
Nando mengulurkan sebuah tisu kepada sang ayah untuk menyeka air mata yang meluncur di pipi lelaki tua itu. Ya, orang yang sedang menangis haru itu adalah papa Sheren, Papa Jimmy.
Sebagai orang tua, tentu saja Papa Jimmy merasa terharu melihat kedua putrinya yang tidak pernah akur, akhirnya bisa saling memaafkan dan rukun. Rupanya, pernikahan telah membawa kebahagiaan dan pendewasaan bagi Sheren dan Scarlett.
Namun, bukan hanya Papa Jimmy yang merasa terharu melihat kerukunan Scarlett dan Sheren, Mama Melisa juga tidak kuasa menahan air mata kala melihat Scarlett dan Sheren saling berpelukan. Wanita itu sangat merasa bersalah karena semua terjadi juga akibat dari perbuatannya.
Wanita paruh baya itu ikut menghambur dalam pelukan Scarlett dan Sheren hingga membuat suasana semakin haru. “Maafkan Mama Sheren.”
Ketiga wanita itu sama-sama menangis saling berpelukan. Memang, memaafkan bukanlah hal yang mudah, tetapi dengan saling memaafkan hidup mereka akan semakin bahagia.
*
*
*
Beberapa bulan kemudian.
Nathan tidak pergi ke kantor dengan alasan sakit pinggang. Sejak malam, laki-laki itu sudah merasakan sakit tetapi menolak saat diajak ke rumah sakit.
__ADS_1
Sheren yang saat ini sedang menanti hari persalinan, merasa lelah untuk mengomel karena Nathan tetap tidak mau ke rumah sakit. Dia sendiri sedang merasakan kontraksi yang membuatnya terus berkonsultasi dengan dokter kandungannya, sehingga Sheren lebih fokus dengan rasa sakitnya sendiri.
“Sheren, kamu mama antar ke rumah sakit deh,” kata Mama Lita usai mengambil tas di kamar.
Wanita itu khawatir jika menantunya akan melahirkan di rumah walaupun Sheren belum yakin apa itu benar-benar kontraksi, atau hanya kontraksi palsu.
Karena merasa ragu, Sheren akhirnya setuju ke rumah sakit, dan secara otomatis Nathan juga mau ke rumah sakit. Rombongan keluarga itu akhirnya ke rumah sakit untuk memeriksakan dua pasien sekaligus.
Ternyata, Sheren diminta untuk bersiap melahirkan hari ini juga. Tentu saja hal itu mebuat Mama Lita dan Papa Winata merasa panik karena mereka tidak membawa persiapan apa pun.
“Nanti perlengkapan bayi sudah disediakan rumah sakit, Nyonya. Ibu Sheren bisa langsung lahiran!” kata perawat yang menemani Sheren.
“Tapi tadi dicek dokter sudah pembukaan enam, Ibu.” Perawat itu mencoba memberi penjelasan pada Sheren dan mertuanya, sementara Nathan masih menjalani pemeriksaan.
“Gimana ini, Ma? Masa aku lahiran sekarang?”
“Ya lahiran aja Sheren. Kenapa kamu jadi ketularan Nathan begini sih? Masa kamu mau tahan anak kamu yang pengen lahir?” sahut Papa Winata yang turut merasa geram.
“Mungkin sakit pinggangnya Nathan itu karena kamu mau lahiran. Dia yang ngerasain, Sayang!”
__ADS_1
“Apa iya begitu? Kasihan sekali Mas Nathan!” gumam Sheren yang masih sempat memikirkan keadaan suaminya.
Setelah beberapa lama, akhirnya Sheren dibawa ke ruang persalinan, ditemani oleh Nathan yang memaksa untuk mendampingi istrinya.
“Mas kamu nggak apa-apa?” tanya Sheren saat melihat Nathan masuk ke ruang bersalin.
“Nggak apa-apa, Sayang. Kamu berjuang buat melahirkan anak kita. Jadi, aku juga harus ada untuk menemani kamu!” jawab Nathan kemudian mengecup kening sang istri.
Pasangan suami istri yang tengah menanti kelahiran anak pertama itu saling berpegangan tangan untuk melewati detik demi detik kelahiran anak mereka. Sheren juga mulai merasakan sakit yang luar biasa. Lalu, dokter mulai memberi aba-aba agar Sheren mengatur napas dan mendorong dengan kuat.
Setelah perjuangan panjang itu, suara tangisan bayi mulai terdengar dan Sheren menangis bahagia karena suara tangis bayinya.
“Sayang, kamu berhasil!” bisik Nathan yang terdengar bergetar di telinga Sheren.
“Selamat Bapak Nathan, Ibu Sheren, bayinya perempuan!”
***
Kembang kopinya jangan lupa. Komen yang paling menarik buat bab ini dan keseluruhan ceritanya. Insya Allah nesok aku umumkan komentar paling rajin 💋💋💋
__ADS_1