Hasrat Tuan Impoten

Hasrat Tuan Impoten
HTI | Bab 66


__ADS_3

Kenzo dengan tegas mengambil alih hak asuh anak yang baru lahir itu dari tangan ibu kandungnya. Laki-laki itu ingin memberikan pelajaran untuk Scarlett supaya bisa menyadari kesalahannya dan bisa memperbaiki diri.


“Kalau kamu bawa Kenneth pergi, lalu aku bagaimana?” tanya Scarlett yang tidak sanggup membayangkan seperti apa hidupnya nanti setelah berpisah dengan putranya sendiri.


“Buktikan dulu kalau kamu memang mencintai Kenneth dan layak menjadi ibunya. Lagi pula, dokter bilang kamu juga nggak boleh menyuusui selama minum obat untuk kakimu itu, ‘kan?” jawab Kenzo.


Suami Scarlett itu tidak mau mengambil risiko, bisa saja Scarlett akan memanfaatkan anak mereka demi keuntungannya sendiri. Padahal, anak itu sangat membutuhkan kasih sayang Scarlett sebagai ibunya.


Melihat sikap Scarlett selama ini, tidak menutup kemungkinan jika wanita itu akan bertindak jahat pada Kenneth, apalagi saat hamil terlihat sekali jika wanita itu tidak menginginkan anaknya itu.


Mama Kenzo sedang menatap bayi Scarlett yang saat ini sudah berada dalam pengawasannya. Kenzo sudah berhasil meyakinkan orang tua Scarlett bahwa dirinya akan merawat Kenneth bersama mamanya dengan alasan Scarlett masih sakit dan ibunya pasti akan sibuk merawat dan menemani wanita itu di rumah sakit.


“Kenzo, apa rencana kamu setelah ini?” tanya wanita itu pada sang putra.


Kenzo menghela napas berat dan menatap wajah bayinya yang tengah terlelap saat ini. “Aku juga tidak tahu, Ma.”


Laki-laki itu terlihat sangat putus asa karena tingkah istrinya yang sudah dipenuhi dengan rasa iri dan dengki. Walau sebenarnya dia juga kasihan, tapi Kenzo sangat yakin semua ini demi kebaikan Scarlett sendiri.

__ADS_1


“Apa kamu akan menceraikannya?” tanya mama Kenzo.


Pertanyaan itu sontak saja membuat mata Kenzo membulat sempurna. Dia tidak mau memikirkan kebahagiaannya sendiri. Prioritas Kenzo sekarang adalah Kenneth, dan putranya itu membutuhkan orang tua yang utuh.


“Aku sedang berusaha membuka hati untuk Scarlet, Ma. aku masih berharap dia bisa berubah.”


kepala Kenzo tertunduk lesu. Walaupun dia berpisah dengan Scarlet, itu tidak akan merubah takdir bahwa dia dan saya tidak akan bersatu. Kenzo berpikir secara logis, lebih baik memperbaiki hubungan dengan Scarlet dan membesarkan putra mereka bersama, daripada hidup sendiri dan membuat putranya menderita.


“ Mama setuju denganmu, beri Scarlet waktu agar dia bisa memikirkan semuanya. mungkin saja dengan berjauhan dengan Kenneth, pintu hati Scarlet akan terketuk.”


Kenzo menatap mamanya. Dia tahu, mamanya juga menyayangi Scarlett, hanya saja wanita itu tidak menyadari kebaikan sang mertua.


Sheren dan Nathan saat ini masih menikmati perjalanan mereka di pesawat pribadi yang disewa khusus untuk mengantar mereka mengunjungi patung Liberty. Kedua insan itu rupanya baru saja mempertemukan Ucup dengan donat kesayangannya. Bahkan, saat ini, mereka masih berpelukan di dalam kamar di bawah selimut yang nyaman.


“Mas, kalau beli pesawat kayak gini kamu mampu nggak?” tanya Sheren yang kini bermain di dada sang suami.


Nathan tampak sibuk memainkan rambut Sheren yang tergerai indah. Sesekali laki-laki itu juga mengusap punggung sang istri yang tidak terhalang oleh kain apa pun.

__ADS_1


“Ya, mampu sih, Sayang. Tapi, perawatannya mahal, gaji pilot dan pramugari juga besar. Lagian, aku sama Papa nggak setiap hari pergi ke luar negeri, mending nyewa aja nggak mikir pajak juga,” jawab Nathan dengan jujur.


Mereka memang mampu membeli beberapa pesawat sekaligus, tetapi bagi keluarga Winata, ada banyak hal yang menjadi pertimbangan sebelum membeli sesuatu. Apakah itu lebih banyak manfaatnya, atau hanya demi menuruti gengsi dan harga diri saja. Menurut pemikiran keluarga mereka, jika uang bisa digunakan untuk hal yang lebih menghasilkan, kenapa harus dibuang-buang demi hal yang belum tentu mereka perlukan.


“Tapi, kamu nggak lagi ngidam minta pesawat, ‘kan?” tanya Nathan dengan curiga. Laki-laki itu sampai menarik tubuh sang istri agar bisa melihat langsung ekspresinya.


Sheren tersenyum geli. Dia bahkan belum yakin sudah merasakan yang namanya mengidam. Nathan selalu menuruti apa pun yang ada dalam pikirannya, sampai-sampai dia tidak mengenali bedanya sesi mengidam dan keinginan biasa.


“Mas, apa kalau aku minta kamu terjun dari pesawat ini, kamu anggapnya aku lagi ngidam juga?” tanya Sheren diiringi suara tawanya yang khas.


Sontak saja Nathan melotot karena pertanyaan konyol istrinya itu. “Kamu tega kalau aku lompat dari pesawat ini? Terus kamu lihat Patung Liberty sama siapa?”


Sheren makin terpingkal-pingkal. Ekspresi Nathan terlihat sangat menggemaskan.


“Kalau aku punya permintaan seperti itu, itu artinya aku akan kehilangan suami selucu kamu, Mas. Nanti bagaimana nasib anak kita?”


Nathan mencubit gemas pipi Sheren dan mulai menggelitikinya. Dia benar-benar telah menemukan kebahagiaannya bersama Sheren. Karena itulah, Nathan merasa sangat beruntung dan rela melakukan apa pun untuk kebahagiaan wanita itu.

__ADS_1


Kembang kopinya jangan lupa 💋💋


__ADS_2