
Setelah mendengar kabar tentang Scarlett yang terkena musibah, Sheren dan Nathan kini bergegas ke rumah sakit. Tentu saja mereka ingin melihat langsung keadaan Scarlett dan bayinya yang sudah mendekati masa-masa bersalin.
Sheren terus memantau kabar dari Nando lewat aplikasi kirim pesan di ponselnya. Walau awalnya wanita itu tidak mau menemui Scarlett, tetapi suaminya terus memaksa Sheren untuk berbuat baik.
“Jangan cemberut begitu dong, Sayang. Kita jenguk sebentar saja. Tidak ada salahnya, ‘kan? Nanti aku belikan martabak keju yang super besar,” bujuk Nathan saat mereka sudah ada di mobil dan istrinya malah mengerucutkan bibir.
Sheren memperhatikan wajah sang suami yang sedang menyetir itu. Lalu, dia memikirkan rencana yang lain.
“Bagaimana kalau kita beli dulu martabaknya, habis itu baru deh kita jenguk Scarlett,” tawar Sheren sambil mengusap-usap tangan kiri Nathan. “Aku lapar banget. Kayaknya semakin hari bayi kita semakin banyak makan.”
Nathan sudah tidak bisa berkutik. Biarlah kalau memang istrinya itu ingin beli makanan dulu. Pada akhirnya mereka tetap akan ke rumah sakit.
“Oke, siap Nyonya. Kita beli martabak keju dulu,” putus Nathan yang kemudian mengusap lembut kepala sang istri, dan senyum kemenangan pun tersungging di wajah cantik itu yang membuat Nathan berkali-kali lebih bahagia.
Sebenarnya membuat ibu hamil seperti Sheren bahagia itu susah-susah gampang, yang paling utama adalah makanan. Usia kehamilan yang sudah tiga bulan lebih membuat Nathan jauh lebih paham keinginan Sheren.
__ADS_1
Suami istri itu tampak membicarakan hal ringan yang membuat keduanya tertawa. Hal itu membuat perjalanan yang mereka tempuh sama sekali tidak terasa melelahkan. Setelah tiga puluh menit di mobil, mereka pun sampai di tempat yang menjual martabak keju kesukaan Sheren.
Mata Sheren tertuju pada gerombolan manusia yang sedang mengantre. “Ramai banget ya, Mas.”
Nathan memperhatikan apa yang istrinya khawatirkan. Memang lumayan banyak pembeli yang sudah menunggu, sampai-sampai pedagangnya tidak terlihat.
“Mau pulang aja atau mau antri dulu?” tanya Nathan yang tak ingin mengambil keputusan sendiri. Masalahnya, Sheren sangat sensitif, salah bicara sedikit saja bisa fatal akibatnya.
Sheren mengerutkan kening, dia lalu membuka pintu mobil dan berkata, “Kita antri dulu deh, udah sampai di sini, Mas.”
Nathan manggut-manggut dan menuruti keinginan istrinya. Dengan langkah cepat setengah berlari, dia keluar dari mobil dan berputar untuk menghampiri istrinya. Nathan memperlakukan Sheren bak putri raja yang tidak boleh dibiarkan lecet sedikit pun.
“Oh ya, padahal niatku itu pengen nunjukin ke semua orang kalau kamu itu adalah bidadariku. Ternyata, kamu anggapnya malah kayak pacaran biasa ya,” balas Nathan.
“Mas kamu bikin pipi aku terbakar.” Sheren ingin menyudahi obrolannya dengan Nathan, dia pun menghambur ke barisan untuk memesan maratabaknya.
__ADS_1
“Nanti aku panggilkan pemadam kebakaran,” balas Nathan sambil mengusap pipi Sheren yang memang terasa hangat. “Hati-hati ya, Mbak. Jangan mundur-mundur, istri saya lagi hamil soalnya,” celetuk Nathan yang tetap berdiri di depan Sheren.
Tidak lama, ada dua orang pengamen yang datang ke kedai yang ramai itu. Musisi jalanan itu tampaknya ingin mencari rezeki mereka dari kumpulan orang-orang kelaparan. Ya, walau sebagian ada yang keberatan dengan kehadiran mereka, tapi beberapa juga tetap merasa terhibur dan memberikan sedikit uangnya, termasuk Nathan.
“Mas, boleh saya pinjam gitarnya nggak? Saya mau nyanyikan lagu buat bidadari saya,” kata Nathan sembari menyelipkan beberapa lembar pecahan uang yang sangat banyak bagi pengamen itu.
Tentu saja, niat romantis Nathan itu disambut baik oleh kedua pengamen itu. “Silakan, Tuan. Dengan senang hati!”
Nathan lalu mulai menunjukkan keahliannya bermain gitar. Dia menyanyikan sebuah lagu yang membuat Sheren semakin meleleh. Sebuah lagu lama dari Radiohead yang berjudul Creep sukses membuat para pengunjung kedai itu terpukau.
Sheren benar-benar tidak menyangka jika suaminya memiliki suara emas yang selama ini belum pernah ditunjukkan.
Karena suara Nathan benar-benar merdu, pembeli dari kedai sebelah pun sampai ikut mendekat untuk melihat dan mendengar langsung Nathan bernyanyi.
“Bukankah itu Nathan?” Seorang gadis memicingkan mata melihat Nathan. “Apa dia sudah bangkrut sampai jadi pengamen?”
__ADS_1
***
Kembang kopinya jangan lupa 💋 kalau penasaran suara Nathan, cek di utub yang versi Chanyeol 💋💋