
Sheren tidak mengerti apa yang suaminya maksud dengan reka ulang cerita. Dalam pikiran wanita itu, reka ulang cerita artinya mengulang cerita dari awal mereka bertemu. Mulai dari minum minuman yang telah dicampur oleh sesuatu itu sampai adegan memberi uang lima puluh dolar.
“Nggak lah, aku kan lagi hamil. Masa iya minum begituan. Kamu tega kalau anak kita kenapa-napa, Mas?” oceh Sheren yang tidak mau menuruti usulan suaminya. Padahal, maksud Nathan adalah supaya mereka bisa mempertemukan Ucup dengan Donat, tetapi pikiran suami istri itu memang tidak pernah sejalan hingga sering berakhir salah paham.
Nathan menarik tubuh Sheren sehingga kini mereka saling berhadapan. Pandangan mata keduanya pun saling bertemu dan terkunci satu sama lain. Lalu, tangan Nathan mulai bergerak perlahan-lahan di pundak Sheren hingga menimbulkan getaran-getaran mahadahsyat yang membuat tubuhnya meremang.
“Maksud aku, reka ulang semua itu dengan sadar, Sayang. Waktu itu kamu kan lagi nggak sadar karena pengaruh minuman itu. Nah, sekarang kita reka ulang secara sadar,” timpal Nathan coba menjelaskan.
Sheren mengerti apa yang suaminya itu inginkan. Tanpa berlama-lama, dia pun mulai mengalungkan tangannya ke leher belakang sang suami. Wanita itu masih menatap suaminya dengan manja.
Nathan kian terbawa suasana, dan dengan mesra mengecup bibir sang istri. Dengan kelembutannya itu, laki-laki itu membawa Sheren memulai penyatuan cinta mereka lewat bibir keduanya.
“Kamu siap diapa-apain?” tanya Nathan sambil membelai pipi istrinya dengan mesra.
“Yang penting enak, aku mau aja!” jawab Sheren tanpa malu-malu.
Ekspresi Sheren yang menggemaskan, membuat Nathan kian tidak sabar. Laki-laki itu mendaratkan ciuman menuntut dan menyesap kuat bibir sang istri. Tangannya memegangi punggung Sheren dan menuntunnya menuju ke kasur besar di kamar hotel itu.
Dengan hati-hati, Nathan membaringkan tubuh Sheren karena mengingat bahwa istrinya itu sedang hamil. Jadi, dia harus bersikap hati-hati dan tidak boleh menyakiti Sheren atau pun anak mereka yang berada di dalam kandungan Sheren.
Perlakuan Nathan kepada Sheren begitu lembut, sampai-sampai wanita itu terbuai dan pasrah dengan perlakuan yang diberikan suaminya itu.
Tangan Nathan terus bergerak melepaskan satu per satu pakaian Sheren sambil lidahnya bergerak terus untuk membangkitkan gejolak dalam diri wanita hamil itu. Nathan seperti profesional yang sangat ahli, padahal dia baru mempraktikkan ilmunya itu setelah bertemu dengan Sheren.
“Mas!”
Sheren memekik karena kenikmatan yang dia rasakan saat ujung lidah Nathan bermain di puncak gunung kebanggaannya, dan jemari besar milik laki-laki itu menusuk ke dalam donatnya yang empuk.
“Em?” Nathan hanya mendongak untuk memperhatikan ekspresi Sheren, tetapi dia tidak rela melepaskan mulut dan tangannya yang sudah terlanjur menemukan posisi ternikmat.
“Kok kamu curang sih, Mas! Kenapa cuma baju aku yang dilepas?”
Sheren baru menyadari bahwa saat ini dia sudah tidak memakai apa pun, sedangkan suaminya masih memakai pakaian utuh. Tentu saja dia tidak terima dan merasa suaminya tidak adil.
“Ya udah, kalau mau Ucup, buka aja, nih!” balas Nathan sembari menyodorkan celananya tepat di hadapan Sheren.
Dia akhirnya rela melepaskan tangan dan mulutnya supaya kenikmatan itu juga bisa dirasakan oleh Ucup.
Sheren membuka gesper yang dikenakan suaminya, lalu dengan perlahan melepaskan kancing celana suaminya itu. Satu per satu kain yang menyembunyikan Ucup itu dibuka, sampai akhirnya terlihat nyata apa yang ada dalam benak Sheren sejak tadi.
Ucup dengan kekuatan supernya menunjukkan betapa kuat dan hebat dengan urat-urat yang menonjol jelas. Kepalanya mengangguk-angguk seolah menarik perhatian Sheren agar lekas membelainya.
“Cium dulu dong!” pinta Nathan yang diiringi gerakan Ucup naik turun.
Sheren pun menurut dan mendaratkan bibirnya tepat di kepala Ucup yang mirip kepala cacing tanah. Hanya saja ini ukurannya jauh lebih besar.
