
Sheren masih sesenggukan sambil menyeruput es cendol dalam gelas yang dibelikan oleh mertuanya. Wanita itu tidak menangis karena rasa es cendol yang tidak enak, tetapi dia benar-benar merindukan suaminya yang saat ini sedang berada di luar negeri. Memang, semenjak hamil Sheren sangat sensitif dan mudah terbawa suasana.
Mama Lita hanya bisa mengusap punggung sang menantu dengan sayang. Tidak ada yang bisa dilakukan oleh mertua yang terbaik itu karena memang Nathan tidak akan mungkin bisa pulang saat ini juga.
“Udah ya, Sayang jangan sedih! Nanti kalau kamu terus-terusan sedih, bisa-bisa cucu Mama di perut kamu ikut sedih,” kata Mama Lita yang sudah mulai bingung cara menenangkan menantunya itu.
Mendengar penuturan sang mertua, Sheren mulai menghentikan tangisnya. Dia baru ingat jika bayi yang ada dalam kandungan sudah bisa merasakan apa yang dirasakan oleh ibunya.
“Ah iya, Ma. aku baru ingat. Habisnya aku kangen banget sama si Cassanudin. Kenapa dia lama sekali ya, Ma,” keluh Sheren masih dengan wajah cemberut.
Mama Lita mengerutkan kening saat mendengar istilah yang begitu asing di telinganya. “Cassanudin? Apa itu Cassanudin?”
Sheren seketika langsung menutup mulut rapat-rapat. bahkan kedua tangannya dipakai untuk membungkam mulutnya sendiri. “Em, maksud aku, Mas Nathan kenapa nggak pulang-pulang? Kenapa di sana lama sekali?”
“Sayang, nanti coba kita bicara sama Papa. Mungkin Papa tahu, tapi di mana Papa ya?” Mama Lita sibuk mencari keberadaan Papa Winata yang tadi langsung hilang setelah memberikan es cendol kepada sang menantu.
__ADS_1
Sama seperti sang mertua, Sheren juga ikut celingukan mencari keberadaan ayah mertuanya. Ternyata, Papa Winata saat ini sedang mentraktir beberapa orang yang kebetulan lewat untuk melariskan dagangan penjual cendol. Melihat hal itu, Sheren jadi terharu dan kembali teringat pada suaminya.
“Ternyata, jiwa Dermawan Mas Nathan diturunkan dari Papa,” gumam Sheren sembari menatap ayah mertuanya dari dalam mobil.
“Ya benar. Nathan itu sebenarnya baik sama kayak papanya!” timpal Mama Lita yang turut membenarkan pendapat menantunya.
Lagi-lagi Sheren merasa sangat beruntung berada di tengah-tengah keluarga yang begitu baik. Dia sangat bersyukur malam itu bertemu dengan Nathan, jika bukan Nathan mungkin hidupnya tidak akan sebaik ini.
*
*
Sheren dilarang pergi bekerja meskipun wanita itu sangat menyukai pekerjaannya. Kini, yang bisa Sheren lakukan hanyalah berdiam diri dengan bosan di rumah yang sangat megah itu
“Kalau aja Mas Nathan ada di sini. aku pasti nggak akan bosan,” gumam Sheren sambil menikmati potongan buah yang sudah disiapkan oleh Mama Lita.
__ADS_1
Tiba-tiba saja seorang asisten rumah tangga muncul di samping Sheren. Sambil memberikan jus buah yang sudah disiapkan oleh Mama Lita, wanita muda itu bertanya pada Sheren. “Emangnya kalau ada Tuan Nathan, Non Seren mau apa?”
“Aku peluk peluk aku cium cium. Ya namanya juga suami istri, aku kangen banget sama dia.”
Asisten rumah tangga itu senyum-senyum sendiri usai mendengar jawaban dari majikannya. Saat Sheren belum curiga sama sekali, wanita itu kembali bersuara. “Kalau kangen apa Non Sheren mau bikin Tuan Nathan bahagia seharian penuh?”
Pertanyaan itu akhirnya membuat Sheren menyadari sesuatu. “Kamu mata-matanya Mas Nathan ya?” tanya Sheren dengan mata melotot penuh curiga.
Sontak saja hal itu membuat seseorang di belakangnya tertawa terbahak-bahak.
***
Siapa tuh yg datang? kembang Kopinya jangan lupa guys. Sorry aku lagi kena musibah🥲
__ADS_1
Kepoin nupel baru temen aku guys, dijamin seru deh sambil nunggu aku update lagi🤗🤗