
Meskipun dalam keadaan lemas dan masih sedikit pusing, Nathan tetap mengantarkan sang istri yang tiba-tiba ingin sekali makan donat dari penjual keliling. Ya, Sheren hanya mau makan donat yang sangat merakyat itu, bukan donat dari kedai ternama yang harganya terbilang mahal.
“Dari tadi kenapa yang lewat cilok terus sih, donatnya mana?” gumam Sheren yang sudah tidak sabar ingin mencicipi donat dari pedagang kaki lima.
“Mungkin tukang donatnya masih mangkal di mana gitu, Sayang. Sabar ya kita tunggu sini aja katanya kan biasa mangkal di sini,” sahut Nathan sembari memejamkan mata. Dia merasa sangat lelah dan lemas karena tadi sempat mual-mual.
“Iya ini kan juga lagi sabar nungguin. Tapi lumayan lama juga sih ya,” gerutu Sheren sambil mengusap perutnya yang masih sangat rata.
“Tapi kenapa harus donat mamang keliling sih? Kenapa nggak donat yang di mal begitu kan lebih terjamin rasa dan kualitas serta kebersihannya, Sayang!” Nathan masih memejamkan mata dengan kepala yang bersandar di kursi yang tidak lagi tegak.
“Ya daripada donat yang nggak bolong tengahnya, kamu pasti lebih bingung nanti,” jawab Sheren dengan kesal. Bukannya membantu menunggu penjual donat lewat, suaminya malah terus-menerus menawarinya untuk membeli makanan itu di tempat lain.
Telinga Nathan begitu asing dengan apa yang istrinya sebutkan? Donat yang tidak bolong tengahnya? Memangnya ada? Kalau Sheren sampai mengidamkan makanan seperti itu, habislah sudah Nathan dibuat pusing.
“Ya sudah kita tunggu mamangnya lewat saja ya. Daripada cari donat yang aneh-aneh.” Nathan batal mengantuk. Dia langsung meraih tangan istrinya itu dan menciuminya, tidak lupa Nathan juga mengusap perut sang istri supaya anak dalam kandungan Sheren saat ini mau bekerja sama untuk tidak menyusahkan ayahnya. “Baby kecil tunggu sebentar ya donatnya, jangan minta yang macem-macem loh!”
“Pokoknya sebelum dapat donatnya, Si Ucup harus puasa juga!” ancam Sheren yang tidak main-main dengan keinginannya kali ini.
__ADS_1
Nathan langsung merinding bak melihat hantu di siang bolong. Membayangkan Ucup puasa benar-benar hal yang sangat mengerikan untuk laki-laki itu.
“Jangan puasa dong, Sayang! Kamu ngancamnya begitu terus, nggak asyik deh! Kalau Ucup puasa, yang ada malah Ucup yang ileran, Sayang!” Wajah Nathan begitu melas saat meminta penangguhan hukuman dari sang istri yang saat ini sedang dalam fase ngidam.
Sheren tertawa geli membayangkan seperti apa Ucup saat ileran. Pasti ekspresi Nathan saat itu jadi lucu sekali.
“Kok kamu malah ketawa? Apanya yang lucu?” tanya Nathan dengan wajah serius yang semakin membuat Sheren tertawa geli.
Saat Sheren ingin menjelaskan apa yang ada dalam bayangannya, tiba-tiba pedagang donat yang sejak tadi ditunggu-tunggu pun datang.
“Mas itu donatnya!” tunjuk Sheren pada penjual donat yang berhenti di dekat gapura tempatnya biasa menunggu pembeli.
“Pak mau donatnya dong!” kata Sheren antusias.
Pedagang donat yang berjualan dengan mengayuh sepeda itu tentu sangat bahagia mendapat pembeli saat dia baru saja tiba di tempatnya jualan.
“Silakan, Neng! Mau rasa apa? Ada coklat, stroberi, keju, masih lengkap!” kata sang pedagang dengan sangat ramah.
__ADS_1
Saat istrinya sedang sibuk memilih rasa donat yang ingin dimakan, Nathan justru sibuk memperhatikan raut wajah sang pedang yang tetap terlihat semangat di usianya yang tidak lagi muda.
“Mau yang ini dua, yang ini empat, yang ini lima, sama yang ini tiga!” jawab Sheren sambil menunjuk donat-donat yang sudah dipilihnya.
“Wah, diborong, Neng! Syukurlah rezeki nggak ke mana. Buat bayar sekolah anak Neng, terima kasih!” ucap sang penjual donat dengan wajah bahagia yang penuh syukur. Dia memindahkan donat-donat yang dipilih Sheren ke dalam wadah dari kardus tipis yang dikhususkan untuk makanan.
“Anaknya Bapak ada yang masih sekolah?” tanya Sheren dengan ramah juga.
“Yang paling kecil sekarang SMP, Neng! Mau masuk SMA biayanya sekarang mahal,” jawab penjual itu masih dengan senyum lebar.
Nathan baru menyadari sekarang. Dia sangat beruntung karena lahir di keluarga kaya, lingkungan orang kaya sehingga tidak begitu mengerti susahnya orang mencari uang demi sesuap nasi. Dari pedagang donat itu juga Nathan belajar, semua orang tua pasti mengupayakan yang terbaik untuk anaknya.
Laki-laki yang sejak tadi hanya diam memperhatikan penjual donat itu, akhirnya berkata, “Pak, donatnya saya beli semua! Jadi berapa?”
***
Than, mau dong atu... Kalau kamu baik gini, nanti Ucup aku kasih bonus 🥰🥰
__ADS_1
Kembang kopinya jangan lupa gaess 💋💋