Hasrat Tuan Impoten

Hasrat Tuan Impoten
HTI | Bab 44


__ADS_3

Sheren dan Nathan memang baru menyadari bahwa pertempuran panas mereka ternyata didengar banyak orang. Dengan tetap berusaha tenang seolah tidak terjadi apa-apa, Sheren dan Nathan tetap mengikuti acara tujuh bulanan Scarlett.


Saat Scarlett selesai dimandikan bersama Kenzo, seorang wanita tua menghampiri Nathan dan Sheren. Wanita itu tadi juga turut serta memandikan Kenzo dan Scarlett.


“Lagi hamil?” tanya wanita tua itu sembari memperhatikan raut wajah Sheren.


Mendapat pertanyaan sensitif seperti itu, ingin rasanya Sheren memaki, tapi dia sadar diri bahwa wanita tua itu mungkin tidak bermaksud menyinggung.


“Maaf, Nek. Saya tidak sedang hamil,” jawab Sheren berusaha menahan rasa kesal yang terlanjur menghinggapi.


“Oh, saya pikir lagi hamil. Atau malah sebentar lagi hamil,” balas wanita tua itu. Dia memperhatikan raut muka dan bentuk tubuh Sheren seakan sedang membaca penampilan istri Nathan itu.


Sheren menoleh pada sang suami yang sama-sama bingung dengan ucapan nenek tua itu. Entah sedang menebak, meramal, atau mendoakan. Nathan dan Sheren sama-sama tidak tahu maksud dan tujuan nenek itu.


Sheren hanya membalas dengan senyum sekenanya. Dia sama sekali tidak berpikir jauh bahwa wanita tua itu sedang menebak kehamilannya.


Setelah mengoceh dan senyum-senyum, wanita itu pun pergi. Mama Lita yang sejak tadi hanya memperhatikan, kini memberanikan diri untuk nenanyakan pada Sheren.


“Kamu kenal nenek itu?” tanya Mama Lita setelah sang nenek tua pergi.


Sheren menggeleng pelan dan menjawab, “Enggak, Ma. Mungkin saudaranya Kenzo dari luar kota. Agak aneh bicaranya.”

__ADS_1


“Nggak usah dipikirkan, Sayang. Anggap saja itu doa untuk kita,” sahut Nathan menenangkan Sheren.


Wanita cantik itu mengangguk pasrah. Kemudian, mereka sama-sama masuk ke rumah untuk melanjutkan acara.


Sesuai adat dan tradisi keluarga Kenzo, kedua calon orang tua itu melanjutkan ritual menjual rujak berdua. Nathan pun membeli rujak itu dengan harga yang terbilang fantastis. Namun, saat dia unjuk gigi dengan uangnya, Nathan tidak tahu jika kepala Sheren semakin pusing.


Wanita itu tiba-tiba tidak sadarkan diri setelah mencicipi rujak yang dibeli suaminya itu. Nathan yang masih ada di sampingnya, seketika menggendong Sheren dan membawanya ke tempat yang aman.


Semua orang menjadi panik. Sheren yang mendadak tidak sadarkan diri itu menjadi pusat perhatian. Banyak orang berlalu lalang hendak membantu, termasuk Mama Lita yang panik karena menantunya pingsan.


Saat mencium aroma minyak kayu putih, samar-samar Sheren bisa mendengar orang-orang yang berisik di sekitarnya. Wanita itu perlahan membuka mata dan melihat sang suami yang memasang raut khawatir.


“Kamu sudah sadar?” tanya laki-laki itu yang terlihat gelisah.


“Kamu tiba-tiba pingsan. Kita ke dokter ya, takutnya sakit kepalamu itu makin parah,” usul Nathan yang benar-benar khawatir dengan istrinya.


Sheren mengangguk, lalu wanita itu didampingi suami dan mertuanya ke mobil.


Beberapa orang di sana sibuk menduga-duga apa yang menyebabkan Sheren sampai tidak sadarkan diri.


“Mungkin dia lagi hamil.”

__ADS_1


“Kalau kelihatannya sih kelelahan gara-gara suaminya tadi.”


“Ya ampun ternyata gosip itu benar-benar kejam ya. Padahal suaminya kan bisa buat Sheren menjerit-jerit kayak tadi, kok bisa-bisanya dibilang impoten.”


Kenzo yang tidak sengaja mendengar obrolan para ibu-ibu itu hanya bisa menyuruh mereka untuk berhenti membicarakan orang lain. Dia kini sadar diri, Sheren sudah bahagia dengan suaminya. Bahkan, di tengah terpaan berita buruk itu, mereka tetap bertahan sebagai suami istri untuk saling melengkapi.


Maafkan aku Sheren. Aku tidak tahu jalan cinta kita harus seperti ini. Aku harap kamu akan selalu bahagia bersama suamimu.


***


Di mobil, Sheren dan Nathan sedang berdebat kecil. Sheren yakin kalau dia hanya kelelahan biasa, tidak perlu ke rumah sakit apalagi kalau sampai dirawat nantinya.


“Kita pulang aja deh, aku cuma butuh istirahat aja kok.”


“Nggak bisa, kamu tetap harus diperiksa. Kalau dokter bilang baik-baik saja baru kita pulang,” balas Nathan dengan tegas.


“Jadi kamu lebih percaya sama dokter daripada aku?” tanya Sheren sambil mengerucutkan bibir. Bulu mata lentik itu seakan menahan diri untuk tidak berkedip, karena sekali kedipan saja, maka air matanya akan meleleh.


“Sheren, untuk saat ini kami lebih percaya dokter. Dokter lebih tahu kondisi kamu, jadi menurutlah!” sahut Mama Lita yang kali ini membela putranya.


***

__ADS_1


Kembang kopinya jangan lupa 💋💋


__ADS_2