
Kabar kehamilan Sheren memang menjadi kabar menggembirakan bagi banyak orang. Tidak terkecuali ayah Sheren yang kali ini akan mendapatkan cucu kandung pertamanya. Sebagai calon kakek, Tuan Jimmy memang sangat bersyukur karena Sheren akhirnya bisa hamil dan melengkapi pernikahannya dengan kehamilan itu.
Sheren bisa melihat wajah papanya yang begitu bahagia setelah diberitahu tentang kehamilannya. Bagi Sheren, ayahnya adalah segalanya, sebelum laki-laki itu menikahi mamanya Scarlett. Melihat binar bahagia papanya, ada yang terasa hangat di dada istri Nathan itu.
“Selamat ya, Nak. Papa ikut bahagia dengan kehamilanmu. Semoga cucu papa selalu sehat dan lahir dengan selamat,” ucap ayah Sheren itu dengan tulus.
Sheren hanya mengangguk seperlunya. Sulit memang untuk kembali dekat dengan sang ayah yang dulu lebih percaya dengan omongan Scarlett dan mamanya. Setelah ayahnya menikah lagi, Sheren merasa ayahnya sudah banyak berubah, karena itulah dia pun mulai membuat jarak dengan ayah kandungnya sendiri.
“Kalau kamu pengen sesuatu, jangan ragu untuk kasih tahu papa ya. Papa masih ingat loh, resep ayam kecap yang dulu kamu banggakan itu, Sheren.”
Sheren tahu, papanya masih berusaha keras mengikis jarak mereka yang sudah terlanjur jauh. Apalagi sekarang Sheren sudah menikah dan tidak tinggal serumah dengan ayahnya itu, sehingga jarak yang ada di antara mereka kian jauh saja.
“Iya, Pa. Makasih,” balas Sheren.
Mama Lita seolah tahu kecanggungan yang terjadi antara ayah dan anak itu. Dengan candaannya, wanita itu mencoba mencairkan suasana.
__ADS_1
“Nathan, kamu sebagai suami dan calon ayah, harus sigap loh saat istri lagi hamil gini,” oceh Mama Lita.
“Maksud mama apa?” tanya Nathan dengan kening berkerut. Laki-laki itu sepertinya belum paham bagaimana tugas dan kewajiban seorang ayah yang seharusnya. Ya, maklum karena Nathan memang baru pertama kali merasakan status itu.
Mama Lita geleng-geleng kepala, lalu mengembuskan napas berat sebelum menjawab, “Yang namanya orang hamil itu biasanya merasakan ngidam. Kamu harus siap apa pun dan kapan pun itu, pokoknya harus kamu turuti. Kalau tidak, anak kamu nanti bisa ileran!”
Tidak hanya Nathan yang membayangkan anaknya berliur setiap saat. Sheren juga membayangkan hal yang sama. Bayi lucu mereka akan terus mengeluarkan liur sepanjang hari di depan banyak orang.
“Nggak akan!” Tiba-tiba saja Nathan berteriak. “Anakku nggak akan ileran. Itu nggak akan terjadi.”
“Sayang, kamu mau apa? Nanti aku turuti semuanya. Bilang aja, Sayang!” kata Nathan dengan sangat manis. Laki-laki itu lebih takut jika apa yang dikatakan ibunya akan menjadi kenyataan. Bukankah itu seperti kutukan yang menyeramkan?
“Kalau mama jadi kamu, mama minta semua yang ada di otak mama, Sheren.” Mama Lita kembali mengompori menantunya.
Melihat kehangatana yang Sheren dapatkan dari keluarga suaminya, Mama Melisa jadi semakin panas kupingnya.
__ADS_1
“Pa, mama keluar sebentar ya, mau nelfon teman,” bisik wanita itu pada ayah Sheren. Dia butuh udara segar karena melihat Sheren rasanya udara terasa panas dan membuatnya sesak.
Papa Sheren hanya mengangguk dan membiarkan istrinya itu keluar, karena dia masih ingin bersama putrinya, Sheren.
“Mama dulu gitu juga ke Papa?” tanya Nathan curiga. Pasalnya, wanita yang telah melahirkannya itu sedang mengompori Sheren agar meminta banyak hal selagi hamil.
“Iya dong, mama pengen naik helikopter diturutin sama Papa, sekarang kita punya sendiri kalau dulu nyewa, Nathan. Waktu hamil kamu itu mama benar-benar jadi ratu,” balas Mama Lita dengan enteng.
“Soalnya Papa ada uang waktu itu, coba kalau nggak ada, mungkin lebih baik Nathan ileran aja terus,” sahut Tuan Winata yang kebetulan baru saja sampai.
“Oh, pantesan aja mama anaknya cuma satu. Pasti karena Papa kapok nurutin ngidam Mama yang mengada-ada itu, iya kan, Pa?”
***
Kembang kopinya jangan lupa 💋💋💋
__ADS_1