Hasrat Tuan Impoten

Hasrat Tuan Impoten
HTI | Bab 64


__ADS_3

Sheren menarik lengan suaminya untuk keluar dari ruang perawatan Scarlett. Tanpa berpamitan dan tanpa mengucapkan kata-kata lagi, Sheren dan Nathan meninggalkan kamar VVIP itu diikuti oleh Mama Lita.


Sambil berjalan, Sheren merutuki dirinya sendiri yang tidak bisa menjaga mulut untuk tidak ikut campur. Padahal, sebenarnya dia hanya terbawa perasaan saja saat melihat bayi Scarlett yang akan dipisahkan dengan ibunya. Walau bagaimanapun, Sheren juga seorang ibu saat ini.


“Aku telefon Revan dulu ya, Sayang!” kata Nathan saat mereka sudah menjauh dari ruangan Scarlett itu.


Mama Lita yang melihat menantunya lepas dari pelukan sang putra, segera mendekati Sheren. “Sayang, kamu nggak apa-apa?” tanya Mama Lita yang merasa khawatir saat melihat wajah pucat Sheren.


“Aku nggak apa-apa kok, Ma. Tadi, spontan saja, aku jadi nggak enak sama mamanya Kenzo, nggak sopan banget ya aku.” Wanita hamil itu masih merasa canggung karena tiba-tiba menyahut. Padahal, seharusnya mereka datang hanya untuk menjenguk Scarlett dan bayinya.


Mama Lita mengerti apa yang dirasakan oleh menantunya itu. Sambil memeluk Sheren, Mama Lita pun mencoba menenangkan sang menantu yang tengah hamil itu.


“Nggak apa-apa, Sayang. Kamu nggak salah kok. Mama juga merasa kasihan sama bayi itu. Walaupun Scarlett salah, tapi nggak seharusnya kalau mereka memisahkan ibu dengan anaknya. Sudah jangan dipikirin lagi, Sayang.”


Dua wanita berstatus menantu dan mertua itu saling berpelukan dalam suasana galau. Tidak lama setelahnya, Nathan muncul setelah menelepon orang kepercayaannya.


“Ya ampun, Kanjeng Ratu dan Ibu Negara saling bermesraan,” cibir Nathan saat melihat kemesraan ibunya dan sang istri.


Sheren dan Mama Lita dengan kompak menatap Nathan dengan ekspresi datar.


“Sudah jangan sedih! Pesawat sudah siap. Mari kita berangkat!” kata Nathan dengan sangat bangga.


Laki-laki itu telah menyuruh Revan untuk menyewa pesawat pribadi ke Amerika demi menuruti keinginan sang istri yang sedang hamil. Nathan sengaja memanfaatkan momen mengidam sang istri itu untuk sekalian berbulan madu di sana. Yang jelas, jauh dari semua orang.

__ADS_1


“Berangkat ke mana?” tanya Mama Lita dan Sheren dengan kompak.


“Ke New York. Katanya mau lihat patung Liberty. Aku sudah suruh Revan siapin semuanya,” kata Nathan dengan sangat bangga. “Kalau cuma lihat patung sih nggak masalah, asal jangan minta pindahin patung itu ke sini!”


Sheren berkedip-kedip mendengar penjelasan dari suaminya itu. Dia sama sekali tidak tahu jika Nathan akan menuruti keinginannya yang asal bicara itu. Padahal dia hanya ingin melarikan diri dari rasa malu dan canggung saja.


“Kamu pengen ke New York, Sayang?” tanya Mama Lita yang ikut antusias. Pasalnya, ini akan menjadi momen liburan Nathan dan Sheren. Ya, meskipun mereka sudah memiliki calon anak yang kini tumbuh dan berkembang di rahim Sheren.


“Em, sebenarnya ....”


“Udah, nggak apa-apa jangan malu-malu, Sayang. Kita bisa sekalian honey moon, baby moon atau apalah, yang penting liburan. Aku juga udah urus kerjaan sama Revan kok,” sahut Nathan yang terus meyakinkan Sheren bahwa mereka memang seharusnya pergi.


Nathan tidak mau Sheren berubah pikiran, karena dia sudah menyusun rencana yang indah untuk si Ucup yang merindukan lezatnya donat. Di Amerika nanti, Ucup pasti akan terbebas dari hukuman.


Yes, akhirnya bisa berduaan sama istriku. Ucup, siap-siap ya, masa hukumanmu akan segera selesai.


*


*


*


Nathan dan Sheren sedang menyiapkan segala keperluan mereka untuk berlibur ke negeri Paman Sam. Untungnya, Mama Lita tidak ikut pulang karena mendapat telepon dari teman arisannya.

__ADS_1


“Mas, sekarang musim apa di sana?” tanya Sheren sembari menatap deretan baju di lemari yang sebagian besar adalah hadiah pernikahan dan hadiah dari mama mertuanya.


“Musim semi kayaknya, soalnya hatiku lagi berseni-semi,” jawab Nathan sembari memeluk Sheren dengan tiba-tiba.


“Berarti cocoknya yang warna-warna cerah deh! Awas kamu minggir dulu, Mas!” usir Sheren yang kemudian mengambil beberapa potong baju dan memasukkannya ke koper.


“Ngapain bawa banyak-banyak baju sih, Sayang. Nanti kita bisa beli di sana! Aku pengen cepet-cepet nyampek ke Amerika biar bisa buka puasa!” kata Nathan sambil senyum-senyum kegirangan.


Sheren berdehem. Dia lupa jika saat ini ia belum memberikan remisi pada suaminya itu. “Emang kamu maunya nunggu di Amerika, Mas?” goda Sheren sembari melepaskan kancing bajunya satu per satu dan membua pakaian atasnya di depan sang suami.


Melihat tubuh indah sang istri, jakun Nathan naik turun menahan gejolak hasrat yang dengan mudah dipancing Sheren. “Kamu mau sekarang aja? Tapi, pesawatnya ....” Nathan juga membuka kaus miliknya untuk mengimbangi gerakan Sheren.


“Aku mau langsung aja ya, Mas!” kata Sheren yang semakin membuat Nathan panas dingin.


Revan sudah mengatur semuanya dan mengatakan pada Nathan agar mereka sampai di bandara tepat waktu, tapi jika Sheren terus begini, mungkin mereka akan tiba lebih lama.


“Iya udah, main cepet aja deh!” kata Nathan yang kemudian meloloskan seluruh pakaiannya.


“Main apanya. Orang aku mau langsung ganti baju nggak mau mandi dulu kok! Kamu kege-eran, Mas. Dasar Ucup omes, langsung tegang kagak tiang bendera gitu!”


***


Mereka jadi ke Amerika nggak kira-kira 🌝🌝

__ADS_1


Kembang kopinya jangan lupa 💋💋


__ADS_2