
Nathan sangat bahagia dengan kehamilan Sheren. Karena itulah, dia langsung setuju saat mamanya ingin mengadakan pesta syukuran untuk mengumumkan kehamilan Sheren yang memasuki usia tujuh bulan nantinya.
Laki-laki itu mempercayakan pada sang ibu untuk mengurus semua keperluan acara itu. Nathan tidak ingin membuat Sheren repot-repot jika harus mengurus semua itu sendiri.
“Mas, emang kita perlu banget ya acara kayak begituan? Aku malu kalau dilihat orang-orang pakai acara mandi-mandi begitu, Mas!” protes Sheren yang masih kepikiran tentang acara yang sebenarnya masih tiga bulan lagi diadakan.
Pasangan suami istri itu saat ini sedang dalam perjalanan menuju ke kantor. Ya, meskipun sedang hamil, Sheren masih berangkat ke kantor membantu suaminya bekerja. Bukan karena mereka membutuhkan banyak uang untuk persalinan, tetapi memang Sheren merasa bosan jika di rumah sendirian. Apalagi, mereka tinggal di apartemen yang terpisah dengan orang tua Nathan.
“Nanti kita acaranya yang lebih modern aja, Sayang. Percayakan aja sama Nyonya Lita. Dia temannya banyak, pasti masalah begini gampang banget buat Mama,” balas Nathan tak ingin ambil pusing.
Sebagai laki-laki yang sudah dikenal sebagai seorang impoten, tentu saja kabar kehamilan sang istri akan membungkam mulut semua orang dengan mudah. Dia ingin membuktikan pada semua orang bahwa dirinya normal dan bisa membuat istrinya hamil akibat perbuatannya.
Sheren tidak bisa mengelak lagi. Sekarang, yang bisa wanita itu lakukan hanya pasrah dan menerima karena suami dan mertuanya terlihat antusias sekali untuk acara itu.
Padahal, masih tiga bulan lebih, tapi mereka sudah antusias sekali. Bagaimana kalau anak ini lahir nanti ya? Mungkin Mas Nathan dan Mama akan membuat pengumuman kelahirannya di monitor raksasa gedung pencakar langit.
Sheren hanya bisa mengulas senyum sambil mengelus perutnya. Dia sangat bersyukur memiliki suami dan mertua yang begitu baik dan sangat sayang dengannya.
Sementara itu, Scarlett kini telah kembali ke rumah mertuanya. Bersama suaminya, Kenzo, juga mamanya yang turut menemani, Scarlett memasuki rumah milik keluarga Kenzo dan mendadak merasakan sesuatu yang menikam ulu hatinya.
Angannya kembali terbang ke waktu beberapa bulan lalu. Kala itu, Scarlett dengan bangga memasuki rumah mewah itu usai menikah dengan Kenzo yang sebenarnya adalah kekasih adik tirinya. Namun, hal yang sangat berbeda sedang Scarlett rasakan saat ini.
Scarlett kini memasuki rumah mewah itu dengan perasaan bersalah yang mendominasi. Sampai akhirnya Mama Kenzo yang sedang menggendong Kenneth pun menyambut kedatangan Scarlett dari rumah sakit.
“Sayang, tuh mama kamu pulang! Kamu pasti senang, 'kan?” Wanita bernama Denna yang merupakan ibu kandung Kenzo itu mencoba memberitahu cucunya bahwa sang menantu sudah pulang.
__ADS_1
Melihat putranya, Scarlett kembali menitikkan air mata. Seandainya saja kakinya masih normal, mungkin dia akan berlari dan memeluk bayi mungil itu. Sayangnya, Scarlett tidak sesempurna itu sekarang.
“Kenneth!” Scarlett mengulurkan tangan untuk bisa menyentuh bagian tubuh sang putra yang sangat wanita itu rindukan.
Mama Kenzo memindahkan bayi digendongannya itu ke atas pangkuan Scarlett. Mama Denna sangat mengerti perasaan sang menantu saat ini. “Coba kamu gendong dia, dan belajar buat jadi ibu yang baik!”
