Hasrat Tuan Impoten

Hasrat Tuan Impoten
HTI | Bab 62


__ADS_3

Kehadiran Mama Lita di rumah Sheren dan Nathan membuat pasangan suami istri itu dilanda kepanikan. Pasalnya, sang ibu datang di waktu yang sangat tidak tepat. Padahal, jika Mama Lita tidak datang, Sheren dan Nathan pasti langsung berbaikan.


“Mama pagi-pagi ke sini mau apa sih?” tanya Nathan saat membukakan pintu untuk sang ibu. Dia sedang bersungut karena kedatangan Mama Lita sudah mengganggu keromantisannya bersama Sheren.


“Memangnya kenapa? Salah ya kalau mama ke sini mau tengokin cucu dan menantu mama?” tanya Mama Lita tak kalah ketus.


Ibu Nathan itu lalu menghampiri Sheren yang juga sedang gugup karena kedatangan sang mertua yang secara tiba-tiba. Dia bahkan terlihat aneh karena mengenakan jas hitam milik sang suami karena saking paniknya.


“Sheren, kenapa kamu pakai jas? Bukannya itu punya Nathan?” tanya Mama Lita yang merasa aneh dengan penampilan menantunya itu.


Sheren melemparkan pandangan pada sang suami yang tengah berdiri di belakang mamanya. Dia mencari pembelaan dari Nathan yang sudah memakaikan jas itu di tubuhnya.


“Em, sebenarnya ....” Kening Sheren terus berkerut dengan sorot mata mengintimidasi suaminya sendiri.


“Biasa, Ma. Bawaan bayi ya begitu!” sahut Nathan sembari bergerak cepat dan kini sudah memeluk Sheren. “Dia lagi seneng ganti-ganti kostum. Kapan hari sampai ke kantor sore-sore gara-gara pengen ....”


Ocehan Nathan itu terhenti karena Sheren langsung memegangi kepala Nathan, lalu menutup mulut laki-laki itu. Ibu hamil itu juga melotot pada Nathan supaya berhenti bicara yang ujung-ujungnya akan membongkar aib mereka sendiri di depan Mama Lita.


“Gara-gara pengen apa?” Mama Lita jadi penasaran dengan cerita sang putra yang harus terhenti.


Sheren jadi semakin malu karena pertanyaan mertuanya, dan akhirnya dia memilih untuk langsung memeluk Nathan. Namun, sambil bersandar di dada bidang suaminya itu, Sheren berbisik pada sang suami, “Awas saja kalau berani cerita ke Mama soal kejadian waktu itu. Aku nggak akan kasih remisi, Mas.”

__ADS_1


Wajah Nathan seketika berubah tegang karena ancaman istrinya itu. Mulut embernya itu akan membawa Nathan ke sumur yang suram dan gelap tanpa sentuhan dan kasih sayang Sheren. Membayangkan sembilan minggu si Ucup yang kedinginan, Nathan geleng-geleng kepala.


“Ada apa sih dengan kalian ini?” tanya Mama Lita yang masih diselimuti rasa penasaran. Putra dan menantunya itu malah bermain drama yang memamerkan kemesraan mereka.


“Nggak ada apa-apa kok, Ma.” Sheren melepas pelukannya dari tubuh Nathan. Dia hanya cengir-cengir mengingat keinginan anehnya yang sampai mengajak Nathan bermain-main di kantor layaknya bintang film biru.


“Mama ke sini tadi mau ngapain, pasti lupa tujuan, ‘kan?” tanya Nathan untuk mengalihkan pembicaraan.


Ternyata, hal itu memang sukses membuat Mama Lita melupakan tingkah aneh Sheren dan Nathan itu.


“Eh iya, mama sampai lupa. Ini loh, mama dapat kabar dari teman arisan mama kalau menantunya Nyonya Denna itu kecelakaan terus anaknya juga sudah lahir katanya. Menantunya itu kan kakak tiri Sheren. Iya, ‘kan?” tanya Mama Lita yang ternyata sedang ingin menggosip dengan menantunya.


“Iya, Ma. Tadi malam aku sama Mas Nathan juga ke sana, tapi suasananya lagi nggak bagus, Ma. Makanya kita pulang lagi,” jawab Sheren menimpali pertanyaan mama mertuanya itu.


*


*


*


Sementara itu, saat ini Scarlett sudah melahirkan anak pertamanya dengan cara operasi bedah. Wanita itu juga harus menerima kenyataan bahwa saat ini dirinya mengalami kelumpuhan karena kecelakaan itu.

__ADS_1


“Ini semua karena Sheren, Ma. Kalau saja aku tidak bertemu dengannya di lapangan golf itu, Kenzo pasti tidak akan marah dan meninggalkanku sendirian!” keluh Scarlett yang kini harus menderita karena ulahnya sendiri.


“Sudahlah, Sayang. Jangan membahas Sheren lagi. Kalau papamu dengar bisa bahaya. Kamu tidak ingat sekarang dia sudah menjadi menantu di keluarga yang terpandang. Kalau kamu terus-terusan mencari masalah dengannya, mama tidak akan membantu kamu lagi.”


Mama Scarlett itu benar-benar tidak mau lagi terlibat permusuhan dengan Sheren, karena jelas-jelas mereka akan kalah telak jika melawan keluarga Winata.


“Oh, benar ‘kan dugaanku. Ternyata kamu itu masih menyimpan rasa iri terhadap Sheren? Jangan-jangan kehamilan kamu ini juga rencana busuk kamu untuk merebut Kenzo dari Sheren.”


Mama Kenzo tiba-tiba masuk ke ruangan Scarlett diikuti perawat yang membawa cucunya untuk bertemu dengan Scarlett. Ada Kenzo juga yang mendampingi putranya yang masih bayi itu.


“Ini nggak seperti yang Mama pikirkan. Aku sama Kenzo memang melakukannya ....”


“Sudahlah Scarlett! Aku sama sekali tidak menyangka, kalau aku memiliki menantu selicik kamu!” kata mama Kenzo yang sudah mulai geram dengan perbuatan menantunya itu. “Kenzo kita bawa saja anak kamu pulang ke rumah kita. Kasihan sekali dia memiliki ibu yang sangat jahat!”


“Ma, jangan bawa anakku, Ma!” teriak Scarlett yang tidak bisa berbuat apa-apa.


“Nyonya tolong maafkan putriku!” Mama Scarlett berusaha mencegah besannya yang hendak membawa cucunya pergi.


“Sudahlah, Nyonya! Biar putrimu itu terbebas dari beban. Saya tahu, selama ini dia juga tidak menyukai darah dagingnya sendiri!”


***

__ADS_1


Kembang kopinya jangan lupa 💋💋💋


__ADS_2