Hasrat Tuan Impoten

Hasrat Tuan Impoten
HTI | Bab 72


__ADS_3

Sheren hanya diam saja selama perjalanan kembali ke kantor. Dia sama sekali tidak bersuara dan memilih pura-pura tidur di mobil saat Nathan mengoceh tentang banyak hal. Tampaknya, laki-laki itu belum sadar bahwa saat ini istrinya sedang merajuk.


Saat sudah sampai di kantor, Sheren juga langsung bangun dan menuju ke ruang kerja mereka tanpa banyak bicara. Keinginan sederhananya tinggal di hotel sepertinya sangat kuat sampai membuatnya merajuk.


“Sayang, kalau kamu masih mau lanjut tidur, ke ruanganku aja!” kata Nathan saat istrinya langsung melanjutkan pekerjaan, padahal dia baru saja dari luar kantor dan sampai tertidur di mobil.


Sheren hanya mengangguk tanpa suara. Dia langsung menyalakan kembali komputer di mejanya dan mulai mengerjakan laporan hasil meeting yang baru saja dia lakukan.


“Kamu nggak lagi marah, ‘kan, Sayang?” tanya Nathan memastikan.


“Kamu tanya? Kamu bertanya-tanya?” jawab Sheren dengan nada sinis.


Jelas saja apa respons sang istri menciptakan alarm tanda bahaya yang berbunyi nyaring dan terngiang-ngiang di telinga Nathan. Dia masih tidak menyadari apa kesalahannya sampai membuat sang istri bersikap demikian.


Sambil menggaruk belakang kepalanya yang sama sekali tidak terasa gatal, Nathan pun mencari alasan untuk melarikan diri. “Em, kalau gitu aku masuk dulu ya, kalau ada apa-apa langsung kasih tahu aku,” kata Nathan.


“Apa kamu sedang mendoakan aku kenapa-kenapa, Mas?” Sheren mulai gondok dan semakin sensitif.


Coba saja kalau tadi Nathan mau langsung menyetujui keinginan istrinya yang sederhana. Hanya gara-gara gagal menginap di hotel saja wanita itu jadi begitu sensitif. Ya, walaupun memang itu pengaruh dari hormon kehamilan juga sebenarnya.


“Nggak gitu, Sayang. Maksud aku itu kalau kamu perlu sesuatu, kepengen makan apa, kepengen dipijit atau apa, kamu langsung kasih tahu aku. Ya, sayang!” Nathan mengusap lembut tangan istrinya, berharap Sheren tidak salah paham dan dia bisa secepatnya melarikan diri ke ruang kerjanya.


Sheren mengangguk dan dengan singkat dia menjawab, “Iya.”


Tanpa banyak basa-basi lagi, Nathan segera mendorong pintu menuju ruangannya dan meninggalkan sang istri yang masih merajuk tanpa dia tahu alasan sebenarnya.


Sepeninggal suaminya, mulut Sheren komat-kamit pada layar monitor seolah sedang mengomeli suaminya tanpa menimbulkan suara. Wanita itu melanjutkan pekerjaannya sambil sesekali mendengus kesal.


Satu jam berlalu, baik Sheren maupun Nathan sama-sama tidak bersuara. Tidak saling menanyakan satu sama lain seperti biasanya. Sampai akhirnya, Revan dan Tuan Winata yang sengaja ingin menemui Nathan, memperhatikan Sheren yang terlihat kesal dengan tangannya yang menekan tombol keyboard terlalu kencang.

__ADS_1


“Sheren kenapa ya?” gumam Tuan Winata yang masih memperhatikan dari jarak yang cukup jauh.


Revan juga memperhatikan Sheren yang sedang manyun dengan alis bertaut meski matanya memperhatikan layar monitor.


“Mungkin lagi marahan sama Bos Muda, Pak,” jawab Revan menduga-duga.


“Marahan kenapa? Apa mereka bertemu mantannya Nathan, kenapa Sheren sampai begitu mukanya?”


Ayah Nathan itu lalu menghampiri sang menantu yang masih bekerja sebagai sekretaris Nathan. Sementara Revan yang saat ini menjadi sekretaris pribadi Tuan Winata, mengekor di belakang bosnya.


“Sheren!” sapa Tuan Winata.


Sheren sepertinya tidak menyadari kedatangan mertua sekaligus atasannya juga. “Ya, ada yang bisa saya bantu!” Mata Sheren mulai melirik pada dua laki-laki yang berdiri di hadapannya. “Papa!”