Scarlett dengan hati-hati menerima bayi laki-laki yang seminggu ini berpisah dari dirinya. Ikatan batin antara ibu dan anak itu tampaknya sangat kuat. Kenneth yang sejak tadi tidur, kini membuka lebar matanya yang kemudian menatap mata ibunya yang mengembun.
“Halo, Sayang. Ini Mama,” kata Scarlett dengan suara parau. Air mata yang sejak tadi ditahan, kini tidak bisa dibendung lagi. Wanita itu menangis sambil memeluk putranya dengan caranya sendiri.
Scarlett tidak menyangka bisa bersama dengan Kenneth lagi, padahal selama ini dia sudah pasrah jika harus dipisahkan dari sang putra. Namun, kebesaran hati Kenzo dan mamanya masih mau memberikan kesempatan untuk Scarlett kembali.
“Kita masuk dulu aja, kamu pasti pengen langsung istirahat!” kata Kenzo yang akhirnya mendorong kursi roda sang istri untuk masuk ke rumah mereka.
Sheren dan Nathan sudah bekerja seperti biasa. Saat ini mereka sedang meeting penting dengan klien yang mengajak bertemu di restoran ternama di hotel bintang lima.
Sebagai wanita hamil, sangat wajar jika Sheren banyak makan karena memang membutuhkan banyak tenaga untuk dua orang. Apalagi janin yang tumbuh di rahimnya jelas membutuhkan banyak asupan.
Hal yang sangat berbeda justru sedang Nathan rasakan. Laki-laki itu tidak bisa banyak makan seperti biazanya. Sejak awal kehamilan Sheren, dia memang sering muntah-muntah jika makan berlebihan.
“Pak Nathan tidak suka makanannya?” tanya klien yang sedang meeting dengan Nathan dan Sheren saat melihat Nathan hanya makan sedikit.
“Oh, nggak kok Pak Darel, cuma lagi diet saja jadi makannya dikit,” jawab Nathan sembari mengangkat gelas minumnya yang berisi jus tomat.
Sementara Sheren dengan lahap menghabiskan semua makanannya tanpa sungkan sedikit pun.
__ADS_1
“Oh, lagi diet. Tapi, kalau Bu Sheren sepertinya sedang lapar sekali ya.” Klien Nathan itu kini melirik Sheren yang sedang menikmati makanannya sampai hampir habis.
“Ya, istri saya lagi hamil, makanya harus banyak makan. Kasihan kalau anak kami kelaparan nanti, di perut nggak ada yang jual ayam goreng,” balas Nathan dengan gayanya yang selalu bercanda.
Beruntungnya klien Nathan itu masih bisa diajak bercanda, sehingga acara makan siang itu tidak terasa canggung sama sekali. Sampai akhirnya, meeting itu pun berakhir dengan kesepakatan kerja sama yang mereka inginkan.
Setelah makan siang, Nathan dan Sheren seharusnya kembali ke kantor untuk kembali bekerja. Namun, sepertinya Sheren masih ingin menikmati kemewahan hotel yang mereka datangi saat ini.
“Mas, kamu nggak lupa kan, waktu itu aku pernah bilang pengen nginap di sini?” tanya Sheren dengan bibir yang mulai mengerucut.
Nathan sebenarnya sudah sangat lupa, tetapi demi sang istri supaya tidak marah, dia berusaha keras untuk mengingatnya.
Saat Nathan masih berusaha untuk mengingat-ingat, Sheren langsung menyimpulkan bahwa suaminya sudah lupa. “Kamu pasti lupa deh!”
Nathan hanya nyengir kuda karena memang dia tidak ingat apa yang sedang dibicarakan istrinya itu. “Emang kapan kamu mau nginap di sini, Sayang?”
“Kalau sekarang gimana?”
“Sekarang banget? Nggak bisa nanti pulang kerja? Kita kan masih harus kembali ke kantor, Sayang!” Nathan mengusap wajah sang istri.
Sheren menghela napas dengan berat.
Padahal, dia kan bisa telfon Papa dan bilang kalau menantunya yang cantik ini pengen nginep di hotel. Kenapa sekarang Mas Nathan terkesan menolakku? Apa dia sudah bosan sama donatku?
Kembang kopinya jangan lupa 💋💋
__ADS_1