
Sheren terus menggoda suaminya yang sedang dalam masa hukuman. Wanita itu memang sengaja membuat suaminya kalang kabut dengan penampilannya saat ini. Itu semua karena Sheren terlalu kesal saat mengingat sang suami yang pernah memamerkan miliknya pada banyak wanita.
Nathan yang sudah tidak tahan dengan godaan dari sang istri, tiba-tiba saja bangun dari kursi makan itu dan mendekap istrinya.
Sontak saja hal itu membuat Sheren kaget dengan gerakan cepat. “Mas!” protes wanita itu saat Nathan tiba-tiba memeluknya dari belakang. “Kamu kan lagi dihukum, Mas. Kenapa masih berani-beraninya peluk aku sih?”
Nathan tidak memedulikan jeritan sang istri, dia justru kian gencar mencium pipi Sheren.
“Kamu kan istriku, bukan polisis bukan hakim. Lagian, kamu nggak kasihan sama anak kita, dari tadi teriak-teriak pengen dipeluk ayahnya,” balas Nathan.
Tangan laki-laki itu mulai turun ke bagian perut Sheren dan mengusapnya dengan gerakan lembut. Di usia kehamilan yang sudah tiga bulan lebih itu, perut Sheren memang mulai buncit dan itu membuatnya makin terlihat seksi.
“Siapa yang teriak-teriak. Kamu ngada-ngada banget deh, Mas. Alesan kamu aja kan, modus!”
Mulut Sheren memang mengomel, tapi tubuhnya menikmati juga sentuhan sang suami. Wanita itu masih menunggu suaminya meminta maaf dan menjelaskan semua. Ya, walaupun itu hanya masa lalu, tapi bagi wanita hamil itu memang semuanya serba salah.
“Nggak, Sayang. Aku dengar kok, bayi kita di perut teriak ngomel-ngomel persis kayak kamu.” Nathan memutar tubuh Sheren dan kini menciumi perut istrinya itu.
Sheren mengulas senyum tanpa sepengetahuan sang sang suami. Wanita itu sebenarnya juga tidak tega memberikan hukuman yang keji pada suaminya. Namun, Sheren juga tidak ingin jika suatu hari nanti Nathan mengulangi kesalahan itu lagi.
“Kamu nggak ngambek kan sama Papa.” Nathan mengecup perut buncit itu dengan sayang. Dia lalu berdiri mensejajarkan tubuh dengan Sheren dan meraih tangannya itu.
Sementara itu, Sheren melengos karena masih dalam mode marah. Ya, meski hanya pura-pura tapi tidak lucu bukan kalau dia langsung luluh pada perlakuan romantis suaminya itu.
“Maaf ya, Sayang. Aku janji deh nggak akan gitu lagi. Dulu aku emang lagi berusaha biar Ucup bangun. Ya, karena itulah beberapa mantan aku jadi bahan uji coba. Tapi, mereka semua nggak lulus ujian, kan?” ungkap Nathan dengan memelas.
__ADS_1
Dia menghembuskan napas berat sebelum akhirnya kembali menatap Sheren yang kini juga sedang menatapnya dengan ekspresi datar.
“Cuma kamu yang bisa bangunin Ucup. Kamu nggak ngapa-ngapain aja Ucup bisa bangun, makanya setelah malam pertama kita waktu itu, aku langsung kejar kamu, karena memang kamu yang bisa buat aku merasa hidup. Berkat kamu, aku jadi mengerti bahwa nggak semua wanita itu bisa dimainkan, kamu istimewa dan kamu yang buat aku jatuh cinta, Ren. Aku cinta kamu karena kamu masa sekarang dan masa depan aku. Selama kita melangkah bersama, sesekali masa lalu itu akan muncul tanpa bisa aku kendalikan, tapi kamu tahu kan, kalau hanya kamu yang aku perjuangkan. Hanya kamu selamanya, Sayang,” kata Nathan yang kemudian mengusap pipi Sheren dengan lembut.
Laki-laki itu sudah memikirkan matang-matang apa yang tadi diucapkan. Kalau kali ini Sheren tidak tersentuh, entah harus dengan cara apa lagi dia meluluhkan hati istrinya itu.
Sementara itu, Sheren menggigit bibir bawahnya dengan kedua alis yang hampir bertaut. Dia memikirkan kata-kata yang diucapkan oleh sang suami dan seketika hatinya terenyuh. Sepertinya suaminya itu memang sudah mulai berubah.
