Hasrat Tuan Impoten

Hasrat Tuan Impoten
HTI | Bab 53


__ADS_3

Semenjak kehamilannya memasuki trimester akhir, Scarlett sudah dilarang keras oleh suami dan mertuanya untuk keluar rumah. Hal itu membuat Scarlett seperti dipenjara dalam istana mewah mertuanya.


“Scarlett kamu itu banyakin gerak, jangan tiduran saja kerjanya!” tegur Mama Kenzo pada Scarlett yang memang sejak pagi hanya rebahan saja tanpa mau melakukan kegiatan apa pun. Padahal, jelas-jelas dokter sudah memberitahunya untuk rutin olahraga dan perbanyak gerak agar mempermudah proses persalinan.


“Mama nggak tau, perut aku ini gede berat banget, mau ngapa-ngapain capek, Ma,” keluh Scarlett sambil mengelus perutnya yang buncit.


“Banyak alasan kamu. Ayo cepat berdiri, siramin bunga di belakang! Belum sembilan bulan udah banyak alesan, nanti kalau udah gede mau lahiran, memangnya kamu mau didorong pakai kursi roda?” ketus mertua Scarlett itu.


Ya ampun, punya mertua cerewet banget sih! Tahu gitu mending aku nggak ngerayu Kenzo sampai hamil begini. Nyesel banget aku setelah tahu ibunya diktaktor. Harusnya Sheren yang disiksa gini sama mertuanya, tapi kenapa malah dia yang beruntung punya mertua terlalu baik?


***


Nathan dan Sheren memainkan peran dengan baik. Wanita hamil itu sangat antusias untuk mewujudkan imajinasinya yang cukup aneh. Mereka benar-benar menciptakan drama lembur di kantor seperti yang ada dalam video koleksi Nathan.


Sampai akhirnya, mereka berhenti dengan drama anu-anu itu setelah sama-sama mendapat kepuasan batin. Sheren tersenyum puas sambil merapikan rambutnya.


“Kita pulang sekarang?” tanya Nathan sembari merapikan ikat pinggangnya.


“Em iya dong. Sudah malam, Mas. Aku juga sudah lapar ini,” jawab Sheren dengan wajah cerah dan mata berbinar-binar.


Nathan merasa bangga karena sudah berhasil membuat sang pemilik donat super tersenyum puas. Laki-laki itu lalu menggandeng istrinya untuk berjalan menuju pintu keluar dan segera pulang.

__ADS_1


Suasana kantor benar-benar sepi. Apalagi mereka menggunakan lift yang dikhususkan untuk para pemimpin yang tentu tidak akan ada pegawai yang memakainya.


“Sepi banget ya di kantor kalau jam segini,” kata Sheren sembari memperhatikan sekeliling. Memang tidak ada siapa pun di lantai itu dan sebagian lampu sudah dimatikan.


“Ya kalau pulang kemaleman ya begini, Sayang. Gimana, besok mau lagi?” tanya Nathan yang kini mulai merasa di atas awan. Pasalnya, keinginan dan fantasi liar Sheren itu begitu menguntungkan untuknya. Mau berfantasi dengan apa pun ujung-ujungnya Ucup juga yang diuntungkan.


Kening Sheren berkerut. Dia sudah merasakan sensasi berkeringat dengan Nathan di kantor dan hasil akhirnya pulang terlalu malam seperti dalam film-film horor. Sepi dan sunyi.


“Nggak ah. Sekali ini saja,” jawab Sheren usai memikirkan sisi positif dan negatif akibat imajinasinya di kantor.


Mereka kini sudah sampai di lantai satu dan keluar dari lift. Tangan Nathan tetap setia menggandeng Sheren yang mulai tidak nyaman dengan suasana sepi di kantor mereka.


“Ya, sayang banget dong, Sayang! Coba pikir lagi mau merasakan sensasi yang di mana lagi?” tanya Nathan dengan mata berkedip-kedip lucu.


**


Sheren dan Nathan kini sudah berada di mobil untuk pulang ke apartemen mereka. Saat melintasi sebuah hotel yang cukup ternama, Sheren mendadak ingat sesuatu.


“Mas Nathan, bukankah kita belum bulan madu?”


Nathan menoleh dan memperhatikan sang istri yang tiba-tiba menginginkan bulan madu.

__ADS_1


“Iya, waktu itu kan kamu nggak mau aku ajak bulan madu, Sayang.” Nathan menjawab dengan takut-takut.


Dia sudah belajar untuk tidak berkata sembarangan pada istrinya itu. Nathan sangat tahu akibat jika berbicara spontan dan membuat Sheren sakit hati, bisa-bisa nasib si Ucup yang akan menjadi taruhannya.


“Iya sih, soalnya kita banyak pekerjaan. Gimana kalau kita honey moon kecil-kecilan di hotel yang tadi,” kata Sheren sembari menunjuk hotel mewah yang barusan mereka lewati.


Secara otomatis, tubuh Nathan mengarah pada hotel yang istrinya itu maksud. Ya, walaupun cuma sebentar karena Nathan harus fokus menyetir.


“Kamu mau bulan madu di sana?” tanya Nathan yang pikirannya kini mengembara ke mana-mana.


Boleh juga ide Sheren kalau akhir pekan nanti mereka menghabiskan waktu di hotel. Hitung-hitung sebagai ganti bulan madu yang tertunda.


“Iya, Mas. Kayaknya kan enak ya di hotel manja-manjaan,” jawab Sheren sambil kembali membayangkan sesuatu dengan imajinasinya.


“Tapi, kamu nggak lagi nyuruh aku buat jadi OB kan nanti, Sayang?”


***


Kalau mau gapapa Than 🙃🙃🙃


Kembang kopinya jangan lupa ya gaess 💋💋💋

__ADS_1



nupel barunya KakChung, mampir ya gaess 💋💋


__ADS_2