
Nathan masih berpikir keras apa yang sebenarnya membuat sang istri marah. Dia mulai mengingat-ingat lagi runtutan kejadian sebelum akhirnya sang istri cemberut.
Mengingat pertemuan dengan Angel, Nathan kira semuanya masih baik-baik saja. Bukankah Sheren juga sempat bermanja dengannya di hadapan Angel? Lalu kenapa dia marah setelah pulang dari pertemuan itu?
Karena masih bingung dan tidak mendapat jawaban yang pasti, Nathan akhirnya masuk ke kamar menyusul Sheren. Wanita cantik itu sedang tidur miring membelakanginya.
Dengan rasa penasaran yang tinggi, Nathan masuk ke dalam selimut Sheren dan langsung memeluknya. Hal itu ternyata membuat Sheren ingin membalas rasa kesalnya kedekatan sang suami dengan model cantik yang bahkan mengenal baik benda pusaka tidak ajaib milik suaminya.
“Kamu marah gara-gara Angel ya, Sher?” tanya Nathan sembari mengusap lengan Sheren hati-hati. “Aku pikir kamu tidak marah karena tadi kamu bersikap baik-baik saja. Apa kamu sedang cemburu dengan Angel?”
Sheren pura-pura tidur. Dia tidak mau membalas pertanyaan suaminya yang masih bertanya-tanya. Akan tetapi, dia membiarkan Nathan menyentuhnya supaya membangunkan adik kecilnya yang bernama Ucup itu. Biar saja, nanti setelah si Ucup bangun, wanita itu akan membuatnya terbangun terus tanpa pelampiasan.
“Sheren bangun dong!” kata Nathan sembari memeluk tubuh Sheren dengan sangat erat. Dia mulai mengendus dan mencium leher Sheren dengan lembut, berniat ingin membangunkan istrinya itu.“Aku kangen nih pengen!” kata Nathan yang mulai merasakan si Ucup bereaksi.
Sheren membiarkan Nathan melakukan apa pun yang laki-laki itu inginkan. Setelah Nathan puas memainkan dua bukit kembar milik Sheren, si Ucup pun benar-benar berada dalam tegangan tinggi. Nathan berniat membuka baju Sheren, tapi wanita itu langsung menepisnya dan membuat Nathan terkejut.
__ADS_1
“Mau ngapain?” tanya Sheren dengan mata membulat sempurna. Nada bicaranya yang terdengar galak, mampu membuat hati Nathan berdebar karena takut.
“Em, mau minta jatah,” jawab Nathan sembari terkekeh pelan dengan tangan yang mulai setia menggaruk belakang kepala.
“Kenapa minta sama aku? Bukankah si Ucup itu terkenal? Kalau sama perempuan lain bisa cipika-cipiki tanpa rasa bersalah, kenapa kamu berpikir kalau aku akan memberikan kenikmatan untuk si Ucup?”
Sheren memasang wajah menyeramkan. Jika bisa Nathan imajinasikan, wanita itu sudah mengeluarkan tanduk dan taringnya, siap mengoyak tubuh Nathan yang menciut karena pertanyaan istrinya itu.
“Aku sama Angel itu cuma coba-coba aja kok. Kamu kan tahu kalau si Ucup nggak bisa bangun. Angel itu hanya salah satu orang yang pernah mencobanya makanya dia kenal sama Ucup. Kalau soal cium pipi itu, bukannya hal wajar ya kalau ketemu teman yang ….”
“Teman yang spesial? Kamu gimana sih? Bukannya kamu sudah menikahiku, lalu kamu anggap aku ini apa? Dengan seenaknya beradegan mesra dengan wanita lain di hadapanku. Kamu tahu nggak gimana jatuhnya harga diri aku di depan Angel itu, sampai-sampai dia nggak bisa ngenali aku sebagai istrimu,” potong Sheren panjang lebar.
Nathan berpikir keras bagaimana caranya agar sang istri tidak lagi marah. Dia mencoba merangkai kata untuk menjelaskan pada Sheren sekaligus mencari pembenaran dalam masalah ini. Ya, Nathan merasa itu hal wajar dan tidak perlu dipermasalahkan.
“Aku tidak tahu kalau itu membuatmu marah. Aku pikir ....”
__ADS_1
“Iya kamu memang ganteng, kaya, pasti banyak wanita mendekat dan menjadikanmu don juan. Makanya kamu sampai lupa kalau udah nikah sama aku,” potong Sheren yang merasa harus memberi hukuman pada suami yang baru dinikahinya itu.
Nathan jadin semakin merasa bersalah, dia mendekati sang istri, mencoba untuk menenangkannya. “Maaf, ya, Sayang. Lain kali aku nggak gitu lagi,” ucapnya dengan menekan seluruh ego dan rasa percaya dirinya yang tinggi. Dia tidak mau kalau sampai si Ucup yang baru merasakan bahagia setelah sekian lama, harus tersiksa karena satu-satunya wanita yang menaklukannya ternyata mengabaikannya.
“Nggak, kamu harus dihukum biar nggak ngulangin lagi,” putus Sheren kemudian.
Jantung Nathan seakan berhenti berdetak, sepertinya sesaat lagi dia akan merasakan tersiksa karena ulahnya sendiri.
“Hukuman apa?” tanya Nathan dengan wajah pasrah. Dia berdoa dalam hati supaya Sheren tidak menghukumnya dengan berat dan tidak terlalu lama.
“Si Ucup harus puasa seminggu. Apa pun yang terjadi, tidak boleh coba-coba mencuri kesempatan untuk menyenangkannya. Itu hukuman yang pas untuk Ucup yang terkenal di kalangan para wanita cantik,” balas Sheren bersungut-sungut.
“Cuma beberapa aja kok, nggak sampek sepuluh orang yang kenal,” sahut Nathan bermaksud membela diri.
“Oh, jadi sudah sebanyak itu ya, kalau gitu satu wanita dikalikan seminggu. Ada berapa pastinya?”
__ADS_1
***
Maaf Cup, Nathan keceplosan deh 😆😆