tapi Ucup tetap bisa tenang karenamu. Aku bersyukur Tuhan mengirimkan kamu untukku!” kata Nathan sembari mengecup puncak kepala sang istri.
“Aku juga bahagia dan bersyukur punya suami yang menggemaskan sepertimu, Mas!”
*
*
*
__ADS_1
Final Story, The End.
Terima kasih semua udah menemani sampai tamat hari ini 💋💋 Aku masih di Asmara Terlarang sama bentar lagi siapin nupel baru ya 💖💖 tunggu info selanjutnya 💋💋