Hasrat Tuan Impoten

Hasrat Tuan Impoten
HTI | Bab 68


__ADS_3

Kedua pasangan yang sedang berbulan madu di New York, Sheren dan Nathan, saat ini sedang berada di jembatan ikonik bernama Broklyn Bridge. Sejak tadi, Sheren senyum-senyum sendiri sambil berjalan pelan menyusuri jembatan, membuat suaminya mengerutkan kening dengan curiga.


“Kamu lagi bayangin apa sih, dari tadi senyum-senyum terus?” Nathan mengambil kamera yang dipegang Sheren untuk melihat hasil foto bidikan istrinya itu.


“Aku lagi bayangin kamu nari-nari di sini kayak artis India, Mas. Aku pernah lihat film India aktornya itu joget-joget di sini loh!” ungkap Sheren dengan tawa lebar yang tak bisa lepas dari bibirnya.


Wanita itu memiliki imajinasi yang luar biasa, sampai-sampai dia membayangkan suaminya berjoget menirukan adegan film lama yang pernah ditonton.


“Kamu mau aku joget India gitu? Di sini?” Raut wajah Nathan seketika berubah panik. Dia tidak mungkin mau melakukan hal yang memalukan seperti yang istrinya itu imajinasikan.


Sheren memanyunkan bibir dan akhirnya menghela napas dengan pasrah. “Iya deh, Mas. Aku juga nggak minta kamu buat naik jembatan terus joget-joget kok,” putus Sheren yang kemudian duduk di bangku kosong yang ada di atas jembatan itu.


Nathan memperhatikan sekeliling, lalu ikut duduk di samping sang istri. “Minta makanan atau minuman apa gitu deh, Sayang. Jangan minta yang aneh-aneh. Malu kalau dilihat orang-orang Amerika,” kata Nathan. Dia mengambil tangan Sheren dan menggenggamnya penuh kasih sayang.


Dalam hati, Nathan sangat takut jika Ucup mendapat hukuman lagi karena tidak menuruti keinginan istrinya itu. Laki-laki itu membawa istrinya ke Amerika Serikat demi mendapatkan remisi atas hukumannya. Lalu, jika sekarang dia mendapat tambahan hukuman, bukankah semuanya akan sia-sia?

__ADS_1


Sheren hanya diam. Namun, diamnya bukan untuk marah atau kecewa, hanya saja dia sedang berpikir. Kenapa semua yang ada dalam pikirannya selalu dianggap serius oleh suaminya? Sementara Nathan yang tak direspons, justru mengira bahwa Sheren kecewa dan marah padanya.


“Maaf ya Sayang. Aku nggak bermaksud bikin kamu kesel. Aku cuma ....”


“Mas Nathan,” sela Sheren yang membuat ucapan Nathan terhenti.


“Ya, Sayang.” Nathan masih menggenggam tangan sang istri dan berharap wanita itu tidak akan mengeluarkan jurus andalannya.


Sheren dengan sangat manja merangkul lengan Nathan yang masih berdebar menanti kata demi kata yang akan keluar dari mulut istrinya. “Aku kan cuma halu, Mas, masa iya aku tega suruh kamu joget-joget India.”


Sikap manja Sheren itu tentu di luar dugaan Nathan. Laki-laki tampan itu mengulas senyum kegirangan karena terbebas dari ancaman hukuman yang menyakitkan. Kalau si Ucup dihukum puasa, bukankah itu menyakitkan?


Sheren kembali tersenyum menatap sang suami yang menurutnya adalah suami terhebat.


“Mas, aku ini siapa sih, nggak mungkin aku se-otoriter itu. Aku cuma istri yang ingin hidup bahagia sama kamu dengan cara kamu. Apa yang ada dalam khayalanku, biar aja itu menjadi khayalan karena buat aku, kamu tetap istimewa dari sudut mana pun.”

__ADS_1


Ungkapan cinta Sheren di langit New York sore itu membuat Nathan seperti dibawa ke langit sembilan. Dia terbang bebas mengudara hanya karena kalimata yang meluncur indah dari bibir sang istri. Walau Sheren tidak mengatakan secara gamblang tentang rasa cintanya, tetapi Nathan sangat yakin, bahwa wanita itu sangat mencintainya.


“Sheren, aku cinta kamu,” kata Nathan dengan ekspresi bahagia yang tidak bisa disembunyikannya.


Sheren menundukkan kepala dengan senyum yang juga terbit di wajah cantiknya. “Kamu cinta aku, apa Ucup cinta sama Donatnya?” goda Sheren.


Nathan langsung berlutut di hadapan wanitanya itu untuk kembali melihat sinar matanya. “Aku cinta beneran sama kamu, Sayang. Bukan karena Ucup atau penyakit aku, tapi sejak ada kamu, aku jadi punya semangat untuk hidup lebih baik. Dan setiap harinya, aku selalu cemas jika kamu ninggalin aku.”


Tanpa ba-bi-bu lagi, Nathan langsung mendaratkan bibirnya menyentuh bibir ranum sang istri. Di atas jembatan itu, mereka saling mengakui perasaan masing-masing.


“Malu dilihatin orang yang lewat, Mas!” Sheren mendorong tubuh Nathan sambil menggigit bibir bawahnya yang basah.


“Kenapa malu? Ini negara bebas, Sayang,” balas Nathan sambil kembali mendaratkan ciuman di bibir Sheren.


***

__ADS_1


Kebayang nggak Nathan joget ala raja bolywood, di fil Kal ho Na Ho 😂😂😂


Kembang kopinya jangan lupa 💋💋💋


__ADS_2