
Scarlett sangat benci mendengar nama Sheren dipuji-puji oleh mertuanya. Rasa irinya pada sang adik tiri kian bertambah, apalagi saat dia dibanding-bandingkan dengan Sheren yang notabene memang pacar Kenzo yang dia rebut.
“Mama tahu kan, aku sama Scarlett itu cuma kecelakaan. Aku juga nggak nyangka aja dia bisa hamil dengan sekali melakukan,” kata Kenzo.
Dalam hati yang terdalam memang Kenzo sangat menyesal karena telah tergoda dengan tipuan Scarlet. Dia hanya sekali terperangkap, tapi selamanya dia akan menjadi bagian dari wanita itu.
“Kamu ngeraguin anak ini? Tega kamu ya!” Scarlett bangun dari bangkunya, dia sangat kecewa karena sang suami seolah tidak menganggap janin di rahimnya adalah anak laki-laki itu sendiri. Padahal, Scarlett sudah memberikan kesuciannya pada Kenzo demi menikmati hidup yang lebih terjamin.
Namun, keserakahan Scarlett tampaknya berdampak sangat buruk. Mertua dan suaminya tetap menganggap Sheren yang terbaik. Itu sangat melukai harga dirinya.
“Kenzo, kamu yang berbuat ya tanggung sendiri resikonya. Nggak bisa nyalahin Scarlett saja. Walaupun mama nggak suka sama istrimu itu, tapi mama lebih nggak suka lagi kalau kamu seolah ingin lepas dari tanggung jawab!”
Mama Kenzo bukannya tidak memiliki pendirian dalam urusan Scarlett, tetapi baginya Kenzo tetaplah harus bertanggung jawab atas apa yang telah dia perbuat. Mau dijebak, dipaksa, atau suka sama suka itu tetaplah kesalahan Kenzo juga.
“Iya, Ma! Maaf! Aku akan coba bicara sama Scarlett!” Kenzo membungkukkan badan dan berpamitan menuju kamarnya karena Scarlett pasti pergi ke kamar juga.
Kenzo mengatur napas dan pikirannya untuk tidak tersulut emosi karena walau bagaimanapun juga Scarlett sedang hamil saat ini. Saat sampai di depan kamar, laki-laki itu mendengar jelas bahwa istrinya sedang berbicara dengan seseorang yang sepertinya lewat telepon genggamnya. Karena ingin tahu lebih lanjut apa yang sedang dibicarakan oleh Scarlett, Kenzo pun akhirnya menguping.
__ADS_1
Sementara itu, di kamarnya, Scarlett sedang menelepon mamanya. Sang ibu ingin mengabarkan bahwa Sheren sedang hamil. Dan hal itu tentu saja membuat suasana hati Scarlett semakin dongkol.
“Jadi, Sheren lagi hamil dan mertuanya makin sayang sama dia?” tanya Scarlett yang bisa didengar jelas oleh Kenzo.
“Iya, Sayang. Ya, sepertinya dewi keberuntungan sedang menghampirinya saat ini. Tapi, kamu juga sedang hamil anak Kenzo. Dia akan menjadi pewaris tunggal maka otomatis anak kamu juga akan menjadi penerus, Sayang!”
“Tetap saja suami Sheren lebih kaya, Ma!” protes Scarlett yang tidak pernah bersyukur dengan apa yang dimilikinya. “Mertuanya juga sangat baik, aku nggak rela kalau Sheren hidup lebih bahagia dari aku, Ma. Aku nggak rela!”
“Terus kamu mau apa, Sayang. Jangan macam-macam sama keluarga mertuanya Sheren!”
“Jadi kita harus diam saja, Ma?”
“Scarlett, berhenti mengganggu kehidupan Sheren! Apa salah dia sama kamu?” tanya Kenzo geram.
Scarlett enggan menjawab. Baginya hanya ada rasa iri, bukan berarti Sheren memiliki kesalahan. Hanya saja, rasa tidak puas di hatinya itulah yang membuat hatinya semakin kotor. “Itu urusan aku sama Sheren. Walaupun kamu mantan pacarnya, aku nggak peduli!”
“Dengar ya! Aku tidak akan pernah maafin kamu kalau sampai kamu mencelakai Sheren! Jangan bikin aku tambah menyesal nikah sama wanita licik kayak kamu!” Kenzo berusaha keras untuk menahan amarahnya karena Scarlett masih istrinya yang saat ini sedang mengandung anaknya.
__ADS_1
***
Sementara itu, Sheren akhirnya diizinkan pulang setelah dirawat beberapa hari. Nathan masih mengalami mual dan muntah karena kata dokter laki-laki itu mengidap Couvade Syndrome alias kehamilan simpatik.
“Apa Papa dulu juga seperti ini saat Mama hamil?” tanya Nathan dengan tubuh yang terasa lemas karena sudah bolak-balik ke kamar mandi sejak tadi.
“Em, nggak juga. Mama kamu dulu nggak begitu mual tapi banyak maunya. Papa malah nggak merasakan apa-apa,” jawab Tuan Winata dengan santai.
“Apes ya aku!”
“Apes apanya? Enaknya berdua, sakitnya juga berdua dong!” balas sang ibu yang tiba-tiba datang membawakan minuman hangat untuk Nathan.
“Iya juga sih, Ma.”
“Mas, belikan aku donat kentang tapi bukan yang di toko, yang dijual di mamang-mamang lewat gitu, bisa nggak? Tiba-tiba pengen banget kan donat!” Sheren menggigit bibir bawahnya menahan keinginannya yang tiba-tiba terlintas begitu saja dalam benak ibu hamil itu.
Nathan hanya bisa menatap sang istri dengan bingung. Kalau tidak dituruti takut anaknya ileran, tapi bagaimana caranya? Tubuh Nathan begitu lemas sekarang. Apa yang harus dia lakukan?
__ADS_1
***
Kembang kopinya jangan lupa 💋💋💋