__ADS_1
Nathan tersenyum puas karena istrinya yang sangat penurut. Laki-laki itu lalu meminta Sheren untuk memanjakan Ucup. Pijatan-pijatan lembut dari tangan ajaib Sheren memang mampu membuat Ucup kian kokoh dan tak tertandingi seperti slogan semen yang biasa muncul di iklan televesi. Begitulah Ucup, kuat, kokoh, dan tak tertandingi. Sayangnya, itu hanya berlaku saat bersama Sheren.
“Mas, langsung aja deh! Kelamaan nanti keburu dingin!” rengek Sheren yang sudah tidak sabar ingin merasakan kekuatan super si Ucup.
“Apanya yang dingin, Sayang?” tanya Nathan sembari mengelus donat istrinya yang mulai dibanjiri lelehan keju bening. “Ini masih anget, basah lagi!” goda Nathan yang malah semakin menggoda istrinya.
“Kalau kelamaan dianggurin kan jadi dingin nanti. Udah dwh jangan banyak ngomong, Mas!” Sheren mulai menaikkan nada bicaranya. Wanita itu bisa murka dan mengambil kendali jika suaminya terus-terusan memainkan perasaannya.
Jangan macam-macam dengan ibu hamil! Itu yang biasa diperingatkan orang-orang untuk manusia seperti Nathan.
“Iya, Sayang. Si Ucup juga udah lapar pengen makan donat kok. Sebentar ya!” Nathan segera memosisikan diri untuk berada tepat di atas sang istri. Ucup pun juga sudah tidak sabaran ingin merasakan donat lezat yang kini sedang kembang kempis menanti kedatangannya.
Sheren mulai memejamkan mata saat merasakan kepala Ucup menyapa donatnya yang basah. Dia ingin merasakan kekuatan Ucup yang berusaha menembus celahnya yang sangat sempit.
Saat Ucup berhasil memasukinya, Sheren berteriak secara refleks. Hal itu membuat Nathan gemas dan kembali menciumnya. Laki-laki itu masih membiarkan Ucup beradaptasi dengan rumahnya yang sangat nyaman itu.
“Tahan bentar, Sayang. Nanti aku gerakin. Gimana enak nggak?” tanya Nathan yang sama sekali tidak penting dalam sesi kenikmatan seperti ini.
Jelas saja Sheren menikmati. Lihat saja matanya yang terpejam dan mulutnya terbuka lebar. Tanpa dijawab pun seharusnya Nathan sudah tahu.
Calon ayah itu mulai menyapa benihnya yang kini sudah berkembang di dalam rahim Sheren. Dia bergerak dengan hati-hati demi membahagiakan Sheren dan Ucup, juga membuat calon anaknya itu merasa nyaman meski terjadi guncangan besar.
Sheren terus mengoceh karena rasa yang begitu sulit dia ungkapkan. Sementara Nathan harus bekerja keras untuk mencapai tujuan yang indah.
“Sayang, gantian ya, kamu di atas!” pinta Nathan yang ingin mencoba gaya lain.
Kalau gerakan suaminya saja sudah membuatnya puas, kenapa harus membuang tenaga?
“Kamu curang, Sayang!”
Pada akhirnya, kedua insan yang tengah berkeringat itu menghabiskan energi mereka dengan gerakan Nathan yang terus mendominasi karena Sheren sama sekali tidak mau kelelahan. Lalu, Ucup pun terpaksa harus berpisah dengan donatnya karena Nathan dengan cepat menariknya keluar sebelum memuntahkan lahar panasnya yang kental.
Sheren tersenyum bangga karena suaminya masih ingat jelas apa yang dikatakan oleh dokter agar mereka berhati-hati. Calon ibu itu juga membaca artikel yang menyarankan untuk mengeluarkan hasilnya di luar supaya tidak memicu kontraksi yang membahayakan kehamilan.
“Banyak banget keluarnya!” komentar Nathan setelah berhasil menumpahkan semua isi dari Ucup itu ke atas perut sang istri.
“Buruan dibersihkan, Mas. Tisunya masih di koper!”
Nathan yang tidak memakai apa pun itu akhirnya berjalan menuju koper mereka yang masih berada di dekat pintu.
“Untung kopernya udah di dalam. Ini kalau masih di luar apa nggak berabe?” gumam Nathan sambil mencari tisu untuk membersihkan perut istrinya.
Setelah berhasil menemukan tisu yang dimaksud, Nathan pun kembali menghampiri sang istri yang membuang pandangan dari perutnya sendiri. Mata Sheren tertuju pada Ucup yang bergerak bebas terombang-ambing saat Nathan berjalan.
Sheren terkekeh geli melihat tingkah Ucup yang bergerak bebas itu.