“Jadi, sebenarnya ada berapa yang sudah kamu uji coba?” tanya Sheren dengan nada yang terdengar ketus.
Nathan lagi-lagi menghela napas dengan kasar. Kali ini dia bingung harus berkata jujur atau bohong saja. Akan tetapi, kalau dia berkata dusta, bukankah Sheren akan semakin marah kalau ketahuan?
“Em, aku akan berkata jujur sama kamu, biar nggak ada lagi yang aku tutupi. Kalau setelah ini kamu marah, aku tidak bisa berbuat apa-apa lagi,” kata Nathan dengan dada berdebar keras yang membuat napasnya terasa sesak.
Nathan kini menatap istrinya itu dengan frustrasi. “Sebenarnya, setelah Rifani, aku sudah mencoba dengan dua orang termasuk Angel. Jadi, yang sudah pernah melihat langsung ada tiga orang. Kalau kayak Selena dan lainnya aku cuma french kiss dan pegang-pegang dada mereka aja, nggak sampai uji coba langsung ke Ucup. Aku udah keburu kesel karena gagal bikin Ucup bangun. Ya, namanya rejeki, mereka kasih pegang masak aku tolak.”
Helaan napas berat kembali terdengar di telinga Sheren yang keluar dari mulut Nathan. Laki-laki itu kini menundukkan kepala dengan lesu.
Sementara itu, hati Sheren mengobarkan api kecemburuan karena membayangkan apa yang suaminya itu lakukan. Dia sendiri tidak mengerti kenapa dia begitu cemburu. Padahal awal-awal mereka menikah, Sheren bahkan mengira Nathan adalah seorang gigolo.
Nathan masih terus bergelut dengan penyesalannya, sampai-sampai tidak sadar jika Sheren saat ini sudah meloloskan diri darinya. Saat sadar, dia kembali menghela napas berat dan mengira Sheren akan lebih marah setelah ini.
“Iya deh, hukuman aku nambah banyak ya,” kata laki-laki itu sambil berjalan menghampiri istrinya yang sudah berada di meja makan.
Sheren mengambilkan piring dan makanan. Dia tetap melayani suaminya itu seperti biasa.
__ADS_1
“Sarapan dulu!” kata Sheren yang sudah tidak lagi ketus.
Melihat hal itu, Nathan tidak serta-merta menganggap Sheren telah memaafkannya. Dia pikir ibu dari calon anaknya itu masih marah padanya.
“Aku akan menjalankan hukumannya. Kalau aku dihukum berminggu-minggu sekaligus? Sembilan minggu bukankah itu terlalu banyak? Bahkan setelah kamu melahirkan aku juga akan berpuasa?” tanya Nathan yang kini memegang sendok dan garpu di tangan dengan wajah pasrah.
Kening Sheren berkerut. Dia yang hampir menyuapkan nasi ke mulut, mengurungkan niat dan menatap suaminya. “Berarti semuanya ada sembilan perempuan?” tanya Sheren yang benar-benar tidak habis pikir dengan suaminya itu.
“Ya, maaf, Sayang. Aku benar-benar khilaf, nggak akan ulang-ulang lagi, beneran,” jawab Nathan yang jadi tidak berselera makan.
Sheren pikir, suaminya mungkin benar-benar sudah berubah. Lagi pula dia juga sepertinya tidak akan sanggup menunggu selama itu. Wanita itu pikir, mungkin lebih baik menyudahi saja permasalahan ini.
Namun, belum sempat Sheren menjawab, tiba-tiba ada seseorang yang hendak bertamu ke apartemen mereka. Nathan dan Sheren saling pandang. Pakaian yang dikenakan Sheren jelas tidak layak untuk bertemu tamu.
Bukannya, masuk ke kamar, mereka justru ribut karena panik. Hingga akhirnya, mata Nathan menemukan jas miliknya yang tergeletak di ruang TV.
“Pakai ini dulu, biar aku buka pintunya,” kata Nathan sambil membantu menutupi tubuh sang istri dengan jas miliknya.
“Nathan, Sheren, kalian belum bangun?” teriak wanita itu yang terdengar dari intercom yang terpasang di pintu mereka.
“Mama!”
***
Kembang kopi sama vote nya jangan lupa 💋💋💋
__ADS_1