Hidden Berondong

Hidden Berondong
Dasar bujangan lapuk


__ADS_3

"Kyara, siapa pemuda itu?" kembali pria itu bertanya.


Kyara bingung harus berbicara apa, ia merasa seperti pelaku kejahatan yang sudah tertangkap basah. Jujur saja Kyara bingung hadus menjawab apa? Tidak mungkin bukan jika ia mengatakan jika remaja itu hanya menumpang sarapan di unitnya.


Dirga sendiri menyoroti Kyara dengan tatapan kecewa, bagai mana bisa pria dewasa di hadapannya mengetahui sandi apartemdn istrinya jika pria itu belum pernah ke sini. Itu artinya kemarin Kyara berbohong padanya tentang tidak pernah membawa seorang pria pulang ke rumahnya. Nyatanya pria itu kini tengah meminta jawaban pada Kyara akan siapa dirinya.


"Aiden."


"Dari mana kau tau tempat tinggalku?" Kyara malah menanyakan hal lain dari pada menjawab pertanyaan keponakan Papa sambungnya.


Pertanyaan Kyara membuat hati Dirga sedikit lega.


"Kak Kya. Kak Kya." Suara cempreng Glora dan Freya menyusul ke ruang makan.


"Aku tau alamatmu dari sepupuku." ucap Aiden.


Aiden adalah seorang dokter spesialis bedah di salah satu rumah sakit ternama di negri ini. Kariernya yang mapan juga statusnya yang jelas membuat keluarganya sering kali menjodoh-jodohkan Kyara kepada dokter itu, terutama Mommynya. Padahal Kyara sama sekali tidak tertarik dengan keponakan Papa sambungnya, Kyara sudah menganggap jika Aiden adalah sepupunya jadi ya mau di paksa seperti apapun Kyara masih tak memiliki perasaan yang lebih pada pria itu.


"Aku tau tempat tinggalmu dari si kembar."

__ADS_1


"Dirga. Sedang apa kau di sini?" Freya mendekat kearah pemuda itu.


"Tidak mungkinkan jika Kakakku sangat bermurah hati padamu untuk memberikan kau sarapan." Freya tau watak Kakaknya tidak sebaik hati itu.


Kyara tengah memeras otaknya untuk mencari alasan uang tepat kepada si kembar adik-adiknya adalah anak-anak yang cerdas.


"Kya jangan katakan jika pemuda itu menginap di sini." Aiden menebak itu karna Aiden yakin jika pemuda itu sepertinya baru bangun tidur dan Aiden selalu memiliki feeling yang kuat akan sesuatu.


Kyara mengaruk rambutnya yang tak gatal, ia bingung otak cerdasnya mendadak jadi ngeblur saat ini.


"Tidak, aku tidak menginap di sini. Kebetulan unitku juga ada di lantai ini tadi aku membantu Kak Kya untuk membenarkan kran airnya, jadi saat sudah selesai Kak Kya menawariku sarapan. Dan berhubung aku lapar aku ikut sarapan bersamanya." Meskipun berbohong Dirga terlihat berkata jujur, sehingga sangat meyakinkan. Tapi Aiden tidak gampang mempercaia seseorang.


"Iya, Ai." ujar Kyara kikuk.


"Ku pikir apartemen semewah ini memiliki petugas yang siap siaga bukan malah membuat penghuninya tidak nyaman dengan fasilitas yang rusak." Aiden sangat teliti dalam segala hal sulit baginya untuk bisa mempercayai sesuatu begitu saja.


Dirga merasa kesal akan tatapan Aiden pada Kyara yang terkesan mengintimidasi wanita itu sampai terlihat tak nyaman.


"Sudahlah Kak, Ai. Jangn di permasalahkan lebih baik kita ikut gabung sarapan." Glora ikut duduk dan membuka makanan yang ia bawa dari rumahnya.

__ADS_1


"Tapi aku masih penasaran, jika memang kau membenarkan kran rusak lalu mengapa kau tidak basah." Aiden masih enggan mepercayai alasan Dirga berada di sana.


"Aku habis membenarkan kran, bukan habis berendam hadus basah-basahan. Aku mematikan dulu saluran airnya." ucap Dirga malas. Terserah jika dokter kiler itu tidak mempercayainya.


Aiden malah mencondongkan wajahnya di bagian telinga Aiden.


"Lain kali kau harus mencari alasan yang masuk akal saat berbicara denganku. Jangan coba-coba berencana mendekati calon istriku dasar bocah ingusan." Suara Aiden terdengar berbisik tegas dan penuh akan ancam.


Dirga merasa di rendahakan oleh ucapan dokter tua sok tampan itu. Heh apa katanya tadi calon istri, bahkan wanita yang Aiden maksud adalah istrinya lantas apa hubungannya dengan pria itu mdngatakan ia bocah ingusan.


"Terserah Om, percaya atau tidak. Yang jelas aku di sini atas kemauan nyonya rumah." Dirga tersenyum meledek, dengan kalimat datarnya.


Aiden mengepalkan tinjunya ia merasa terhina akan panggilan pemuda itu pada dirinya Om, terlihat tua sekali pikirnya padahal umirnya baru tiga puluh tujuh tahun.


"Dasar bocah ingusan."


"Dasar bujangan lapuk." Dirga semakin sengaja meledek pria dewasa itu.


"Kau."

__ADS_1


__ADS_2