
Nathan meninggalkan Sheren di meja makan sendirian. Dia sengaja menghampiri kliennya yang juga sedang makan sendiri di restoran yang sama. Nathan masih ingat betul saat malam sebelum pertemuannya dengan Sheren, dia sengaja diledek karena gosip tentang dirinya yang impoten.
“Mr. Richard sendirian saja?” sapa Nathan dalam bahasa inggris.
Tampaknya Mr. Richard sedikit kaget dengan kemunculan Nathan yang pernah hampir diajak pesta perempuan saat itu. “Tu-Tuan Nathan.”
“Apa kabar, Mr. Richard?” Nathan mengulas senyum. Dia menarik kursi di samping laki-laki bernama Mr. Richard itu dan langsung duduk tanpa sungkan.
“Baik-baik, Tuan Nathan. Anda sarapan di sini, apa menginap di sini juga?” tanya laki-laki asal Singapura itu.
Nathan melirik istrinya yang masih asik makan. Padahal, dia ingin memamerkan kehamilan istrinya sebagai bukti bahwa Nathan bukanlah pria impoten.
“Iya, saya nginep di sini nurutin istri lagi ngidam,” ucap Nathan dengan perasaan yang sangat bangga. Ya, siapa yang tidak bangga jika bisa membuktikan sesuatu yang selama ini menjadi kelemahan terbesarnya.
Mr. Richard yang sedang minum, sampai tersedak karena mendengar Nathan mengatakan tentang istri. Apalagi, istrinya sedang hamil.
“Ma-maksudnya? Hamil?” laki-laki itu tergagap.
Yang dia tahu, Nathan adalah seorang laki-laki impoten. Bahkan, terakhir saat dia mengajaknya berpesta bersama perempuan beberapa bulan lalu, Nathan melarikan diri. Bukankah itu berarti, Nathan memang impoten seperti yang diceritakan kenalannya.
“Iya, istri saya lagi hamil ngidam pengen nginep di hotel.” Nathan begitu santai memamerkan hasil kerja kerasnya berkeringat bersama Sheren.
__ADS_1
Namun, Mr. Richard yang tidak datang ke pernikahan Nathan dan Sheren, sepertinya tidak bisa mempercayai begitu saja apa yang diucapkan oleh Nathan itu.
“Apa benar itu istri Anda? Jangan-jangan ... hanya ....”
Nathan mengerti dari gerak gerik Mr. Richard yang terdengar meremehkan. Dia lalu mengajak laki-laki itu untuk menemui sang istri dan berkenalan secara langsung.
Sheren yang sejak tadi sibuk mengunyah pun terpaksa menghentikan sebentar acara mengunyahnya. Wanita itu merapikan penampilan dan lalu menyapa Mr. Richard yang sedang memandanginya.
“Sayang, kenalkan ini Mr. Richard klien kita juga,” kata Nathan sembari merangkul pinggang Sheren yang kini sudah berdiri.
Sheren mengulurkan tangan dan memperkenalkan diri pada laki-laki bernama Mr. Richard itu. Dia sebenarnya tidak tahu apa yang terjadi antara suaminya dengan laki-laki itu. Yang dia pedulikan hanya makanan yang akan sia-sia jika ditinggal begitu saja.
“Jadi, kalian benar-benar sudah menikah ya?” tanya Mr. Richard sembari melirik ke arah perut Sheren yang buncit.
Sheren mencubit pinggang sang suami supaya berhenti mengoceh yang tidak perlu. Apalagi, jelas-jelas Mr. Richard adalah klien mereka.
“Wah, selamat, Tuan Nathan. Saya akan mengirimkan hadiah saat anak Anda lahir nanti.”
Mr. Richard tak ingin terlihat memalukan di depan Sheren dan Nathan, apalagi dia pernah hampir menjebak Nathan.
Nathan begitu membanggakan kehamilan Sheren. Dia menunjukkan pada Mr. Richard bahwa dia berhasil membuat istrinya itu hamil.
__ADS_1
*
*
*
Setelah sarapan, Sheren dan Nathan menikmati fasilitas hotel mewah itu. Mereka berjalan di taman kecil tak jauh dari kolam renang.
“Kamu sombong banget sih, Mas. Pamer banget!” kata Sheren saat mengingat pembicaraan suaminya dan Mr. Richard tadi.
Nathan malah tersenyum puas. Setidaknya misinya ini berhasil. Dia tentu bahagia bisa membungkam mulut-mulut yang pernah menyakitinya.
“Biar aja, mumpung aku bisa balas dia!”
Pasangan suami istri itu lalu melanjutkan acara jalan santai mereka. Sampai akhirnya, mereka dikejutkan dengan panggilan telepon dari Scarlett.
“Ya, halo!”
“Sheren, ini aku. Bisa kita bertemu? Aku ingin bicara banyak hal sama kamu,” kata Scarlett yang terdengar sedih di seberang sana.
***
__ADS_1
Kembang kopinya jangan lupa 💋💋 lagi capek banget gaess gak konsen nulis 🙏