Hasrat Tuan Impoten

Hasrat Tuan Impoten
HTI | Bab 37


__ADS_3

Sheren sudah menjelaskan pada mertuanya bahwa dia hanya masuk angin saja, tetapi wanita itu tidak mau percaya sebelum Sheren membuktikan dengan alat yang Nyonya Lita bawa. Dengan terpaksa, Sheren menurut dan mencoba alat tes kehamilan berwarna biru itu. Namun, sebelum satu pintu kamar mandi, Wanita itu sudah melayangkan tatapan membunuh untuk suaminya sendiri.


Awas aja kalau sampai aku nggak beneran hamil. Siap-siap aja si Ucup nambah hukuman.


Sheren masuk ke kamar mandi dengan rasa bersalah pada mertuanya. Ini semua terjadi karena suaminya yang terlalu terburu-buru mengambil kesimpulan. Padahal, Sheren sangat yakin bahwa dirinya tidak hamil.


Setelah melakukan prosedur pengambilan sampel urine untuk tes kehamilan menggunakan alat sederhana itu, Sheren keluar dari kamar mandi setelah mendapat dan melihat hasilnya. Dia langsung memberikan alat itu kepada sang suami karena ingin Nathan sendiri yang melihat hasil tespek untuk pertama kali.


“Biar Pak Nathan saja yang melihat hasilnya,” kata Sheren dengan lirikan yang tajam.


“Ah nggak mau, Sayang. Itu kan jorok, bekas pipis kamu!” tolak Nathan yang di luar harapan Sheren.


Tadinya, wanita itu pikir suaminya akan dengan senang hati menerima alat tes itu karena antusiasnya yang luar biasa. Sayangnya, Nathan ternyata malah melakukan hal yang berbeda.


Nyonya Lita menarik telinga putranya itu. “Kamu pas bikin adonan saja suka, kenapa sekarang kena pipis dikit saja kamu merasa jijik?”


“Ampun Ma ampun, ya itu kan bekas pipis Ma jorok lah!” Nathan berusaha melepaskan telinganya dari cengkraman jari jemari ibunya.


Nyonya Lita merebut Ala tes itu dan membaca hasilnya secara langsung. Sementara jantung Sheren berdebar keras karena takut melihat raut kecewa dari ibu mertuanya itu.

__ADS_1


“Maaf, Ma. Aku belum hamil,” ungkap Sheren dengan rasa bersalah. Dia jadi semakin kesal pada sang suami yang sudah sembarangan memberi informasi palsu pada mertuanya itu.


“Apa? Masa kamu beneran nggak hamil? Kita kan rajin begituan, Sheren,” sahut Nathan secara spontan. Laki-laki itu teramat berharap jika Sheren akan segera hamil karena memang itulah saat-saat yang dinanti untuk membuktikan bahwa dia tidak lemah syahhwat lagi.


Sheren kian melebarkan kelopak matanya karena merasa malu dengan ucapan suaminya yang terlalu apa adanya. Di hadapan sang ibu pun laki-laki itu seolah tidak tahu malu. Menyebalkan sekali.


“Nathan! Apa-apaan sih kamu? Kok kesannya kayak kamu maksa Sheren gitu sih? Ya wajar kalau Sheren belum hamil, kalian menikah juga baru beberapa hari. Masih ada banyak waktu!” balas Nyonya Lita yang dengan sadar membela menantunya.


“Udah Sheren nggak apa-apa, masih banyak waktu. Mama rasa sepertinya kalian harus pergi bulan madu supaya hubungan kalian lebih baik, dan semoga saja kamu bisa hamil setelah pulang dari bulan madu nanti,” lanjut Nyonya Lita.


Nathan dan Sheren saling berpandangan. Rasanya akan sangat sulit jika berbulan madu di tengah kesibukan dan pekerjaan mereka.


Dalam hati Nathan sangat berharap bahwa dia tidak salah membaca kode dari sang istri karena sebentar lagi mungkin dia akan


“Iya, Ma. Kami ada banyak pekerjaan yang harus diselesaikan, apalagi ini mendekati akhir tahun, Ma.” Sheren menguatkan alasan sang suami. Dia sama sekali belum terpikir untuk menikmati liburan bulan madu, apalagi saat ini si Ucup juga masih dalam masa skorsing.


“Hah, ya sudah terserah kalian sajalah.”


***

__ADS_1


Di kantor, Sheren hanya bicara seperlunya pada sang suami karena sudah membuat kekacauan pagi-pagi. Apalagi, sampai membuat mertuanya itu kecewa. Sering kali dia mengabaikan saat Nathan mencoba mengajaknya bermesraan di ruang wakil direktur itu.


Akhirnya, saat mereka sampai di rumah, Nathan langsung memburu Sheren dan mendekapnya dalam pelukan.


“Pak Nathan, lepaskan!” kata Sheren sambil berusaha melepaskan diri dari pelukan erat suaminya.


“Jangan panggil Pak Sheren. Ini bukan kantor.”


“Ya udah, kamu mau apa? Pagi-pagi sudah bikin mama panik sampek kecewa gitu. Kamu nggak kasihan emangnya?”


“Aku kan nggak tahu. Aku pikir kamu beneran hamil. Udah dong maafin aku!”


“Nggak bisa. Yang hukuman si Ucup sama perempuan itu belum kamu jelaskan ada berapa. Sekarang karena udah bikin mama repot-repot ke sini dan malah kecewa, hukumannya aku tambah lagi seminggu.”


Sontak saja Nathan semakin tidak terima karena hukuman dari sang istri yang sangat merugikan itu. “Jangan dong, Sayang. Semalam aja aku udah nggak tahan. Gimana kalau selama itu?”


***


Kembang kopi sama vote nya dong gaess 💋💋💋

__ADS_1


__ADS_2