Hasrat Tuan Impoten

Hasrat Tuan Impoten
HTI | Bab 40


__ADS_3

Orang bilang, cemburu itu adalah bumbunya sebuah hubungan. Rasa cemburu yang timbul dalam diri pasangan itu ada karena rasa cintanyang juga mulai ada. Boleh cemburu, asal tidak cemburu buta.


Melihat wanita yang menjadi miliknya bersama laki-laki lain yang terlihat lebih keren dan fashionnable, Nathan langsung menghampiri istrinya itu. Dia ingin menunjukkan bahwa dia adalah pemilik sah dari wanita cantik itu.


Sheren menolah ke belakang saat tahu suaminya datang menghampiri. “Udah dapat parkirnya, Mas?” tanyanya pada sang suami.


Dengan sengaja, Nathan langsung merangkul istrinya dan mengukir senyum kecut pada laki-laki yang diduga adalah teman dekat Sheren di masa lalu. “Udah, Sayang. Kamu lagi ngobrol sama siapa?” tanyanya.


Sheren merasa risi dengan perlakuan suaminya itu, tetapi dia mencoba maklum mungkin karena mereka baru berbaikan jadi Nathan bersikap seperti itu.


“Ini teman sekolahku waktu SMA, namanya Desta,” jawab Sheren memperkenalkan laki-laki di depannya itu pada sang suami. “Desta, ini suamiku, Nathan.” Sheren juga memperkenalkan suaminya pada teman lama yang baru ditemui itu.


Nathan dan Desta saling berjabat tangan. Ketiganya duduk di bangku plastik sembari menunggu antrian pembeli boba yang ternyata lumayan laris.


“Udah lama nikahnya?” tanya Desta mencoba santai. Walau dia sempat menyukai Sheren saat masih sekolah, tapi laki-laki itu sadar diri dan tidak ingin membuat keributan dengan menyukai wanita yang sudah menjadi milik orang lain.


“Baru beberapa minggu kok, kamu sendirian aja, Des?” Sheren bertanya balik. Rasanya sedikit canggung harus ngobrol dengan teman lelaki bersama suami sendiri.


“Kenapa Desta nggak kamu undang waktu kita nikah kemarin, Sayang?” tanya Nathan sembari mengusap punggung Sheren denga mesra. Laki-laki itu seakan ingin memamerkan miliknya pada laki-laki lain yang diduga pernah menyukai istrinya jika dilihat dari tatapan matanya itu.

__ADS_1


“Desta ini teman lama, Mas. Lagian aku sama Desta beda jurusan. Lama nggak kontek, terakhir ketemu juga pas di sekolah pas lulusan ya,” jawab Sheren. Dia meminta dukungan Desta lewat gerakan matanya.


“Ya, benar. Waktu reuni kamu juga nggak datang kayaknya,” balas Desta membenarkan.


“Ah iya, aku lagi sibuk waktu itu banyak kerjaan,” balas Sheren mencoba se-humble mungkin dengan teman lamanya itu.


Nathan berdehem merasa terabaikan karena tidak bisa masuk ke topik pembicaraan Sheren dan Desta.


Melihat ekspresi Nathan, Desta paham bahwa laki-laki itu pasti tidak suka jika dirinya terlalu akrab dengan Sheren. Di saat yang tepat, minuman boba pesanan Desta yang memang datang lebih dulu sudah selesai dibuat.


“Aku duluan ya, aku berdoa semoga pernikahan kalian langgeng dan diberi anak yang lucu-lucu,” pamit Desta kemudian.


Nathan dan Sheren dengan kompak mengaminkan doa yang diucapkan oleh Desta itu. Ya, sebagai pasangan baru, tentu saja mereka ingin segera memiliki keturunan yang akan menjadi pelengkap dan penyempurna pernikahan mereka, jika Tuhan mengizinkan.


Sheren yang tadinya sedang membayangkan memiliki momongan dalam rumah tangganya, tiba-tiba menoleh dan memperhatikan raut wajah suaminya. “Kenapa memangnya? Apa kamu cemburu?”


Kening Nathan berkerut, hidungnya kembang kempis lalu menjawab dengan lantang, “Cemburu? Nggaklah, siapa yang cemburu sama orang kayak gitu.”


“Bukan cemburu karena Desta, tapi cemburu karena aku kelihatan akrab sama laki-laki lain. Padahal aku cuma ngobrol aja loh, nggak ada adegan cipika-cipiki atau pun sampek ngenalin sesuatu yang sensitif,” balas Sheren yang kembali mengungkit kesalahan Nathan, padahal mereka baru saja berbaikan.

__ADS_1


“Iya iya udah, kan aku juga udah minta maaf, masih diinget-inget aja,” sahut Nathan kembali protes.


“Ya ingatlah, jangankan kejadian kemarin, kejadian sepuluh tahun lalu aja wanita itu bisa inget kok, apalagi kalau menyangkut kesalahan pasangannya. Itu sebuah keajaiban.”


“Masa sih, tapi kamu sering lupa taruh ikat rambut di mana.”


Kali ini Sheren tidak bisa berkata-kata, karena memang itu adalah salah satu kelemahannya. Melupakan hal-hal kecil dan sepele.


***


***


Beberapa bulan setelah pernikahan, Sheren belum menunjukkan tanda-tanda kehamilan. Malam ini, mereka mendapat undangan syukuran tujuh bulanan kakak tiri Sheren, Scarlett.


“Sayang, kalau kamu nggak nyaman, nggak usah datang aja gimana,” usul Nathan yang melihat istrinya resah sedari tadi. Dia sangat tahu apa yang menjadi beban pikiran istrinya kali ini. Apa lagi kalau bukan kehamilan, dia pasti merasa risi saat bertemu saudara-saudara dan ditanya kenapa belum hamil.


“Datang dong, aku mau pakai kalung berlian yang dikasih Mama. Kalau kita nggak datang, mereka tetap akan menggunjing kita, tapi kalau kita datang mereka akan tahu, kalau kita bukan orang yang mudah tertindas,” jawab Sheren dengan sangat yakin.


“Mama juga ikut ya,” sahut Nyonya Lita yang tiba-tiba sudah ada di dalam apartemen Nathan dan Sheren

__ADS_1


***


Kembang kopinya jangan lupa, terus dukung aku ya gaess komentarnya ramein dong 💋💋💋


__ADS_2