“Kamu kenapa, Sheren?” tanya Tuan Winata yang begitu mengkhawatirkan menantunya. Apalagi, saat ini Sheren sedang mengandung calon cucu pertamanya.


“Kayaknya kamu kurang konsen, apa kamu nggak enak badan tapi dipaksa kerja?” sahut Revan yang malah membuat Tuan Winata makin khawatir.


“Nathan di dalam, ‘kan?” tanya Tuan Winata yang sepertinya sangat khawatir dengan keadaan menantu satu-satunya itu.


Ayah Nathan itu langsung masuk ke ruangan sang putra tanpa menunggu jawaban Sheren. Dia takut jika ada sesuatu yang sengaja disembunyikan oleh Sheren dan Nathan.


Melihat sang ayah yang tiba-tiba masuk ke ruangannya tanpa pemberitahuan dari sang istri, Nathan sangat terkejut dan langsung berdiri dari kursi kebesarannya.


“Papa, ada apa?” Tatapan mata Nathan mengarah pada sang ayah, lalu beralih pada sang istri yang masih terlihat cemberut.


Apa salah dan dosaku, Sayang? Kenapa muka kamu cemberut gitu dari tadi?


“Kamu apakan Sheren kok sampai kesal begitu? Kalian marahan?” tanya Tuan Winata.

__ADS_1


Alis Nathan terangkat tinggi saat mendengar apa yang papanya tuduhkan padanya. Dia sendiri tidak tahu apa-apa, kenapa malah dituduh seperti itu oleh papanya?


“Aku belum apa-apakan. Ini masih jam kerja, kami juga baru pulang dari meeting. Belum sempat diapa-apain, Pa!” jawab Nathan ceplas-ceplos. Dia memberi kode pada Sheren untuk membantu menjelaskan karena sebenarnya dia sangat bingung dengan apa yang terjadi.


Sheren membuang muka. Wanita itu masih kesal karena Nathan melupakan janji mereka untuk menginap di hotel.


“Terus, kenapa Sheren mukanya bete gitu? Dia pasti kelelahan, 'kan? Kamu pasti suruh dia kerja terus, 'kan?” tuduh Tuan Winata.


“Enggak kok, Pa. Ini nggak seperti yang Papa pikir,” sahut Sheren tiba-tiba.


Kini, ketiga laki-laki yang ada di ruangan itu pun kompak menatap Sheren. Mereka menanti penjelasan Sheren yang sejak tadi diam hingga membuat Tuan Winata sibuk menerka-nerka.


“Terus, kenapa Sheren?”


“Iya, Sayang. Coba kamu jelaskan ada apa? Perasaan tadi kamu nggak kenapa-kenapa deh!”


Mau tak mau Sheren harus meluruskan apa yang sebenarnya terjadi. “Sebenarnya, aku cuma pengen liburan di hotel aja, tapi Mas Nathan lupa ada janji sama aku mau menginap di hotel.”


Tidak hanya Nathan yang melongo mendengar penjelasan Sheren itu, Tuan Winata dan Revan yang sejak tadi menyimak pun ikut melongo. Hanya karena menginap di hotel, wanita itu sampai membuat kegaduhan?


“Bos, memangnya Bos Nathan sekarang nggak punya duit ya? Apa gara-gara habis dari Amerika, sekarang lagi masa pengiritan?” ledek Revan pada laki-laki yang pernah menjadi bosnya itu, walau sekarang juga masih menjadi atasannya.


“Sembarangan kalau ngomong!”


“Papa kira ada masalah apa. Sheren, kalau kamu nginep di hotel sama Nathan, mood kamu bisa bagus lagi, 'kan? Gimana kalau kamu sama Nathan libur dua hari lagi. Biar pekerjaan kalian diurus sama Revan,” putus Papa Nathan itu dengan bijaksana.


Masalahnya, kalau Mama Lita tahu menantunya yang sedang hamil itu tidak dituruti keinginannya, pasti akan berimbas ke semua hal.


Sementara Revan yang lagi-lagi terkena getahnya, hanya bisa mengelus dada dengan memelas. “Aku lagi yang kena, kan! Huft, nasib memang! Si Bos jalan-jalan terus, aku yang repot, mana duit bonus belum dikasih!”

__ADS_1


***


Kembang kopinya jangan lupa 💋💋


__ADS_2