Hasrat Tuan Impoten

Hasrat Tuan Impoten
HTI | Bab 43


__ADS_3

Sheren dan Nathan kini sama-sama memakai kembali pakaian mereka. Setelah puas menuntaskan kebutuhan biologisnya, dua manusia yang sedang menghadiri acara Scarlett itu malah asyik bermadu kasih.


Saat Nathan mengeluhkan AC yang panas dan kenapa kamar Sheren diambil alih oleh Scarlett, wanita itu hanya bisa mengulum senyum tipis.


“Sebenarnya Papa dan mamanya Scarlett membeli rumah ini beberapa tahun lalu. Scarlett memilih kamar yang paling luas, sedangkan aku dan Nando dapat sisanya. Ternyata, balkon di kamar aku itu lebih sejuk dari balkon kamar Scarlett. Dia nyuruh aku pindah, tapi aku nggak mau diatur-atur sama dia. Akhirnya, pas aku ke luar negeri, dia ambil alih kamarku dan kamar dia itu tetep dipakai juga. Aku nggak dapat kamar karena setelah tahu Scarlett nikah sama Kenzo dan kamarku diambil alih, aku memutuskan keluar dari rumah ini,” jelas Sheren.


Sheren seperti sudah terbiasa dengan keserakahan Scarlett. Bahkan, saat Kenzo dicuri darinya pun, Sheren sudah tidak heran lagi. Dia tidak perlu menangis meraung karena kehilangan cinta, karena itu sudah jadi hal biasa baginya.


“Bahkan, pacarmu juga diambil alih olehnya. Cih, licik sekali dia!” seru Nathan yang kini telah selesai merapikan pakaiannya.


“Biarkan saja. Manusia yang tidak bisa setia, memang cocok bersamanya,” balas Sheren masa bodoh.


Pasangan suami istri itu akhirnya keluar dan kembali bergabung dengan beberapa tamu karena acara syukuran akan dimulai. Sheren duduk bersama ibu mertuanya sedangkan sang suami duduk bersama dengan Tuan Jimmy.


Scarlet dan Kenzo duduk berdampingan karena mereka adalah calon orang tua yang saat ini sedang didoakan oleh para tamu. Mertua Scarlet juga ada di sana.


Sementara itu, tatapan orang-orang padanya rupanya membuat Sheren merasa tidak nyaman. Wanita itu merasa curiga, jangan-jangan mereka sedang menggosipkannya lagi.

__ADS_1


“Ma, kenapa semua orang jadi melihatku dengan pandangan aneh ya, menurut Mama bagaimana?” tanya Sheren di tengah-tengah acara pesta yang masih berlangsung itu.


“Mungkin karena kamu terlihat cantik, Sayang,” jawab Mama Lita yang kemudian menoleh pada sang menantu. “Tapi, Sheren. Sepertinya kamu pucat sekali, apa lipstikmu sudah luntur?” tanya Mama Lita setelah memperhatikan wajah pucat menantunya.


Sheren hanya terkekeh. Masalahnya memang tadi dia hanya menambahkan polesan bedak saja setelah bertempur dengan suaminya. Dia tidak sempat mencari lipstiknya yang sedang bersembunyi di dalam tas karena buru-buru acara sudah mau mulai.


“Masa mereka memperhatikan lipstik aku sih Ma? Aku kan jadi malu banget,” bisik Sheren yang kemudian merogoh tasnya untuk mencari lipstik.


Mama Lita hanya terkekeh karena kepanikan menantunya itu. “Sudahlah Sayang kamu tetap cantik kok!”


Acara tujuh bulanan Scarlett kini dilanjutkan dengan siraman. Kedua calon ayah harus dimandikan sesuai adat kepercayaan keluarga Kenzo.


Saat keluar rumah itulah, Nathan menghampiri sang istri dan bergabung dengan ibunya juga.


“Mas, tolong pegangin aku dong, rasanya kepalaku mulai pusing,” kata Sheren dengan manja.


Nathan dengan senang hati menuruti keinginan istrinya itu. Dia mengizinkan Sheren untuk merangkul lengannya. Tiba-tiba seseorang yang berjalan beriringan dengan mereka mengatakan hal yang membuat mereka bingung.

__ADS_1


“Ternyata semua itu hanya gosip. kalian benar-benar hebat!”


“Iya benar. Waktu kita muda dulu juga begitu,” sahut yang lainnya.


Nathan dan Sheren saling berpandangan. Keduanya bahkan tidak mengerti apa yang sedang dua orang itu bicarakan tentang mereka.


“Mbak Sheren, lain kali jangan cuma suara, tapi divideo juga biar semua orang tahu kalau suaminya bukan pria impoten,” bisik seorang ibu-ibu sebelum melarikan diri dari Sheren dan Nathan yang masih belum juga mengerti.


“Emang kamu kasih suara apa ke mereka? kenapa sekarang mereka malah minta video? Maksud mereka video apa, Sayang?” tanya Nathan bingung.


Sheren mencoba mengingat sesuatu yang mungkin pernah dia bicarakan pada mereka, tapi sayangnya dia tidak bisa mengingat apa pun.


“Atau jangan-jangan mereka dengar kita lagi anu-anuan tadi ya,” imbuh Nathan yang kini baru menyadari sesuatu.


“Astaga, kamar itu tidak kedap suara, Mas.”


***

__ADS_1


Kembang kopinya jangan lupa, bagi vote juga dong yang masih belum ngevote 💋💋💋


__ADS_2