Hasrat Tuan Impoten

Hasrat Tuan Impoten
HTI | Bab 45


__ADS_3

Ruang perawatan di sebuah klinik, kini menjadi tempat istirahat sementara untuk Sheren selama beberapa hari ke depan. Wanita itu harus dirawat karena anemia yang dideritanya.


Namun, bukannya sedih karena sang istri harus dirawat, Nathan malah memperlihatkan rona bahagia yang terpancar jelas di wajah tampannya. Dia begitu bahagia saat dokter menyampaikan kabar yang sangat ditunggu-tunggu olehnya dan Sheren.


“Mas, kayaknya aku nggak perlu dirawat di sini deh. Aku rawat jalan aja gimana,” rengek Sheren yang sepertinya enggan jika harus menginap di kamar rawat paling mahal itu.


Nathan yang sedari tadi duduk di sebelah sang istri pun tak henti-hentinya mencium tangan wanita cantik itu. “Nggak bisa, Sayang. Dokter bilang apa? Kamu harus dirawat sampai kondisi kamu stabil. Nurut aja ya, ini semua demi bayi kita.”


“Benar, Sayang. Kita harus memastikan bahwa kondisi kamu baik-baik saja, supaya cucu Mama di perut kamu juga baik-baik saja!” sahut Mama Lita yang kali ini tidak bisa membela menantu kesayangannya itu.


Ya, Sheren memang dinyatakan hamil, dan tentu saja itu menjadi berita bahagia yang sudah mereka nanti-nantikan. Bayi yang dikandung Sheren pasti akan bisa membungkam mulut-mulut yang selalu menggunjing Nathan selama ini.


Dulu, Nathan memang impoten, tetapi berkat Sheren yang menjadi pelanginya, dunia Nathan perlahan-lahan mulai berwarna.


“Iya deh. Tapi, kamu tidur di sini juga kan, Mas?” tanya Sheren memastikan. Dia tidak mau jika nantinya tidur di rumah sakit sendirian, apalagi saat siang Nathan kerja, dia pasti akan kesepian.

__ADS_1


“Ya masa aku bisa tidur tanpa peluk kamu, sih, Sayang!” balas Nathan sembari melayangkan kecupan hangat di kening Sheren.


“Mama juga akan tidur di sini kok. Jangan khawatir, Sayang!” Mama Lita ikut menimpali.


Sheren bersyukur karena memiliki suami dan mertua yang sangat baik. Meski awalnya Mama Lita memikirkan bibit, bebet, dan bobot, tetapi sekarang dia sangat memperhatikan Sheren seperti anaknya sendiri, bukan seperti menantu.


“Mama pulang ajalah, biar aku sama Sheren bisa berduaan. Mama temani Papa aja di rumah,” protes Nathan tidak ingin mamanya mengganggu malam-malamnya bersama sang istri.


“Halah, kamu ini! Istri lagi sakit mau ngapain berduaan. Jangan macam-macam ya, bikin mantu mama kelelahan!” Mama Lita mulai posesif dengan sang menantu yang sedang hamil cucu pertamanya. “Papa nanti ke sini juga. Kita nginep rame-rame di sini, Mama tinggal minta ekstra bed aja,” sambungnya tanpa beban.


“Mama kira ini hotel! Ini rumah sakit, Ma!” sela Nathan tidak terima dengan usulan ibunya yang dirasa terlalu berlebihan.


Belum selesai ibu dan anak itu berdebat, suara ketukan pintu menghentikan sejenak perdebatan panjang itu.


Ternyata, Tuan Jimmy, papa dari Sheren yang datang bersama istrinya. Laki-laki itu terlihat khawatir karena sang putri sedang terbaring lemah dengan selang infus di tangan, juga ada darah yang mengalir lewat selang infus itu.

__ADS_1


“Sheren, kamu tidak apa-apa?” tanya laki-laki itu yang langsung tertuju pada sang putri, tanpa menyapa besan dan menantunya terlebih dahulu sebagai bentuk basa-basi.


“Papa, aku baik-baik saja kok,” jawab Sheren.


“Sheren kenapa?” tanya Melisa, ibu sambung Sheren.


“Hanya kelelahan dan anemia saja, kata dokter itu efek kehamilannya,” sahut Nathan sembari mengusap kepala Sheren yang bersandar di ranjangnya.


“Hamil? Jadi, Sheren lagi hamil cucu papa?” tanya Tuan Jimmy dengan raut bahagia yang tidak bisa ditahan di sela-sela rasa khawatirnya.


“Sheren sedang hamil?” tanya Melisa memastikan.


Nathan dan Sheren kompak mengangguk membenarkan pertanyaan orang tua Sheren.


Mertuanya pasti akan lebih menyayangi Sheren. Dia beruntung sekali, jauh lebih beruntung dari Scarlett, putriku. Tapi, aku bahkan tidak akan mampu melawan keluarga suaminya.

__ADS_1


***


Kembang kopinya jangan lupa 💋💋💋


__ADS_2