Hasrat Tuan Impoten

Hasrat Tuan Impoten
HTI | Bab 67


__ADS_3

Patung Liberty tepat berada di depan Sheren saat ini. Wanita itu menatap patung berukuran raksasa sambil mendongak.


“Kita ngelihatnya terlalu deket sih, Mas. Nggak kelihatan hidungnya dari sini!” seru Sheren saat lelah harus terus mendongak untuk menatap patung itu.


“Apa kita perlu menyewa helikopter?” tanya Nathan tanpa berpikir lama. Laki-laki itu akan melakukan segala cara untuk mewujudkan keinginan sang istri.


Bagi Nathan, dia bisa menyewa pesawat pribadi untuk samapai ke Amerika, bukan hal yang mustahil untuk menyewa sebuah helikopter demi melihat langsung hidung patung Liberty itu dari jarak dekat.


Sheren menatap sang suami sambil melotot. “Jangan aneh-aneh, Mas. Ini negara orang. Kalau kebanyakan tingkah memangnya mau diusir?”


Wanita cantik itu lalu sibuk mengamati sekeliling, mencari tempat terbaik untuk berswafoto. Namanya perempuan, jauh-jauh ke Amerika tujuannya tetap foto.


“Kalau diusir ya pulanglah, Sayang. Ya udah terus kamu maunya gimana?”


“Kamu fotoin aku, Mas!”


“Jauh-jauh ke Amerika cuma buat jadi tukang foto?”


*


*

__ADS_1


*


Sementara itu, di ruang perawatannya, Scarlett sedang merenungkan nasib pernikahannya. Dia sendirian di ruang mewah itu tanpa suami dan anaknya yang baru lahir.


Mamanya sedang pulang saat ini dan Scarlett dititipkan pada suster yang merawatnya.


“Kenneth lagi apa ya? Apa dia senang dan masih tidak bisa diam seperti waktu di perut?” gumam Scarlett sembari menatap langit-langit kamar rumah sakit itu. Dia tidak sempat memotret wajah bayi itu, sehingga yang Scarlett lakukan saat ini hanyalah mencoba mengingat-ingat wajah sang putra.


Wanita itu terus membayangkan wajah Kenneth sampai-sampai tidak menyadari ada yang mengalir hangat di pipinya.


“Aku tidak akan mengizinkanmu merawat Kenneth sampai kamu menyadari kesalahanmu dan membersihkan hatimu dari rasa iri dan dengki!”


Kata-kata yang peenah Kenzo katakan itu membuat Scarlett semakin dilanda kegalauan. Dia ingin bertemu dengan putranya, tapi kebenciannya pada Sheren membuatnya sulit membersihkan hati.


“Nangisin apa, Kak? Tumben itu air mata bisa keluar,” ejek Nando pada kakaknya itu.


Scarlett menghapus air matanya. Ia lalu melayangkan tatapan tajam pada sang adik yang datang membawa makanan.


“Apaan sih. Ngapain kamu ke sini?” tanya Scarlett dengan curiga.


Nando menarik kursi dan duduk di sebelah ranjang kakaknya. “Aku dari rumah Kak Kenzo tengokin Kenneth,” jawab Nando sambil mengeluarkan ponselnya.

__ADS_1


Mendengar nama Kenneth, mata Scarlett seketika membulat sempurna. Dia kembali merasakan kerinduan pada putranya itu.


“Ken-Kenneth? Kamu ketemu Kenneth?” tanya Scarlett dengan suara yang terdengar lirih. Matanya kembali mengembun karena terbayang wajah bayi yang belum bisa apa-apa itu.


“Iya, aku ketemu Kenneth bahkan sempat gendong juga. Dia lucu ya cuma bisa tidur, nggak nangis sama sekali. Aku takutnya dia nurun sifat jahat kamu deh, Kak. Kenapa dia nggak nangis ya?”


Scarlett memukul lengan adiknya dengan pelan. “Aku bukan orang jahat! Kamu ke sini mau pamer? Nggak ada video Kenneth yang kamu punya?” tanya Scarlett sembari menghapus air mata. Kini, dia sangat berharap banyak pada adiknya itu.


“Kenapa memangnya? Kamu kangen sama anakmu ya, Kak? Makanya cepat pulih, biar bisa gendong Kenneth!”


“Cerewet banget ah, mana videonya?”


Dengan wajah cemberut, Nando mengulurkan ponselnya pada sang kakak. “Nih! Kata Kak Kenzo, kalau mau telfon Kak Kenzo sekarang pulang lebih sore!”


Scarlett mengabaikan ucapan adiknya itu. Dia lebih fokus pada video putranya yang dari tadi dirindukan. Wanita itu kembali menangis haru saat melihat wajah tampan sang putra yang kini harus terpisah jarak dengannya.


Kenapa sekarang aku merindukan bayi itu? Aku ingin memeluknya dan menyingkirkan semua penghalang. Aku tidak peduli lagi Kenzo bisa mencintaiku atau tidak, aku hanya ingin putraku!


***


Ada yang ingat nggak, aku pernah sebut umur Nando nggak sih.. Aku jadi lupa 😭😭😭

__ADS_1


Kembang kopinya jangan lupa 💋


__ADS_2