Hasrat Tuan Impoten

Hasrat Tuan Impoten
HTI | Bab 36


__ADS_3

Nasib sial memang harus dirasakan oleh Nathan. Bagaimana tidak, dia mendapat hukuman yang menyedihkan dari sang istri. Padahal, menurutnya itu hanya masalah sepele. Cuma karena cium pipi perempuan dan kebetulan dia mengenal Ucup, Sheren sampai semarah itu. Bukankah kejadian itu terjadi di masa lalu, jauh sebelum Nathan mengenal Sheren?


Laki-laki itu kini hanya bisa memandangi punggung sang istri yang tidur membelakanginya. Dia memilih diam dan tak lagi membantah setelah sang istri memberinya hukuman puasa. Coba kalau dia bicara lagi, pasti akan bertambah banyak hukumannya.


Malam ini, si Ucup hanya bisa meratapi nasib dan kesalahannya di masa lalu. Si Ucup harus sekuat hati menerima hukuman itu. Apalagi, Sheren seperti sengaja memancing kebangkitannya dengan memakai pakaian minim yang memperlihatkan punggung atas dan juga lengannya. Semua pemandangan itu membuat Nathan kesulitan untuk memejamkan mata.


“Sayang, kamu tumbenan pakai baju seeksi gini, gerah ya?” tanya Nathan yang tahu bahwa Sheren belum tidur.


Wanita itu enggan menjawab dan malam semakin memperlihatkan seluruh tubuhnya tanpa selimut. Tubuh Nathan seketika panas dingin karena melihat santapan lezat yang membangunkan si Ucup tetapi sama sekali tidak bisa dia nikmati.


Saat tangan Nathan dengan lancang menyentuh kulit halus sang istri, dengan cepat wanita itu berbalik badan dan melayangkan tatapan tajam pada Nathan.


“Jangan coba-coba mencuri kesempatan!” kata Sheren sembari melotot pada sang suami yang langsung mengkerut, takut.


Sheren akhirnya tidur dengan tenang. Meskipun begitu, dia sama sekali tidak mau memakai selimut karena ingin menyiksa suaminya sendiri.


***


Sheren menyiapkan makanan seperti biasa. Pagi ini dia merasa perutnya mual dan kepalanya sedikit pusing. Meski begitu, Sheren tetap melakukan kewajibannya sebagai seorang istri.

__ADS_1


Nathan selesai mandi, dia mulai mencium aroma masakan Sheren yang baru saja matang. Setidaknya, laki-laki itu bersyukur karena istrinya masih mau melayaninya meski dalam keadaan marah.


“Kamu masak apa, Sayang?” tanya Nathan yang kini menarik kursi di meja makan. Dia sudah menggulung lengan kemejanya supaya tidak kotor dan membuat Sheren marah sambil mengomel.


“Kalau belum ganti nama, yang ada di depan kamu ini namanya opor ayam,” jawab Sheren sambil menyajikan masakan yang sudah matang itu di meja makan.


Kepalanya semakin terasa pusing dan perutnya semakin mual. Karena tidak tahan lagi, Sheren akhirnya berlari ke toilet untuk memuntahkan isi perutnya.


Nathan yang melihat istrinya lari ke kamar mandi, jadi merasa khawatir dan takut jika istrinya kenapa-napa.


“Sheren, kamu nggak apa-apa?” tanya Nathan dengan khawatir.


“Aku nggak apa-apa kok. Kayaknya cuma masuk angin,” teriak Sheren agar suaminya tidak terlalu khawatir. Bisa repot kalau Nathan terlalu mengkhawatirkannya.


Nathan bisa mendengar jelas apa yang sang istri katakan. Tiba-tiba senyum cerah terukir di wajah tampannya. Nathan teringat dengan kata-kata sang ibu kalau wanita muntah di pagi hari, itu kemungkinan karena hamil.


Buru-buru Nathan menelepon ibunya untuk menanyakan mengenai gejala-gejala yang Sheren alami saat ini. Tentu saja hal itu membuat ibunya antusias. Mama Nathan itu langsung menuju apartemen sang putra untuk mencari tahu apakah menantunya benar-benar mengalami gejala kehamilan.


Sheren keluar dari kamar mandi, tapi Nathan langsung memperlakukannya seperti bayi. Itu membuat Sheren merasa aneh dan bertanya-tanya. Kenapa suaminya bersikap demikian?

__ADS_1


Sheren membuat teh hangat untuk dirinya dan kopi untuk Nathan. Lalu, setelahnya mereka bersiap makan dengan keadaan yang sangat aneh bagi Sheren.


Nathan berharap Sheren benar-benar hamil, sedangkan Sheren merasa suaminya bersikap seperti itu demi si Ucup.


“Makan yang banyak ya, Sayang!” kata Nathan yang tiba-tiba melayani Sheren dengan mengambilkan nasi ke piring istrinya itu.


Sheren masih menganggap hal itu sebagai usaha suaminya agar buka puasa lebih cepat. Dia pun menikmati hal itu. Kapan lagi bisa memanfaatkan kebaikan suami, kan?


Sampai akhirnya, tiba-tiba mama Nathan yang memang memiliki akses untuk masuk ke tower apartemen itu datang bertamu, hingga membuat Sheren salah tingkah karena tidak mengira mertuanya akan datang berkunjung.


“Sayang, apa benar kamu hamil? Mama bawakan alat tes kehamilan biar tahu hasilnya sejak dini,” kata Mama Lita yang sedang menenteng satu kantong plastik berisi alat tes kehamilan.


“Sheren Tadi muntah-muntah, Ma. Aku yakin dia pasti hamil.” Nathan menyahit dengan antusias.


Sementara itu, Sheren terlihat kebingungan karena tidak merasa sedang hamil. Dia takut jika hasilnya negatif, nanti mertuanya akan sangat kecewa. Semua ini memang gara-gara Nathan yang main menyimpulkan begitu saja.


***


Nah loh, Cup awas ditambah nanti masa hukumannya 😅😅😅

__ADS_1


__ADS_2