__ADS_1
“Ngetawain apa sih?” tanya Nathan sambil membersihkan kulit sang istri yang terkena benih-benih terbuang itu.
“Si Ucup loh, Mas. Lucu banget sih gandul-gandul!” jawab Sheren yang sama sekali tidak canggung pada suaminya.
Nathan malah semringah karena ocehan istrinya yang ceplas-ceplos itu. Dia malah mencubit pipi sang ibu hamil yang kian bulat karena kenaikan berat badannya.
Sementara itu, saat Nathan dan Sheren sedang menikmati masa-masa bahagia mereka, pasangan lain justru baru memulai kisah mereka yang sesungguhnya. Mereka adalah pasangan yang pernah membuat Sheren menangis karena pengkhianatan mereka yaitu Scarlett dan Kenzo.
Orang tua Kenneth itu saat ini sedang memulai lembaran baru dengan mencoba untuk saling menerima kekurangan dan kelebihan satu sama lain.
“Aku sudah atur jadwal untuk terapi kamu. Kamu pasti bisa jalan lagi kalau kamu semangat!” ucap Kenzo pada sang istri.
Saat ini, kedua insan itu sedang berada di kamar mereka bersama Kenneth yang tertidur pulas.
“Aku ingin ketemu Sheren kalau bisa. Aku ingin minta maaf langsung sebelum mulai terapi,” kata Scarlett sembari menatap Kenzo yang kini berjalan mendekatinya.
Laki-laki itu baru keluar dari kamar mandi dan kini sudah naik ke kasur. Akan tetapi, bukannya naik ke tempatnya tidur, Kenzo malah duduk di tepi ranjang tepat di samping Scarlett.
“Kamu nggak akan membuat masalah, 'kan? Aku yakin kamu pasti bisa berubah menjadi lebih baik. Aku juga sedang belajar untuk jadi suami yang terbaik, Scarlett!” Kenzo meraih tangan istrinya itu dan menggenggamnya cukup lama.
“Aku cuma mau minta maaf kok. Aku sadar selama ini udah bikin Sheren susah. Aku ... nggak tahu apakah layak dimaafkan atau nggak, tapi aku ingin coba dulu!” ungkap Scarlett.
Kenzo terus menatap mata Scarlett sampai akhirnya dia pun terbawa suasana dan mencium bibir istrinya itu sekilas. “Sheren itu baik kok, dia pasti mau maafin kamu!” balas Kenzo coba menyemangati Scarlett.
Scarlett mengangguk. Dia sendiri juga mengenal Sheren yang baik hati dan mungkin akan memaafkannya. Apalagi, jika Scarlett benar-benar melakukannya dengan tulus.
Kenzo yang sebenarnya ingin memadu kasih dengan istrinya, hanya bisa mengulas senyum tipis. Dia sadar, Scarlett masih dalam masa nifas, apalagi keadaan wanita itu juga sedang tidak memungkinkan untuk melayani kebutuhan biologisnya.
“Kamu kenapa, Mas?” tanya Scarlett yang mulai membiasakan diri dengan panggilan mesra untuk suaminya itu. Dia menirukan Sheren yang memang memanggil Nathan dengan panggilan “Mas”.
“Ah ... a-aku kenapa? Aku nggak apa-apa kok. Emangnya kenapa, Sa-sayang!” Kenzo merasa gugup karena sepertinya memang Scarlett sudah mengerti isi pikirannya saat ini.
Scarlett mengusap peluh yang keluar dari kening suaminya. Laki-laki itu sepertinya benar-benar gugup, meski Scarlett tidak mengerti apa penyebabnya. “Kamu ada yang mau dibicarakan, Mas? Bilang aja!”
Kenzo menghela napas berat lalu menyunggingkan senyum seolah tidak terjadi apa-apa dengannya. “Nggak apa-apa, kayaknya aku butuh keluarin hormon. Aku ke kamar mandi dulu ya!” pamit Kenzo yang kemudian bergerak untuk turun dari ranjang.
“Mas, walaupun aku masih nifas dan kita nggak mungkin ngelakuinnya, kalau kamu butuh bantuan, tangan aku masih bisa membantu kok!” ungkap Scarlett sambil menahan tangan suaminya agar tidak bergerak meninggalkan kasur mereka.
Dada Kenzo berdebar keras mendengar penuturan istrinya itu. Dia merasa bersalah sudah memiliki pikiran seperti itu di saat kondisi Scarlett yang memang tidak memungkinkah. Namun, Kenzo juga tidak mampu mengontrol pikirannya sendiri yang tiba-tiba inginkan hal itu.
“Kamu, mau ngelakuinnya?” tanya Kenzo tanpa berani memandang sang istri.
“Kamu suamiku. Bukankah hal itu juga tugasku?”
***
__ADS_1
Kembang kopinya jangan lupa 💋