
Demi meringankan hukuman yang saat ini dijalaninya, Nathan rela melakukan banyak hal yang dia rasa bisa meluluhkan hati istrinya. Seperti siang ini misalnya, tiba-tiba saja ada kurir yang mengantarkan paket ke kantor dan ditujukan untuk Sheren.
Merasa tidak membeli barang apa pun, Sheren pun menghubungi toko pengirim dan ternyata, itu adalah hadiah dari suaminya. Karena Nathan sedang ada tamu, Sheren pun membuka kiriman paket dari suaminya itu dengan hati-hati.
Saat bungkusnya terbuka dan isinya terlihat, wajah Sheren seketika mengembangkan senyum yang merekah sempurna.
“Cie, dapat apaan sih? Seneng banget kayaknya,” komentar salah seorang pegawai yang mengantarkan berkas ke meja Sheren. Wanita bernama Nita itu cukup dekat dengan Sheren sebelum Sheren dipindah tugaskan ke luar negeri.
Dengan bangga, wanita itu menunjukkan hadiah pemberian sang suami yang berupa apron masak yang lucu dan diukir namanya dengan sangat cantik. “Bagus ya?”
Nita mengangkat alis tinggi-tinggi karena heran dengan tingkah temannya itu. Hanya karena apron saja bisa sebahagia itu?
“Bagus kok, dari Pak Bos ya?” tebak Nita. Siapa lagi yang memberi hadiah seperti itu dan membuat wajah Sheren terlihat berbinar-binar?
“Iya, dia beberapa hari kirim hadiah terus. Ada ucapannya juga. Kayaknya Pak Nathan lagi belajar jadi suami yang romantis,” balas Sheren masih senyum-senyum memperhatikan hadiah yang entah ke berapa itu dari suaminya.
“Oh, mungkin dia pengen dimasakin yang spesial gitu kali.” Nita jadi ikut nimbrung dan lupa tujuannya menemui Sheren.
Sheren sepertinya juga baru menyadari bahwa Nita ada di hadapannya saat ini pasti karena berhubungan dengan pekerjaan. “Eh iya kamu ke sini mau antar berkas yang Pak Nathan minta? Tapi masih ada tamu sih.”
“Aduh hampir lupa,” jawab Nita. “Iya, ini berkas yang Pak Nathan minta. Kayaknya aku titip ke kamu aja deh, soalnya aku maish banyak kerjaan.”
__ADS_1
Sheren menyimpan berkas dari Nita setelah memeriksanya. Lalu, Nita kembali ke tempat kerjanya juga.
Nathan masih menemui tamu penting di ruang kerjanya, karena itulah Sheren yang sedang tidak ada pekerjaan penting, akhirnya melihat-lihat lagi hadiah dari suaminya.
Saat Sheren sedang menyentuh dan mengusap lembut hadiah pemberian suaminya, di saat yang bersamaan, Nathan dan kliennya keluar dari ruangan. Tamu Nathan itu terheran melihat banyaknya hadiah di meja Sheren.
“Wah, banyak sekali hadiahnya. Apa ini hadiah pernikahan kalian beberapa hari lalu?” tanya tamu tersebut.
Sheren menatap suaminya dengan senyum tertahan. Sepertinya Nathan sudah menyesali perbuatannya. Bukankah hadiah-hadiah dan kartu ucapan yang dikirimkan oleh laki-laki itu sudah membuktikan bahwa dia benar-benar tulus meminta maaf?
“Em, ya begitulah, Pak. Karyawan di sini begitu peduli dengan pernikahan teman-temannya,” balas Sheren yang dengan gerakan cepat menyembunyikan hadiah-hadiah miliknya itu.
“Em, iya sebagian dari teman-teman, Pak,” balas Sheren dengan kode matanya yang meminta Nathan untuk tidak banyak komentar. Masalahnya, sekarang masih ada tamu dan Sheren teramat malu mengakui tindakan sang suami yang sebenarnya berlebihan.
Tamu Nathan itu menertawakan interaksi Nathan dan istrinya. Dia lalu berpamitan untuk pulang.
Sheren mengantarkan tamu itu sampai ke lobi, dan kembali ke ruangannya. Namun, ternyata semua barang-barang hadiahnya telah hilang. Padahal, dia sangat yakin menyimpan hadiah-hadiah itu dengan baik sebelum meninggalkan mejanya.
Istri Nathan itu mencurigai bahwa suaminya sendiri yang telah menyembunyikan hadiah-hadiah itu. Lalu, sembari membawa berkas dari Nita, Sheren pun masuk ke ruangan sang suami.
“Kenapa hadiah-hadiahnya ada di sini?” tanya wanita itu dengan bingung. Dia menghampiri sang suami yang sedang memeriksa satu per satu hadiah yang telah Sheren terima.
__ADS_1
“Aku lagi cek aja kalau semua hadiah sudah dikirim. Tapi, kamu bilang ada hadiah dari teman-teman kamu, yang mana?” tanya Nathan dengan antusias. Dia kira ucapan Sheren tadi memang kebenarannya, padahal dia hanya berbohong karena tamu itu.
“Nggak ada. Emang kamu ngarepin hadiah dari bawahan kamu juga? Ya ampun, Pak Nathan itu kan cuma basa basi aja. Ya masa aku bilang itu hadiah dari kamu semua. Mentang-mentang kamu yang punya perusahaan kan nggak gitu juga,” balas Sheren yang sudah mulai mencair pada suaminya.
Nathan mendekati sang istri dan seketika tersenyum tepat di depan wajahnya. “Berarti ini semua dari aku kan?”
Sheren mengangguk. Dia juga tidak mau terlalu lama menahan kekecewaan pada suaminya itu. Namun, di sisi lain sebagai wanita Sheren juga ingin suaminya bersikap baik dan menjaga perasaannya sebagai istri.
“Maafin aku ya, Sayang. Aku janji deh, nggak akan cipika cipiki lagi sama cewek, aku akan belajar menjaga perasaan kamu,” kata Nathan sembari meraih tangan istrinya, lalu menciumi kedua tangan itu.
Sheren tersenyum lega dan langsung memeluk Nathan dengan erat. “Makanya, ingat-ingat terus kalau aku ini istrimu,” kata Sheren sembari menyembunyikan wajahnya di dada sang suami.
Begitulah wanita, selalu saja mudah luluh dengan suaminya yang telah meminta maaf dengan tulus. Meski pernikahannya dengan Nathan tidak dimulai dengan cinta, tapi sekarang Sheren mencoba membuka hati dan mencintai suaminya.
“Iya, Nyonya Arga Winata. Aku minta maaf sama kamu karena aku sadar aku ingin memulai kehidupan pernikahan yang bahagia sama kamu,” kata Nathan sembari mengusap punggung sang istri.
“Bukankah ini demi Ucup?” tanya Sheren sembari mendongak memperhatikan raut wajah sang suami.
***
Kembang Kopinya jangan lupa gaess 💋💋💋
__ADS_1